Membedakan antara apa yang bisa dilakukan dan yang sebaiknya dilakukan adalah tanda suatu kedewasaan. Ya, kita akan mengingat bagaimana orangtua kita memaksa kita menghabiskan makanan yang kita ambil di piring meski kita sudah mengatakan bahwa kita kenyang, dan ayam kita akan dengan gembira menghabiskan sisanya. Tentu saja kita sepakat menyebut orangtua kita adalah rezim opresif, dan sebagai anak yang bertanggungjawab kita menolak makan sama sekali dan langsung pergi tidur tanpa menggosok gigi.

20 Oktober kemarin BEM KM UGM sebagai EKSEKUTIF dari seluruh mahasiswa UGM melakukan aksi, aksi 1000 massa mereka menyebutnya. Meskipun ada di masa ketika kritik terhadap pemerintah dibuka lebar-lebar BEM tetap sekali lagi melakukan demonstrasi menuntut perubahan (menurut definisi fisika demonstrasi ini bukan kerja karena tidak menghasilkan perubahan oleh karena itu disebut aksi, bandingkan saja dengan aksi mendorong tembok).

Sebagai langkah awal protes saya terhadap aksi protes mereka saya menuliskan sedikit pikiran yang intinya bukan mengajak simpanse berenang. Langkah kedua yang saya rencanakan adalah mencetak artikel tersebut, dua saja, dan menempelkannya di samping poster ajakan aksi mereka. Tapi ternyata besoknya saya sakit dan kehilangan keberanian untuk menempelkannya di dinding sekretariat mereka, tapi anda boleh berkata bahwa saya tidak menempelkannya karena saya tidak berani.

Di hari-H, saya akhirnya bersiap-siap untuk meliput aksi mereka. Hasil cetak tulisan juga disiapkan, kamera pinjaman siap meski tanpa baterai. Kostum :kaos coklat dengan wajah Almarhum Prof Koesnadi, celana jeans bolong di lutut kiri, topi coklat KEMBARANS. I’m ready, I’m invincible! Jika BEM ingin menjatuhkan pemerintahan, mereka pun harus jatuh! Tidak, tidak, tidak, tidak seganas itu.

(lebih…)

Iklan

Bukalah situs PKS, anda akan menemukan slogan Bersih, Peduli, Profesional masih digunakan sebagai slogan partai. Untuk mereka yang sudah mengalami pemilu 2004 tentu masih ingat bahwa slogan ini adalah lanjutan dari slogan di masa itu Bersih dan Peduli. Kini ada tambahan kata profesional setelah kata peduli. Sekilas berarti PKS kini menggunakan profesionalitas sebagai jurus ampuhnya menghadapi 2009.

Tapi sepertinya tidak.

Setidaknya saat ini PKS tidak sedang sibuk mencitrakan dirinya sebagai partai profesional. PKS tidak memotret kinerja partai dan orang-orangnya, PKS tidak mengumbar keberhasilan kinerja pemerintah kota Depok, atau berusaha memperkuat penokohan para mentri yang merupakan kadernya. Atau setidaknya sang ketua MPR. Tidak, bukan itu.

Sekarang PKS sebagai partai “Nasionalis Kebangsaan” tidak memperkuat lagi citranya sebagai partai Islam modern. Saat ini PKS sedang melakukan yang dilakukan oleh PAN dan PKB dulu. Mencitrakan dirinya sebagai milik Indonesia, PKS for all. Mereka sedang berteriak seperti itu.

Yang mereka lakukan saat ini adalah menyanjung-nyanjung setinggi tingginya orang-orang yang layak disebut oleh mereka sebagai “guru bangsa” atau “pahlawan.” Entah berapa yang telah dikeluarkan untuk membuat rangkaian sumpah pemuda ini dan ini, juga iklan tentang guru bangsa yang ini. Yup, luar biasa. Selama saya mencermati iklan-iklan politik saat ini baru kali ini saya setuju kerangka nasionalisme yang diberikan. Memberi penghargaan pada pahlawan yang belum diangkat menjadi pahlawan Nasional oleh negara.

Tapi,..

Langkah luar biasa ini menuai badai, yang terlihat adalah dari luar dan mungkin dari dalam. Pertama adalah tentang penggunaan Ahmad Dahlan dan Hasyim Asy’ari. Hal ini mendapat tentangan keras dari NU dan Muhammadiyah yang mengklaim sebagai pemilik kedua tokoh tersebut. Padahal jika (setengah) dicermati seharusnya PDIP juga melayangkan protes serupa. Seharusnya kita menghargai pesan tersuratnya bahwa kedua tokoh tersebut adalah milik bangsa ini!

