Membedakan antara apa yang bisa dilakukan dan yang sebaiknya dilakukan adalah tanda suatu kedewasaan. Ya, kita akan mengingat bagaimana orangtua kita memaksa kita menghabiskan makanan yang kita ambil di piring meski kita sudah mengatakan bahwa kita kenyang, dan ayam kita akan dengan gembira menghabiskan sisanya. Tentu saja kita sepakat menyebut orangtua kita adalah rezim opresif, dan sebagai anak yang bertanggungjawab kita menolak makan sama sekali dan langsung pergi tidur tanpa menggosok gigi.

20 Oktober kemarin BEM KM UGM sebagai EKSEKUTIF dari seluruh mahasiswa UGM melakukan aksi, aksi 1000 massa mereka menyebutnya. Meskipun ada di masa ketika kritik terhadap pemerintah dibuka lebar-lebar BEM tetap sekali lagi melakukan demonstrasi menuntut perubahan (menurut definisi fisika demonstrasi ini bukan kerja karena tidak menghasilkan perubahan oleh karena itu disebut aksi, bandingkan saja dengan aksi mendorong tembok).

Sebagai langkah awal protes saya terhadap aksi protes mereka saya menuliskan sedikit pikiran yang intinya bukan mengajak simpanse berenang. Langkah kedua yang saya rencanakan adalah mencetak artikel tersebut, dua saja, dan menempelkannya di samping poster ajakan aksi mereka. Tapi ternyata besoknya saya sakit dan kehilangan keberanian untuk menempelkannya di dinding sekretariat mereka, tapi anda boleh berkata bahwa saya tidak menempelkannya karena saya tidak berani.

Di hari-H, saya akhirnya bersiap-siap untuk meliput aksi mereka. Hasil cetak tulisan juga disiapkan, kamera pinjaman siap meski tanpa baterai. Kostum :kaos coklat dengan wajah Almarhum Prof Koesnadi, celana jeans bolong di lutut kiri, topi coklat KEMBARANS. I’m ready, I’m invincible! Jika BEM ingin menjatuhkan pemerintahan, mereka pun harus jatuh! Tidak, tidak, tidak, tidak seganas itu.

(lebih…)

Unnecessary Law Enforcement, moga-moga istilah baru yang saya bikin ini bisa mengorbit ke kancah dunia. Penegakan Hukum yang tidak perlu, kurang lebih itu kamsud istilah ini.Untuk rekan-rekan sekalian, sudah sepantasnya kita berterimakasih dengan sangat kepada media karena sudah menunjukkan betapa begitunya para penegak hukum kita. Kalau kata orang Jawa sih ngono yo ngono neng ojo ngono…

ini dia daftarnya:

1. Bocah di bawah 10 tahun dihukum karena berjudi koin. Yang benar bung!? Judi koin yang dipraktekkan juga oleh rekan-rekan se-SD saya dihukum penjara? Lihat nilainya, gak ada10 ribu perak. Ini prestasi polisi dan kejaksaan Banten (yang juga ngurusi kasus bu Prita). Padahal cukup jewer kupin anak-anak itu, kembalikan ke orang tuanya. Masalah sebenarnya: menilik tempat penahanan, polsek Bandara Soekarno-Hatta, mereka sebenarnya adalah tukang semir yang kerap kali kucing-kucingan dengan keamanan Bandara. Polisi dan Keamanan Bandara sudah bosan, ditahan sajalah mereka.

2. Mencuri 3 buah Kakao dihukum penjara. Penyelesaiaannya cukup ngadep ke mandor, dimarahin, kembaliin kakao, selesai. Berapa sih nilai 3 buah kakao? Padahal di Lampung kemarin saya malah merobohkan satu pohon. Prestasi Polisi dan Kejaksaan Jawa Tengah.

3. Mencuri 1 buah semangka dihukum penjara. Persis sama dengan di atas. Prestasi Polisi dan Kejaksaan Jawa Timur. Masalah sebenarnya: pemilik kebun semangka memang kecurian dalam jumlah besar atau memiliki musuh. Begitu ada yang mengambil (walau hanya satu) ya hajar saja.

Dalam hal ini perkara-perkara ini tampaknya polisi dan jaksa memang kelihatan kurang kerjaan banget. Atau ada Polisi dan Jaksa yang ngejar setoran jatah kasus yang diselesaikan, jadi daripada ngejar koruptor-koruptor milih ngejar orang-orang yang tidak akan mampu mebayar pengacara mumpuni.

Karena tampaknya hakim Indonesia tidak berkompeten menghakimi, kita juga gak punya harapan lagi. Hakim Indonesia tidak punya kreativitas untuk memberikan hukuman yang “wajar.” Bahkan mungkin mereka hanya mebaca teks hukum saja, tanpa menggali nilai-nilai yang ada di masyarakat. Kasus pertama amat baik jika dikembalikan ke orang tua dan anak-ank tersebut tidak harus ditahan. Kasus kedua dan ketiga jelas menentang norma masyarakat, “di tanah pertanian jika ada yang mengambil hasil tani untuk dimakan sendiri itu bukan kejahatan.”

So, this is our sad farewell for our decency.

Allahu’alam bisshawab.