Baca Kompas Selasa, tentang artikel Allan Nairn. Memang yang namanya TNI (AD) gak mau ngelepas politik. Buat apa sih mereka melakukan operasi intelejen? Buat apa punya BAIS? Negara sudah punya BIN, bubarkan BAIS, Komando Teritiorial, dan Sandhi Yudha Kopassus.  (waduh kudu nyiapin wasiat juga ngomong gini) Iseng dikit nerjemahin, monggo dibaca.

Menurut pejabat tinggi pemerintah dan kepolisian dan detail dari file pemerintah, TNI yang dibekingi AS, saat ini akan mendapat bantuan baru, melakukan beberapa pembunuhan terhadap aktivis sipil pada tahun 2009.

Pembunuhan ini adalah bagian dari program rahasia pemerintah, diperintahkan dari Jakarta, dan dikoordinasikan sebagian oleh Jendral pasukan khusus, dilatih AS, yang berdinas aktif yang baru saja menyatakan keterlibatan orang TNI dalam pembunuhan tersebut.

Berita ini hadir bersamaan dengan niat Presiden AS Barack Obama bahwa ia akan mencabut kebijakan AS – disahkan oleh Kongres sebagai respon tekanan masyarakat – untuk membatasi asistensi AS terhadap TNI, yang di masa pelatihan oleh AS telah membunuh ratusan ribu warga sipil.

Terkuaknya hal ini akan menjadi problem bagi Obama karena alasannya untuk memberi bantuan adalah klaim bahwa TNI tidak lagi melakukan pembunuhan terhadap warga sipil. Sekretaris Negara Hilarry Clinton menyatakan kepada Kongres bahwa masalahnya adalah apakah terdapat kelanjutan kekejaman, tatapi, faktanya mereka tidak berhenti: TNI masih melakukan pembunuhan politik.

Seorang pejabat senior pemerintah yang kerap bertemu dengan komandan tinggi dan Presiden RI mengatakan bahwa pembunuhan tersebut diperintahkan oleh “petinggi di Jakarta.” Ia memberi detail beberapa aspek pembunuhan tersebut, termasuk nama korban, metode, dan beberapa pelaku.

Detail yang dikutip darinya telah diverifikasi oleh beberapa pejabat, termasuk anggota senior POLRI. Beberapa juga diverifikasi oleh Jendral Kopassus yang membantu dilaksanakannya pembunuhan.

Pejabat senior tersebut berbicara karena ia tidak setuju dengan pembunuhan tersebut. Ia menolah disebut namanya karena takut akan posisi dan keamanan pribadinya.

Detail yang terverifikasi diketahui terkait dengan pembunuhan beruntun dan pengeboman di Ace – di ujung barat Indonesia – dimana pemilihan lokal dilakukan dan diikuti oleh Partai Aceh (PA) yang merupakan kelanjutan dari GAM.

Setidaknya delapan aktivis PA telah dibunuh menjelang dilaksanakannya pemilu April. Pembunuhan ini, menurut pejabat yang mengetahui program ini adalah usaha untuk mendisorientasi pendukung PA dan menekan partai untuk tidak meminta kemerdekaan, sebuah tindakan terlarang, tidak hanya di Aceh tetapi seluruh Indonesia atas larangan Presiden SBY.

Salah satu aktivis PA, Tumijan, usia 35, seorang pekerja kelapa sawit dari Nagan Raya telah diculik dan ditemukan dua hari kemudian di sebuah saluran pembuangan. Lehernya terpotong, tubuhnya termutilasi, dan terikat oleh kabel listrik ditemukan di dekat sebuah pos tentara. Keluarganya menyalahkan aparat keamanan, dan sebagaimana sering terjadi mulai menerima ancaman pembunuhan.

Aktivis PA lainnya, Dedi Novandi yang dikenal juga sebagi Abu Karim , usia 33, duduk di mobilnya dengan kaca jendela pecah ketika seseorang datang dengan pistol dan menempatkan dua peluru di kepalanya.

Pejabat POLRI dengan pengetahuan mendetail mengenai pembunuhan tersebut menyebutnya pembunuhan profesional, menempatkan penjaga dan pengintaian terhadap pergerakan Abu Karim.

Beberapa jam sebelum hal itu terjadi, Abu Karim baru saja duduk bersama anggota delegasi Bank Dunia dan menyatakan kekhawatirannya terhadap pembunuhan terhadap orang-orang PA dan pembakaran dan serangan granat terhadap kantor PA.

