Hubbud Dunya


Adakah yang ingat?

Waktu lagi rame-ramenya masalah Century… Muncul isu kalo masalah Century nyangkut ke dana kampanye Pak Beye. Langsung muncul isu tentang usaha Impeachment. Pak Beye langsung bertindak! Dia mengumpulkan institusi “penegak hukum,” KPK, kejaksaan, dan kepolisian, untuk berkoordinasi di istana. Ups kelupaan, Mahkamah Konstitusi juga diundang datang.

BAJINGAN!

Lembaga kehakiman adalah lembaga penegak hukum? Salah, lembaga pengadilan adalah lembaga penengah, tugasnya menginterpretasikan hukum dan memberi putusan atas hukum yang dibuat (oleh lembaga legislatif) dan harus ditegakkan (oleh lembaga eksekutif). Dengan kata lain (seharusnya) gak boleh diganggu oleh eksekutif dalam melaksanakan tugasnya.

Jadi menurut ane sih Pak Beye secara terang-terangan telah “mengintervensi” dan menyalahgunakan kekuasaannya.

Tuhan mengutukku dengan ingatan ini.

Fucked up in daily basis, meh. You don’t hve to be infantry to feel that.

Ada sitoes ikoet-ikoet wikileaks di negeri awak? Ya, indoleaks.org jang katanja boeka-boeka archief rahasia poenja gouvernement. Saja berani bilang bahwa documentatie dan archief yang ditulis di sana benar adanja sodara-sodara! Anda boleh koetip archiefnja oentoek toelisan ilmiah anda! Saja berani kata seperti ini tak lain dan tak boekan adalah karena saja sendiri soedah lama tahoe keberadaan archief itoe. Archief-archief itoe soedah lama diboeka (atao terboeka djika statoesnja masih rahasia). Soedah lama dan soedah boekan rahasia.

Membedakan antara apa yang bisa dilakukan dan yang sebaiknya dilakukan adalah tanda suatu kedewasaan. Ya, kita akan mengingat bagaimana orangtua kita memaksa kita menghabiskan makanan yang kita ambil di piring meski kita sudah mengatakan bahwa kita kenyang, dan ayam kita akan dengan gembira menghabiskan sisanya. Tentu saja kita sepakat menyebut orangtua kita adalah rezim opresif, dan sebagai anak yang bertanggungjawab kita menolak makan sama sekali dan langsung pergi tidur tanpa menggosok gigi.

20 Oktober kemarin BEM KM UGM sebagai EKSEKUTIF dari seluruh mahasiswa UGM melakukan aksi, aksi 1000 massa mereka menyebutnya. Meskipun ada di masa ketika kritik terhadap pemerintah dibuka lebar-lebar BEM tetap sekali lagi melakukan demonstrasi menuntut perubahan (menurut definisi fisika demonstrasi ini bukan kerja karena tidak menghasilkan perubahan oleh karena itu disebut aksi, bandingkan saja dengan aksi mendorong tembok).

Sebagai langkah awal protes saya terhadap aksi protes mereka saya menuliskan sedikit pikiran yang intinya bukan mengajak simpanse berenang. Langkah kedua yang saya rencanakan adalah mencetak artikel tersebut, dua saja, dan menempelkannya di samping poster ajakan aksi mereka. Tapi ternyata besoknya saya sakit dan kehilangan keberanian untuk menempelkannya di dinding sekretariat mereka, tapi anda boleh berkata bahwa saya tidak menempelkannya karena saya tidak berani.

Di hari-H, saya akhirnya bersiap-siap untuk meliput aksi mereka. Hasil cetak tulisan juga disiapkan, kamera pinjaman siap meski tanpa baterai. Kostum :kaos coklat dengan wajah Almarhum Prof Koesnadi, celana jeans bolong di lutut kiri, topi coklat KEMBARANS. I’m ready, I’m invincible! Jika BEM ingin menjatuhkan pemerintahan, mereka pun harus jatuh! Tidak, tidak, tidak, tidak seganas itu.

