cycling


Entah kenapa, Rick Smith menggunakan warna merah untuk Double Cabin. Setelah warna biru untuk tabrak lari, warna perak untuk mobil pasaran, abu-abu untuk ibu-ibu, warna merah untuk arogansi. Liat aja:

Big Gulp

Satu lagi

Dogde!

Kenapa harus Merah? Sepertinya Mitsubishi Strada Triton merah juga pasaran di Amerika sana!!!

Iklan

Goofy things. Ada yang tidak tau kenapa Goofy namanya Goofy? Cek aja link barusan, entar juga ngerti. Yah, dimana-mana makhluk yang bersifat Goofy berkeliaran. Meski pengamatan saya terbatas di Jogja,  kayaknya di Ibukotapun sama saja. Lebih parah mungkin. Sila dibaca satu-persatu:

1. Kerudung “taplak nyangkut.” Asli banyak ada di Jogja. Meski perilaku kerudung taplak nyangkut (masuk sekolah/kuliah berkerudung begitu kelar langsung dilepas) banyak ditemui di kota-kota lain selain Jogja tapi di Jogja kata Taplak Nyangkut memiliki arti harfiah. Di SLTA-SLTA yang mewajibkan kerudung bagi siswanya banyak ditemui kerudung yang dikenakan asal saja. Jika dilihat baik-baik sepertinya jika ada angin sedikit saja kerudung tersebut akan berpindah tangan. Di mana banyak ditemui kerudung macam ini? Paling banyak di SMA-SMK Muhammadiyah. Rupanya bagi mereka kerudung adalah kewajiban yang menyesakkan. Mereka tidak akan dapat tampil cantik dengannya, buat apa merapikan kerudung jika begitu? OK, lepas saja kerudungmu selepas sekolah, jangan mengganggu pemandangan kota dengan kerudung yang asal pakai.

2. Biker: Sport Tourist Wannabe. Motor Honda Mega-Pro (bukan kampanye!), Tiger, atau Yamaha Scorpio, saddlebag (kami pesepeda menyebutnya pannier)  di kanan-kiri-belakang jok, jaket kulit warna hitam, kaca mata hitam, badge/wing macam-macam mak trembel di jaket. Untuk ketemuan tiap rabu malam. Atau kadang untuk perjalanan tak lebih dari 30 km. What’s the point? Tuh saddlebag gak di copot untuk ngantor/kuliah sehari-hari apa gak nyusahin?

3. Demam Sepeda. Nyah-nyah-nyah. Global warming. Hemat BBM. Peduli lingkungan. Who really cares?!? Beli sepeda downhill seharga US$ 2.300 untuk downhill (berangkat dengan naik truk). Sepeda balap crabon freibe untuk muter kompleks. Jangan mimpi untuk nyanyi gini. Dan selebriti pun dilibatkan untuk promosi ini. Silahkan dihitung, berapa wanita yang muncul di halaman belakang Kompas dengan sepeda polygon yang masih benar-benar baru (belum dilepas plastik covernya). Atau acara Neozep Forte yang menampilkan model full lycra tapi tidak tahu cara mengenakan helm? Bahkan species sejenis terakhir dapat ditemui di FEB UGM!

4. Lowrider. Diawali dengan kebangkitan kembali cruiser di Amerika, muncullah sepeda gunung pertama. Tapi kemudian muncul lagi retro style yang menggunakan cruiser dengan aksesori lama seautentik mungkin. Tapi kemudian berkembang terus lagi. Rangka yang digunakan tidak lagi rangka asli yang ditemukan di junkyard tapi sepeda utuh baru dengan gaya cruiser. Bahannya besi hi-ten murahan yang tidak sekuat chromoly aslinya. Dan yang mengerikan muncullah lowrider yang dibuat serendah-rendahnya, ground clearance 100mm terlalu tinggi, wheelbase sepanjang-panjangnya, setang ape hanger lebih tinggi daripada mata… dst. Ok, Fashion hurts! (Catatan, lowrider udah jarang kelihatan. Tapi ada yang baru aja muncul lagi di Jogja : Fixie)

Masih banyak hal goofy lainnya di dunia ini. Yah, menyaksikan mereka kadang menjengkelkan dan menusuk mata. Tapi biarlah, toh kebodohan mereka satu saat dapat kita tertawakan.

Akhirnya, Ta-Bi muncul lagio setelah dibawa oleh Yuslan. Ia ditinggal di Masjid Al Habsyi. Do you know where is it? Tepat di sebelah barat kamar mandi putri gelanggang mahasiswa UGM.

Selagi anda masih di sini saya mengabarkan bahwa saya menemukan produk yang harus diboikot. Sepeda magnesium buatan Israel. Entah karena bahannya adalah salah satu logam termudah karatan atau apa, boikotlah. Meski ada usaha cukup keras untuk mengiklankan sepeda ini.

