Sekian lama saya tak menulis. Keranjingan Kaskus diri saya ini, komen sana-komen sini, hampir jadi junker. Kali ini saya merayakan lagi ciptaan manusia yang bernama bahasa, maka sekali lagi saya menulis singkat saja.

Malu aku jadi orang Indonesia. It judul salah satu puisi Taufik Ismail, pintar ia berkisah melalui puisi. Tapi itu untuk jaman saya masih sd, kini sayapun malu dengan diri saya saat ini. Benar-benar saya sedang mengulang perasaan Taufik Ismail yang malu akan kondisi negri ini ketika menyambangi negri-negri lain.

Teringat aku akan pidato ini yang menggerakkan rakyat:

Kalau kita lapar itu biasa

Kalau kita malu itu juga biasa

Namun kalau kita lapar atau malu itu karena Malaysia, kurang ajar!

Kerahkan pasukan ke Kalimantan hajar cecunguk Malayan itu!

Pukul dan sikat jangan sampai tanah dan udara kita diinjak-injak oleh Malaysian keparat itu

Doakan aku, aku kan berangkat ke medan juang sebagai patriot Bangsa, sebagai martir Bangsa dan sebagai peluru Bangsa yang tak mau diinjak-injak harga dirinya.

Serukan serukan keseluruh pelosok negeri bahwa kita akan bersatu untuk melawan kehinaan ini kita akan membalas perlakuan ini dan kita tunjukkan bahwa kita masih memiliki Gigi yang kuat dan kita juga masih memiliki martabat.

Yoo…ayoo… kita… Ganjang…

Ganjang… Malaysia

Ganjang… Malaysia

Bulatkan tekad

Semangat kita badja

Peluru kita banjak

Njawa kita banjak

Bila perlu satoe-satoe!

Tapi malu aku setelah ingat 590 nyawa, 222 terluka, dan 771 serdadu tertangkap yang dikorbankan untuk tujuan yang amat patut untuk dipertanyakan.

Kini saya malu akan kelakuan orang-orang Indonesia terhadap Malaysia. Setelah berita-berita yang menyesakkan mengenai ditangkapnya petugas Diskanla oleh Malaysia, bermunculan berbagai reaksi. Sekumpulan orang menemui panglima TNI, sekumpulan lainnya melempar tin*a ke kedutaan jiran. Tapi kita justru harus malu!

Mengapa? Kerana tidak lain dan tidak bukan, semua konflik dengan jiran kita ini adalah kerana ketidakmampuan diri kita sendiri untuk mengatur negri yang (katanya) kaya-raya dan diisi oleh orang yang ramah-ramah. Lihat saja kasus-kasus yang terjadi dalam hubungan panas-dingin kita dengan Malaysi pertama adalah masalah Tenaga Kerja Indonesia, kedua masalah pencurian sumberdaya alam, ketiga masalah klaim budaya. Semuanya adalah masalah kita sendiri. Kok bisa? Mari kita runut satu-persatu.

Pertama masalah TKI-TKW. Siapapun pasti merasa direndahkan ketika rekan senegaranya yang membanting tulang ke negri sebrang harus menerima perlakuan kasar dari orang sana. Tapi memang orang-orang negri ini ke sana untuk bekerja… pekerjaan yang warga negara sana sudah tak bersedia melakukannya. Dan menjadi masalah karena pekerja tersebut membanjir tanpa dilengkapi dokumen resmi. Kenapa harus ilegal? Masalah ada di sini yang menjadikan imigrasi lahan korupsi.

Kedua adalah maslah pencurian sumberdaya alam. Untuk soal permasalahan yang ada banyak sekali, tidak satu-dua saja. Sipadan-Ligitan? Kenapa bisa pulau terluar (atau bahasa politisnya pulau terdepan) kita sejak lama digunakan dan didiami oleh warga tetangga? Karena kita tidak merasa memilikinya! Oleh karena itulah mereka memenangkannya di pengadilan dunia. Soal kayu kalimantan? Kayu-kayu tersebut diantar ke Malaysia oleh warga negara Indonesia sendiri yang tidak punya akses ekonomi ke Indonesia! Pejabat Malaysia jelas akan berkata “Maaf, dengan sangat menyesal kami katakan itu adalah masalah anda sendiri.” Lalu dengan masalah perairan? Kita yang tidak punya kepolisian air yang kuat, TNI-AL jelas akan canggung menangani penegakan hukum di laut.

Ketiga adalah masalah budaya. KITA YANG TIDAK MERASA MEMILIKI BUDAYA KITA!!1!1!! Orang Malaysia yang tidak begitu beragam membanggakan keragaman yang mereka miliki, entah warisan portugis, warisan bajak laut makassar, kuli kontrak dari Jawa, budak dari Bali, pedagang dari Minang, sampai kuli kontrak India tamil dan Keling, keturunan Cina mereka memasukkannya sebagai budaya mereka. Makanya gak heran kalo mereka senang dengan lagu Rasa Sayange, tari Pendet, sampai Reog. Hampir semua yang kita miliki mereka dapat melakukannya lebih baik! Rendang ala Malaysia pun lebih terkenal di dunia! Sementara di sini kita justru didominasi oleh budaya Jawa…

Jadi, malu aku jadi orang Indonesia.

Teruntuk mereka yang mentertawakan saudara kita di jiran maupun yang merindu persaudaraan dengan siapapun.

Iklan