(lebih…)

Sore itu kami di sanggar, datang seorang wanita mengantarkan surat. Surat saya terima, kemudian saya buka. Kepala suratnya BEM KM UGM, ditujukan kepada Ketua UKM Pramuka, perihal undangan, dan kegiatan yang dimaksud diskusi teknis aksi 1000 massa satu tahun pemerintahan SBY. What on Earth?!! Mengundang Pramuka dalam kegiatan temu teknis demo?

Memang sudah semingguan ini di kampus tersebar rencana aksi yang akan dilakukan BEM itu, rencananya dilakukan tanggal 20 oktober besok, detil rencananya tanya anak-anak BEM. Tertarik? Tidak banyak selain keinginan untuk mendokumentasikan lawakan dan keangkuhan yang ada (seperti yang sudah saya lakukan). Yah, daripada menjelaskan bahwa mengajak Pramuka demonstrasi sama bodohnya dengan mengajak simpanse berenang saya lebih memilih membicarakan demonstrasinya.

Ya, demonstrasi adalah satu cara penyampaian pendapat, dan tentunya dijamin oleh UUD pasaln28 E ayat dua dan tiga (yang dulunya merupakan satu-satunya isi pasal 28 konstitusi kita). Adanya menyebutnya pesta dari demokrasi itu sendiri. Suatu kebebasan untuk menyatakan kekecewaan dan kepedihannya terhadap kondisi yang ada, jika semua saluran penyampaian pendapat yang ada sudah tidak berguna. Ya, tentu saja klausa terakhir tidak ada di dalam Undang-Undang, dan tidak perlu dijelaskan. It just make sense, Itu masuk akal, titik.

Mari kita renungkan lagi bagaimana kondisi kita saat ini.

Di masa apa kita saat ini? Masa ketika penyampaian informasi tidak dikendalikan oleh departemen penerangan tetapi oleh para editor surat kabar, produser berita tv, dan beberapa moderator kaskus. Bisakah kita melemparkan kritik tanpa khawatir akan keselamatan kita dan keluarga kita? Kita tidak perlu terlalu khawatir, kecuali pembunuhan beberapa orang seperti di Aceh dan Munir, selama tidak menyentuh hal-hal tabu seperti kemerdekaan papua atau aceh, atau mengungkap masa lalu kelam petinggi TNI, BIN, BAKIN, dijamin anda selamat. Lihat saja, berapa banyak diantara kita yang dengan mudahnya menyatakan bahwa presidan kita tidak banyak berguna, termasuk Kolonel Aji (yang tidak sepantasnya berbicara sebagai kolonel tapi sebagai Aji saja).

Nah, dengan kondisi seperti itu haruskah kita masih melakukan demonstrasi lagi? Melihat konteks demonstrasi besok, isinya adalah kekecewaan terhadap kinerja pemerintahan SBY, tentu kita sudah menyatakannya dimana-mana, berulang kali, tanpa gangguan, dan tidak dibatasi. Lihat saja hasil perang antara pencitraan SBY dan opini publik, SBY yang berpengalaman sukses sebagai perwira di lapangan dan di kantor (baca ini atau ini) kini di cap sebagai Jendral kantoran yang sembunyi di balik meja. Tapi kita tidak mendapat kondisi yang lebih baik khan? Mau tidak mau, kuta harus bertanggung jawab atas keputusan kita memilih (atau membuat dia terpilih lagi dengan tidak memilih). Kita masih harus menikmati 4 tahun kepemimpinannya, jika anda masih menyebutnya kepemimpinan.

Tapi itu hak kita sebagai warga negara seperti diungkapkan dalam UUD! Itu adalah argumen yang sangat jitu. Betul, itu adalah hak anda sebagai warga negara dan saya tidak menggugat keabsahannya. Tapi pantaskah? Lihat saja klub-klub motor, mereka bermotor bersama-sama memenuhi jalanan, tidak ada peraturan yang dilanggar di sini (kecuali beberapa lontaran makian dan mungkin kontak fisik). Tapi mengingat betapa tidak bergunanya aktivitas ini , dan kemungkinan orang terganggu karenanya, pantaskah ini dilakukan? (tidak ada hobi yang harus berguna, esensi hobi adalah ketidakbergunaannya, jika berguna kita menyebutnya “kerja”)

Mempertimbangkan yang dilakukan oleh BEM sebelumnya dan besok, demonstrasi ini tidak lebih dari seperti upaya anak lima tahun yang mencari-cari perhatian. Orang bisa menilai, apakah tangisannya dinilai cukup layak untuk dituruti atau tidak. Mungkin lebih baik tidak dituruti supaya anak ini belajar bertanggung jawab atas keputusannya sebagai bangsa.

