Minggu pagi. Selepas upacara Hari Pendidikan Nasional dan berfoto dengan rektor kami duduk-duduk di Balairung. Sang rektor dan para pimpinan universitas tak beranjak di Balairung sementara kami lesehan sambil menikmati makan pagi ayam bakar Code. Tak lama setelah satu persatu petinggi kampus meninggalkan Balairung tiba-tiba datang Tamtama-tamtama berbaret hitam.

Sudah sekian lama sejak mereka yang berseragam datang dengan rasa permusuhan. Sangat lama sampai aroma wajah sombong mereka yang datang tidak terasa penting untuk ditanggapi. Sebagai sesama pengguna uang rakyat hasil pajak (mahasiswa PTN belum sepenuhnya bebas subsidi kan?) tentu saja saya tidak merasa berbeda dengan mereka. Di balik wajah angkuhnya sebenarnya mereka sedang bingung mencari tempat untuk menunggu sesuatu.

Melihat ke lapangan sudah terparkir truk TNI-AD, L-200, dan mobil untuk perwiranya. Juga ada Polwan-polwan (ehm). Untunglah Pak Sentot datang menengok kami yang sedang beristirahat. Bertanyalah saya padanya, “Pak siapa tamu yang mau datang?” Rupanya Wakil Presiden Indonesia kita akan datang, menengok kampusnya di salah satu hajatan rutin (tiap 2 Mei selalu ada upacara plus kadang ada pertemuan Senat Akademik) ‘rumahnya.’

Eh, ada pria dengan bercelana coklat tua dengan rompi loreng bersenjatakan senapan otomatis (melihat magasinnya yang kecil sepertinya SMG, laras bersilencer) naik ke atas, ke arah kantor rektor. Bowo bilang ia mengenakan brevet sniper.

“Oh apa yang akan kau lakukan pada rektor kami?” Eh, dia turun lagi. Oh, Wakil Presiden kita Budiono… Pria yang menangguk tenar atas kasus Century (ada yang masih ingat?) Pria yang mmberikan kesaksian sumir tentang peranannya dalam pengambilan keputusan mengenai Bank Century… oh.. Oh Wakil Presidenku… (Salah sendiri gak ikut milih waktu Pemilu!) Ok, akankah BEM demo di sini?

Obrolan segera saja beralih ke sana. Tidak ada yang memberi jawaban pasti mengenai hal itu. BEM yang tidak dihormati oleh mayoritas rakyatnya (ini bukan pencemaran nama baik, hanya penilaian pribadi), tindakan apa yang akan dilakukannya? Menghujat bapak sendiri?

Waktu berlalu dan benar saja, sore ini setelah panasnya Jogja diredakan oleh hujan sekumpulan orang berkumpul di bunderan UGM.

“When I get older, I will be stronger, They’ll call me freedom, just like a Waving Flag, And then it goes back, and then it goes back, And then it goes back”

So what’s up Bro? You were left without your dignity? Sebagaimana selalu dilakukan oleh mereka yang menyebut dirinya BEM, mereka merayakan 2 mei dengan cara mengibarkan bendera, berteriak, dan berkumpul di jalan. Tapi Satuan Keamanan Keindahan Ketentraman dan ketertiban Kampus cukup percaya diri untuk hanya meninggalkan dua personil yang memandang mereka dengan pandangan lucu. Aah, andai saja mereka melakukan hal yang lebih “terhormat” dan produktif seperti menempatkan seseorang mewakili 40 ribu mahasiswa di Majelis Wali Amanat pasti pesannya sampai langsung ke telinga Budiono. Andai…

Iklan