Badai ini terjadi adalah karena reaksi wajar dari sebuah entitas yang digerogoti entitas lain. Jelas basis massa PKS adalah kadernya, yang merupakan kalangan menengah muslim modern. Tetapi mereka tidak memiliki bentuk organisasi atau wadah lainnya untuk menunjukkan Islam seperti apa yang diwakili oleh mereka. Partai menggambarkan segalanya.

Ketiadaan wadah untuk menunjukkan Islam apa yang mereka wakili menjadikan mereka cukup cair, setidaknya kader di daerah tertentu dapat mengikuti fatwa dari ulama otoritatif yang berbeda dengan kader di daerah lainnya. Tentu saja ada beragam praksi Islam yang bisa diatributkan pada mereka tetapi saya tidak mampun menjelaskannya saat ini di sini (belum pede brur).

Hal ini bermasalah terutama bagi kalangan Muhammadiyah yang dibangun dari basis massa yang amat mirip. Sejak 2003 saya sudah melihat adanya kepindahan teman di sekolah dari yang sebelumnya menggunakan baju putih-biru kemudian menggunakan baju putih-kuning-hitam. Bahkan di saat adem ayem jauh dari pemilu banyak rekan di Yogya yang tenang-tenag saja mengikuti kajian di Muhammadiyah maupun yang diselenggarakan oleh PKS. Untuk kalangan NU saya belum melihat secara langsung, tetapi melihat tampaknya basis NU dan PKS agak jauh berbeda dibandingkan dengan basis Muhammadiyah.

Reaksi paling keras dari Muhammadiyah adalah ketika tahun 2007 lalu mereka mengeluarkan Surat Keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor: 149/Kep/I.0/B/2006 yang melarang anggotanya untuk bergabung dengan PKS. Padahal baru sebulan lalu penulis melihat dengan mata kepala sendiri adanya spanduk yang menggunakan logo Ikatan Remaja Muhammadiyah dan PAN secara bersama-sama. Masalahnya bukanlah menjaga jarak dengan partai politik, tetapi menjaga hubungan dengan partai politik tertentu. Ketegangan-ketegangan konon hadir juga di daerah-daerah.

Untuk masalah dengan Muhammadiyah, gampang saja. Setelah Pemilu 2009 gabungkan saja PAN dan PKS. Setidaknya para “orang-orang tua” di PAN bisa belajar dari PKS yang di tengah perbedaan pendapat bisa tetap satu. Kalau perlu PBB juga ikut. Ini akan menghasilkan suatu Federasi partai Islam modern lagi, seperti dulu ada Masyumi. Menghadapi electoral treshold adalah alasan genting, tetapi membangun partai yang berbasis ideologi kuat amatlah penting. Ketiganya memiliki komunitas yang relatif cukup cair.

Untuk partai-partai berbasis NU, saya tidak bisa memberi usulan. Sejak awal mereka adalah yang pertama memisahkan diri dengan Masyumi. Garis politiknya juga hampir selalu manut dengan pemerintah, sejak zaman kolonial, Jepang, Liberal, Demokrasi Terpimpin, sampai Orde Baru.

Balik lagi ke PKS, ada hal yang mengganggu. Seolah lupa dengan apa yang menjadikan mereka ada, PKS mengagungkan kembali Soeharto. Padahal seharusnya mereka tidak lupa tentang sulitnya hidup di zaman itu. Ketika para ustadz dapat menghilang dengan mudahnya setelah khutbah jum’at. Tapi kehadiran rezim masa itu memang yang membuat ideologi menjadi keras. Hilangnya rezim tersebut mengendurkan militansi kadernya, malah para pemimpinnya ingin berselingkuh dengan rezim lama. Adakah mereka orang pandir yang mengidentifikasi diri dengan penindasnya?

Oke, Soeharto telah berjasa. Jasa apa? Yang ia lakukan ibarat membangun rumah megah dengan menjual sawah keluarga. Orang kebanyakan mungkin tidak merasa di saat itu. Tapi kini? Bahkan racun Orde Baru sejak dulu sudah terasa bagi sebagian orang. Ingat lagu Tikus-tikus kantor? Ingat lagu berita Cuaca? Lagu itu tidak lain adalah cerminan dari keadaan masa itu yang disembunyikan dari rakyat sekalian.

Khusus untuk hal ini, kesetujuan adalah hal yang sulit dilakukan. Jika Soeharto dipuja-puja kembali saat ini. Maka PKS talah mengesampingkan pembangunan rasa kebangsaan demi tujuan jangka pendeknya. dengan kata lain kerangka pencitraan yang dibangunnya hanyalah citra semu.

Anhar Gonggong semalam di TV1 memberikan komentar yang tepat. 15 persen rakyat yang masih dibuai nostalgia Nusantara Lama zaman Orba adalah sumber suara yang luar biasa. Menghadapi electoral treshold, kita harus maklum. Ini realpolitiek bung! Dengan begitu PKS tahun depan jelas, Partai Kebangsaan. Bukan lagi partai Islam.