Oh ya, jika ingin berdemo besok jangan lupa bahwa BEM secara de facto hanya merepresentasikan sebagian kecil mahasiswa ugm, jadi lebih baik secara moral lebih baik anda berganti nama menjadi BEM UKM (Unit Keluarga Mahasiswa) UGM. Dan jangan lupa untuk kontemplasi sejenak benarkah aksi yang anda lakukan secara moral tepat?

Berikut komentar yang mampir di fb:

(lebih…)

Q: Mengapa gajah pakai pacar merah?

A: Supaya mereka bisa bersembunyi di balik semak2 ceri.

Q: Pernah liat gajah di balik semak2 ceri?

A: (Jawab yang jujur! Gak pernah khan?) Penyamarannya berhasil bukan?

Q: Bagaimana kita tahu gajah pernah masuk ke dalam kulkas?

A: Ada jejaknya di mentega

Q: Kenapa gajah belalainya kuning?

A: Belalainya kena mentega.

Q: Kenapa gajah pakai pacar warna biru, kuning, dan hijau?

A: Supaya mereka bisa ngumpet di kantong Cha-Cha.

Q: Kenapa saya punggungnya bungkuk?

A: Saya mencoba membawa satu bungkus Cha-Cha.

Q: Gimana cara menaruh gajah diatas pohon beringin?

A: Taruh gajahnya diatas biji beringin, tunggu 50 tahun.

Q: Kalo gak punya cukup waktu gimana?

A: Terjunin dari pesawat terbang.

Q: Kenapa gak bleh manjat pohon ba’da maghrib??

A: Karena gajah latihan terjun payung habis maghriban.

Q: Kenapa kaki bebek rata?

A: Buat nginjek semak yang kebakar!

Q: Kenapa gajah kakinya ratat?

A: Buat nginjek bebek gosong!

Q: Kenapa kaki gajah kayak gitu?

A: Supaya pas dengan teratai di kebun raya.

Q: Kenapa gak aman jalan di atas teratai habis ashar?

A: Itu waktunya gajah jalan-jalan di atas teratai.

Q: Kenapa kodok pinter melompat?

A: Supaya mereka bisa jalan-jalan di atas teratai ba’da ashar.

Q: Kenapa banyak gajah dikurung di kebun binatang?

A: Supaya gak jalan-jalan di kebun raya!

Sekian lama saya tak menulis. Keranjingan Kaskus diri saya ini, komen sana-komen sini, hampir jadi junker. Kali ini saya merayakan lagi ciptaan manusia yang bernama bahasa, maka sekali lagi saya menulis singkat saja.

Malu aku jadi orang Indonesia. It judul salah satu puisi Taufik Ismail, pintar ia berkisah melalui puisi. Tapi itu untuk jaman saya masih sd, kini sayapun malu dengan diri saya saat ini. Benar-benar saya sedang mengulang perasaan Taufik Ismail yang malu akan kondisi negri ini ketika menyambangi negri-negri lain.

Teringat aku akan pidato ini yang menggerakkan rakyat:

Kalau kita lapar itu biasa

Kalau kita malu itu juga biasa

Namun kalau kita lapar atau malu itu karena Malaysia, kurang ajar!

Kerahkan pasukan ke Kalimantan hajar cecunguk Malayan itu!

Pukul dan sikat jangan sampai tanah dan udara kita diinjak-injak oleh Malaysian keparat itu

Doakan aku, aku kan berangkat ke medan juang sebagai patriot Bangsa, sebagai martir Bangsa dan sebagai peluru Bangsa yang tak mau diinjak-injak harga dirinya.