Di tenfgah pagi menyebalkan (oh ya, apa yang tidak) aku berniat pulang dan *blank* di samping kanan pit Jowo Faaz hanya ada udara.

TaBi hilang?

Sial.

I love the city that never sleep, but I hate it keep me awake.

Yah, itu bukan kata-kata milikku. Itu milik… siapa yah? Cari sendiri di Weekender deh (yes, that edition). Yup, udah semingguan ini di Bogor dan merasakan kembali udara Bogor. “Air Bogor eenaakk!!” kata temanku. Tapi memang airnya saja yang enak. Berhubung teman-teman banyak ygang sudah mencicipi gaji, mereka tidak sungkan mengajak untuk mencicip Batanic Square, nonton XXI, dan ampir di KedaiKita. Untunglah kenyamanan yang didapat dari orang lain tidak membari ide untuk menerima diskon semacam ini.

Salah satu yang dirasakan lagi adalah perilaku warganya. Njelehi kalau kata salah seorang anggota DKD DIY. Ranggapanji bilang di UV pengendara-pengendara di Jakarta buta warna. Mereka tidak tahu bedanya merah-kuning-hijau. Dan tampaknya itu terjadi secara literal. Entah gadis manis pengendara Myo, cowok gahar Sport Cruiser Wannabe, atau kakek-kakek dengan si Pitung. mereka semua tidak tahu arti lampu lalu-lintas!

Yup, they zoom fast just when it’s your turn. Or sometime they just sit there waiting for you to pass. But then you would realize they give you no room to pass. They want you to give your right to pass.

Sebelum saya jadi preachy kayak Yehuda ternyata ada kakek-kakek yang melakukan tindakan tegas. Lebih Cepat, lebih Baik! Dia adalah seorang pensiunan dosen sastra dari negri sabrang sana. Artikelnya dari China News. Para pelanggar memang harus dihukum! Nah saran saya buat sodara-sodara sekalian, bawa batu bata & krikil anda sendiri! Tiap kali ngeliat pengemudi ugal-ugalan & gak peduli orang lain, hajar langsung!

Smash
Smash

Terlihat dari foto itu, kita bisa mencurigai bahwa karir si Kakek di bidang Akademik adalah karena kegagalannya di bidang olah raga, Badminton tepatnya. dan masih ada foto lain yang menunjukkan ia bisa melakukan juga lemparan jarak jauh (terlalu dekat untuk ukuran tolak peluru).

Itu dia si Pendosa, lempar!
Itu dia si Pendosa, lempar!

Nah, jangan bilang si Kakek tidak melakukan peringatan. Ia hanya mengejar para pengemudi ugal-ugalan. Ia pun sudah menempelkan Proklamasi Pejalan kaki di sebuah tiang.

Akhir sudah dekat bagi kalian wahai pendosa jalanan...
“Akhir sudah dekat bagi kalian wahai pendosa jalanan… “

Ingat, moto kita saat ini adalah “Lebih Cepat Lebih Baik!!!” Maka gak ada kata-kata lain bahwa tindakan si Kakek mendapat restu dari pemuda luntang-luntung macam saya.

dari om Ranggapanji
Gambar dari om Ranggapanji, tanggung jawab pemasangan tanggung sendiri

Maka kalian para pengendara sepeda dan pejalan kaki, bekali diri kalian dengan batu bata. Ambil yang bisa kalian kantongi. sekali ada para pendosa itu langsung saja lempar ke arah kendaraan merea yang lebih mereka cintai daripada nyawa orang lain. Siapa tahu anda bisa menjadi seperti si kakek yang namanya merepresentasikan Pemerintah dan kedamaian. Pantas saja dia tidak ditangkap polisi Cina (apalagi Chengqquan, Polisi Pamong Praja, versi sana yg lebih brutal).

Ternyata hingga setahun bersama dengan Tango biru tidak memperbaiki emosi saya. Setelah bisa bersepeda dengan kecepatan normal di dalam kota emosi saya masih bisa naik. Rasa sebal terhadap bis-bis wisata yang mengklakson seenaknya (whose city is this?) menyebabkan padatnya lalu lintas di jalanan kota cukup menggiurkan untuk memacu pedal. Kupaculah pedal, sepanjang jalan UIN-Galleria engan gaya zig-zag kanan-kiri ngelewatin mobil-mobil. (boys and girls never do that, please?)

Huff, buka internet lagi. Baca lagi bikesnobnyc. Emang luar biasa gaya tulisan satir-sinis Amerika. (lebih…)

Menanti impian, merakit sepeda baru. Di rumah sudah berdiam dominate hitam, seatpost hitam, dan XCM V2 putih…

Masih menunggu untuk membeli drivetrain (singlespeed atau 9 speed?), brakeset (mau-gak mau harus cakram), stem, dan dropbar….

Kapan si bastard ini jadi yah?

Laman Berikutnya »