Di saat kita merasa dalam bahaya kita akan menengok kepada seorang pemimpin, kita serahkan diri kita dan kebebasan kita agar ia bisa bebas membawa kita keluar dari bahaya. Ia mendiktekan perintah, kemudian kita mentaati, oleh karena itulah ia disebut diktator. Tetapi pengalaman menunjukkan, ketika dalam bahaya itulah sebaiknya justru kita mempertahankan kebebasan kita sebaik-baiknya.

Baru saja Jum’at (14/05) lalu terjadi lagi penangkapan kelompok teroris di Solo, hingga total sudah 72 orang yang terkait jaringan terorisme tertangkap. KOMPAS esoknya menyajikan headline berjudul Tak Akan Ada UU Model ISA. Ya, UU Pemberantasan Terorisme akan dikaji ulang, tapi Djoko Suyanto menyatakan tidak akan seperti ISA yang diterapkan di Malaysia dan Singapura.1

Tapi jika katanya bahasa ada untuk berbohong maka kita bisa katakan yang dimaksudkan mentri pertahanan kita adalah ia ingin menerapkan UU semacam Internal Security Act (Malaysia dan Singapura) atau PATRIOT Act (Amerika Serikat). Sudah terasa sejak lama bahwa kalangan intelejen, polisi, dan yang ikut-ikutan angkatan bersenjata menginginkan kewenangan untuk menangkap dan bahkan mengeksekusi target dengan lebih mudah.

Allan Nairn menuduh Kopassus melakukan pembunuhan terhadap aktivis GAM/Partai Aceh, tapi tidak ada penjelasan memadai dari perwira TNI yang memastikan bahwa fakta-fakta yang diungkapkan dalam artikel Nairn lemah. Tentu saja perwira TNI menyebut Nairn memiliki motif tertentu.2 Kewenangan untuk melakukan pembunuhan semacam ini (jika memang pembunuhan ini dilakukan Kopasssus), atau penculikan yang dulu dilakukan oleh Tim Mawar Kopassus adalah kewenangan yang diinginkan oleh ketiga lembaga negara tersebut.

Pagi ini di TV One Mardigu WP3, mengomentari beredarnya rekaman yang disebut sebagai suara Noordin M Top, menyebut bahwa penghapusan UU Subversi menyebabkan para teroris dengan mudahnya menggunakan media untuk menyebarkan ide-ide dan propagandanya. Selanjutnya ia membandingkan penyebaran propaganda tersebut dengan Hitler. Simplifikasi dan pengulangan yang menanamkan kepercayaan.

OK, karena yang menyatakan ini adalah seorang ahli hipnosis tentu saja saya percaya bahwa Hitler (dan Goebbels) bisa menyihir audiens dan membuat mereka menelan mentah-mentah propagandanya. Tapi pernyataanya membuat saya curiga bahwa dia adalah agen BIN. Pernyataannya menunjukkan bahwa ia tidak percaya bahwa warga negara Indonesia yang terpelajar dapat memberikan segenap pemikirannya sebaik-baiknya untuk bangsanya.

Saya tidak sepakat dengan pernyataan anda, tapi saya akan membela mati-matian hak anda untuk berkata demikian.

Kenapa begitu? Karena tentu saja semua yang dulu dianggap subversif di zaman orde baru 80%4 adalah penentangan terhadap pemegang kekuasaan, bukan penentangan terhadap negara! Hampir semua tindakan yang disebut subversif adalah ekspresi kecintaan terhadap negri sendiri! Pembakar foto Suharto? Nasionalis. Menyanyikan Indonesia Raya di kamar mandi? Cinta tanah air. Golput? Berpartisipasi terhadap pemilu sesuai dengan penyelenggaraan pemilihan. UU Subeversi hanya digunakan oleh para pemimpin yang merasa takut pada rakyatnya.

Malahan, justru seperti yang dicontohkan oleh Mardigu, oleh negaralah simplifikasi dan pengulangan pesan itu dilakukan. Jerman di bawah NAZI menyebarkan propagandanya, berita bohong dan terdistorsi mengenai komunis, Yahudi, dan negara tetangga disebarkan untuk menggalang kesatuan masyarakat. Tidak pernah kalangan teroris seberhasil itu menyebarkan propagandanya.

Jika Mardigu (dan orang yang sependapat) paham, bukan UU subversi yang diperlukan oleh kita. Yang kita butuhkan adalah UU tentang penyebaran berita bohong dan penyebaran kebencian. (Sudahkah kita memilikinya?) Karena tentu saja yang disiarkan oleh para teroris adalah kebencian dan kekerasan, dan sangat mungkin berita bohong.

Kemarin SBY menyatakan lagi bahwa kita harus bersatu menghadapi terorisme. Tetapi tentu saja Presiden kita ini antara tindakan dan perkataan sangat membingungkan kita Ketika ia menyetakan perang terhadap terorisme, bawahannya (melalui mentri hukum & HAM) memberikan pengurangan hukuman terhadap terpidana terorisme. Sesuai prosedur? Ya. Sesuai ketentuan? Ya.5 Sesuai akal sehat? Sama sekali tidak! Benarkah SBY serius memerangi terorisme?

Yah, saya sudah cukup melihat keseriusan bapak-bapak sekalian. Anda sudah melakukan kerja hebat menangkapi para teroris, sekarang jangan mengusik kebebasan saya!

George Orwell menggambrkan dalam bukunya bahwa di dunia ini para penguasa selalu memerangi sesuatu, entah yang diperangi nyata atau tidak, entah perangnya nyata atau tidak. Masyarakat kita ada dalam kepandiran. Perang itu dilakukan bukan untuk menghapus lawan melainkan agar kita tetap tunduk.

1Tak Akan Ada UU Model ISA. Kompas 15 Mei 2010, Halaman 15

2Motif Nairn tentu saja adalah kemana uang pajak yang ia bayarkan pergi. Ayolah, para perwira kopassus harusnya lebih santun pada orang yang sebenarnya majikan dari pemberi hutang mereka (pemerintah AS).

3Siapa sih dia? Coba lihat halaman Fb-nya, ahli terapi hipnosis?

4Yah gak ada datanya, tapi memang begitu kan?

5KOMPAS 18 Mei 2010 halaman 15

Iklan