Serukan serukan keseluruh pelosok negeri bahwa kita akan bersatu untuk melawan kehinaan ini kita akan membalas perlakuan ini dan kita tunjukkan bahwa kita masih memiliki Gigi yang kuat dan kita juga masih memiliki martabat.

Yoo…ayoo… kita… Ganjang…

Ganjang… Malaysia

Ganjang… Malaysia

Bulatkan tekad

Semangat kita badja

Peluru kita banjak

Njawa kita banjak

Bila perlu satoe-satoe!

Tapi malu aku setelah ingat 590 nyawa, 222 terluka, dan 771 serdadu tertangkap yang dikorbankan untuk tujuan yang amat patut untuk dipertanyakan.

Kini saya malu akan kelakuan orang-orang Indonesia terhadap Malaysia. Setelah berita-berita yang menyesakkan mengenai ditangkapnya petugas Diskanla oleh Malaysia, bermunculan berbagai reaksi. Sekumpulan orang menemui panglima TNI, sekumpulan lainnya melempar tin*a ke kedutaan jiran. Tapi kita justru harus malu!

Mengapa? Kerana tidak lain dan tidak bukan, semua konflik dengan jiran kita ini adalah kerana ketidakmampuan diri kita sendiri untuk mengatur negri yang (katanya) kaya-raya dan diisi oleh orang yang ramah-ramah. Lihat saja kasus-kasus yang terjadi dalam hubungan panas-dingin kita dengan Malaysi pertama adalah masalah Tenaga Kerja Indonesia, kedua masalah pencurian sumberdaya alam, ketiga masalah klaim budaya. Semuanya adalah masalah kita sendiri. Kok bisa? Mari kita runut satu-persatu.

Pertama masalah TKI-TKW. Siapapun pasti merasa direndahkan ketika rekan senegaranya yang membanting tulang ke negri sebrang harus menerima perlakuan kasar dari orang sana. Tapi memang orang-orang negri ini ke sana untuk bekerja… pekerjaan yang warga negara sana sudah tak bersedia melakukannya. Dan menjadi masalah karena pekerja tersebut membanjir tanpa dilengkapi dokumen resmi. Kenapa harus ilegal? Masalah ada di sini yang menjadikan imigrasi lahan korupsi.

Kedua adalah maslah pencurian sumberdaya alam. Untuk soal permasalahan yang ada banyak sekali, tidak satu-dua saja. Sipadan-Ligitan? Kenapa bisa pulau terluar (atau bahasa politisnya pulau terdepan) kita sejak lama digunakan dan didiami oleh warga tetangga? Karena kita tidak merasa memilikinya! Oleh karena itulah mereka memenangkannya di pengadilan dunia. Soal kayu kalimantan? Kayu-kayu tersebut diantar ke Malaysia oleh warga negara Indonesia sendiri yang tidak punya akses ekonomi ke Indonesia! Pejabat Malaysia jelas akan berkata “Maaf, dengan sangat menyesal kami katakan itu adalah masalah anda sendiri.” Lalu dengan masalah perairan? Kita yang tidak punya kepolisian air yang kuat, TNI-AL jelas akan canggung menangani penegakan hukum di laut.

Ketiga adalah masalah budaya. KITA YANG TIDAK MERASA MEMILIKI BUDAYA KITA!!1!1!! Orang Malaysia yang tidak begitu beragam membanggakan keragaman yang mereka miliki, entah warisan portugis, warisan bajak laut makassar, kuli kontrak dari Jawa, budak dari Bali, pedagang dari Minang, sampai kuli kontrak India tamil dan Keling, keturunan Cina mereka memasukkannya sebagai budaya mereka. Makanya gak heran kalo mereka senang dengan lagu Rasa Sayange, tari Pendet, sampai Reog. Hampir semua yang kita miliki mereka dapat melakukannya lebih baik! Rendang ala Malaysia pun lebih terkenal di dunia! Sementara di sini kita justru didominasi oleh budaya Jawa…

Jadi, malu aku jadi orang Indonesia.

Teruntuk mereka yang mentertawakan saudara kita di jiran maupun yang merindu persaudaraan dengan siapapun.

Laman Berikutnya »