Bibliophile


Sekian lama tidak membuka dan menulis di Blog ini, saya akhirnya menulis lagi. Yah, Sang Zaman sudah menentukan, inilah saatnya gonjang-ganjing dalam hidup saya. Gak segitunya juga sih…

Rasanya ingin mengucapkan terimakasih yang sangat kepada rekan-rekan di Racana yang telah melepaskan saya (dan Aminah) pergi ke Lampung untuk acara Kembaranas. Di sana pertemuan dengan (penegak dan) Pandega se-Indonesia, semoga observasi saya bisa mengembangkan wacana kepramukaan di Yogyakarta. Meski ngurt dada juga sih kalo melihat pemikiran teman-teman Pramuka Perti.

Di minggu-minggu ini kita disuguhi gonjang-ganjing penegakan hukum di Indonesia, mulai dari KPK vs Polri-Kejaksaan, unneccesary law enforcement, sampai mencuatnya kembali masalah Bu Prita. Yah, bapak kita yang terhormat Susilo Bambang Yudhoyono duduk dengan nyaman di kursi tertinggi pemerintahan negeri ini.

Jadi ingin teriak “Ayo kirim uang koin ke Bu Prita!”

Bahasa adalah suatu yang dikonstruksi. Ingatan adalah suatu yang dikonstruksi. Sejarah adalah sesuatu yang dikonstruksi. Dus segala hal yang dijadikan pijakan bagi banyak orang tak lebih dari kabut tebal.

Seperti itulah perasaan ketika pertama kali membaca buku MO Parlindungan, Tuanku Rao. Batak yang dikenal sebagai etnis Kristen bagi orang Jawa menjadi sebuah etnis non-urban yang diperebutkan pengaruhnya oleh kekuatan-kekuatan di masa kolonial.

Sekali-dua kali membaca halaman-halaman buku ini tidak cukup untuk sepenuhnya memahami bahasa yang digunakan oleh penulisnya. Jika dibayangkan serasa mendengarkan seorang Kakek yang masih kental bahasa Belandanya tetapi ingin berbahasa Inggris. Tidak lupa pula ia membubuhkan istilah-istilah Latin atau Perancis.

Yang harus diapresiasi bukanlah tuturan cerita mengenai Tuanku Rao saja. Separuh dari buku ini adalah kronik-kronik yang terkait dengan cerita Tuanku Rao. Mulai dari Kronik mengenai Islam, Batak, hingga silsilah. Sebuah karya sejarah, menurut penulisnya.

Penulis menjabarkan kepahlawanan Tuanku Rao, seorang keturunan Singamangaraja VII, yang menjadi salah satu panglima dalam perang Padri. Di dalamnya ia juga menguraikan kekejaman Tuanku Lelo. Dengan bahasa luar biasa tentunya.

Dalam buku ini terlihat bagaimana etnis-etnis di ujung utara sumatra saling berkaitan. Antara Minangkabau, Aceh, dan Batak (yang terdiri dari berbagai sub etnis) saling merantau untuk melangsungkan hidupnya.

Tapi beberapa kali dalam buku ini Parlindungan menyebut Minangkabau tidak berpegang pada fakta yang kuat. Sejarah Minangkabau tidaklah menunjukkan kejadian yang pasti, hanyalah berdasarkan pada dongengan saja.

Buku ini memotret luka dua etnis yang berada di dua sisi pulau Sumatra ini. Buku ini juga menyebut banyak yang yang seharusnya, jika dikaji lagi, menjadi bahan untuk membangun narasi sejarah Indonesia.

Buku ini seharusnya adalah hadiah bagi para posmodernis dan sejarawan. Sayang kebangkitannya kembali terlambat selama dua dekade. Jika saja buku ini dibahas dua puluh tahun lalu, dalam kerangka metodologis. Kira-kira seberapa seru perdebatan yang terjadi?

Ternyata hingga setahun bersama dengan Tango biru tidak memperbaiki emosi saya. Setelah bisa bersepeda dengan kecepatan normal di dalam kota emosi saya masih bisa naik. Rasa sebal terhadap bis-bis wisata yang mengklakson seenaknya (whose city is this?) menyebabkan padatnya lalu lintas di jalanan kota cukup menggiurkan untuk memacu pedal. Kupaculah pedal, sepanjang jalan UIN-Galleria engan gaya zig-zag kanan-kiri ngelewatin mobil-mobil. (boys and girls never do that, please?)

Huff, buka internet lagi. Baca lagi bikesnobnyc. Emang luar biasa gaya tulisan satir-sinis Amerika. (lebih…)

Diawali malam yang agak aneh di bulan Desember. Nyangkut, ketemu Mas Jay di Galeria pas lagi ada diskon buku. Pas banget lagi nyari buku untuk kado ultah Kak Yunus. Untuk Kak Yunus kuberikan saj buku yang sudah terkenal bagus, “The Hobbit.” Tapi mata ini tergerak untuk belanja lagi. Akhirnya kupilih “chicken with plum” dari Marjane Satrapi, setelah menyingkirkan Laika.

Saat itu saya betul-betul tidak kenal siapa itu Satrapi. Padahal cara termudah menilai buku adalah dengan melihat siapa pengarangnya. Tapi karena mas Jay datang untuk mencari buku tersebut pelan-pelan terpedaya juga diri ini oleh rayuan penerbit.

Yah, ceritanya adalah akhir hidup Nasser Ali Khan seorang musisi tar (alat musik petik khas Iran)  yang tiba-tiba memutuskan untuk mati saja. Mengapa? Karena hidupnya sudah patah bersama dengan tar-nya. Beberapa waktu setelah tidak dapat menemukan pengganti tar-nya ia memutuskan menunggu saja ajalnya

Kisah masa lalu dan masa depan Nasser Ali Khan berkelaebat dituturkan oleh Satrapi dari sudut pandang orang ketiga. Dunia esoterik para darwis yang menghiasi hidup Nasser Ali tidak tergambar seperti pengalaman mistis murahan para dukun televisi Indonesia.

Sebenarnya setelah saya baca terasa sebagai plot patah hati yang “umum.” (ups, sorry) Tapi ia memberi pelajaran tentang cinta, kata blog ini. Ah, untuk kalian yang belum membaca buku ini, cinta ternyata bisa diikat dan dijinakkan. Tapi akankah ia menyakitkan lagi seperti kerbau yang sudah hilang cocok hidungnya?

Buku yang ringan, ada yang bilang begitu. Begitupun temanku menyebut ceritanya aneh. Tapi kubilang saja, “Tidak terlalu aneh. Manusia saja yang kadang tidak mengakui bahwa dirinya bisa seperti itu.” Tapi mungkin ia menyebut buku ini aneh karena dunia esoteris yang diceritakan oleh Satrapi.

PS: lagi mellow makanya inget buku ini (memang, ada yg nyebut aku “ikhwan mellow”)