Segera setelahnya, BBC datang ke lokasi pembunuhan Abu Karim. Koresponden BBC, Lucy Williamson mengutip tetangga dengan berkata bahwa ia berpikir “aneh, polisi belum menemukan orang yang melakukan pembunuhan. ‘Mungkin itu karena tidak ada saksi’ dan saya kira itu aneh karena tidak ada saksi tapi apa yang bisa saya bilang? ‘Semua orang bilang mereka tidak melihat apa-apa.’”

“Di dalam rumah” lanjut Williamson, “Istri Abu Karrim, Cut Dede, amat khawati terhadap anaknya yang berusia empat tahun. Seperti orang-orang di sini ia tidak ragu bahwa ini adalah pembunuhan politik.”

Faktanya, menurut pejabat senior dan beberapa yang mengkonfirmasi pernyataannya, pembunuhan Tumijan dan Abu Karim adalah bagian dari program pembunuhan TNI yang dikoordinasi di tingkat provinsi pada waktu itu oleh Jendral Sunarko, PANGDAM Aceh.

Sunarko telah dikirim ke Aceh oleh Presiden SBY, setelah menjadi komandan Kopassus, sebelumnya ia menjadi Kepala Staf Kostrad yang beroprasi sepanjang Nusantara dan berkas di dekat istana.

Sunarko telah promosikan ke psosisi kunci ini setelah mengurusi milisi di Timor. Ia adalah kepala intelejen Kopassus pada teror TNI 1999, operasi yang menyertakan pembakaran massal dan pembunuhan dan diluncurkan pada saas Timor Timur bersiap – dan akhirnya mereka lakukan – untuk memilih kemerdekaannya.

Pembunuhan PA 2009 terjadi di sepanjang Aceh. Pembunuhan Abukarim, di Bireuen, disebut-sebut dilakukan oleh Letkol R Suharto, komandan TNI lokal, emnggunakan pasukan yang dibantu oleh milisi sipil yang sebelumnya disponsori TNI, FORKAB dan PETA.

Letkol Suharto telah lama bekerja dengan BAIS TNI, yang memegang peran kunci dalam pembunuhan ini dan lainnya di Indonesia, dan terkenal untuk pembunuhan dan penyiksaan di Timor dan Papua.

Ketika saya menanyakan pejabat POLRI mengenai Letkol Suharto dan pembunuhan Abu Karim mereka menjadi gugup seperti masyarakat yang diwawancarai oleh BBC.

Mereka enggan mendikusikan perannya, kecuali secara pribadi. Ketika kemudian direkam dan saya bertanya mengenai Letkol Suharto telah menjalankan pembunuhan Abu Karim dan lainnya, dan ditanya lebih lanjut apaklah ia termasuk yang menjalankan operasi rahasia ia tidak menyangkal apapun tetapi berkata “saya tidak dapat berkomentar dalam hal itu. Dan kemudian menyatakan namanya tidak bisa disebut, bahkan untuk pernyataan tersebut.

Pada Jum’at, sekitar 22:30 WIB saya menghubungi ponsel Letkol Suharto.

Tidak ada jawaban maka saya mengirim sms dan ia menjawab sms dengan bertanya siapakah saya. Saya menjawab dan kami saling berkirim sms yang berlangsung hingga tengah malam. Saya berusaha menelpon tetapi ia hanya membiarkan panggilan saya.

Daari sms Letkol Suharto menanyakan dimana saya dan bagaimana mendapatkan nomornya. Ia bertanya mengapa saya ingin berdiskusi dengannya. Saya menjawab untuk memperbincangkan pembunuhan aktivis PA, termasuk Abu Karim. Ia menjawab bahwa itu adalah urusan polisi. Saya bertanya apakan TNI melakukan pembunuhan. Ia menjawab tidak, kemudian saya tanya “jadi anda tahu siapa pembunuhnya?” Ia menjawab tidak tahu, kemudian saya bertanya “Jadi bagaimana anda tahu TNI tidak terlibat?”

Hingga saat itu Letkol Suharto menutup sambungan telponnya. Saya mencoba menelppn tetapi mendapat jawaban rekaman. Saya kirim sms menanyakan apakah ia “terlibat dalam pembunuhan Abu Karim dan aktivis PA lainnya. SMS tersebut terkirim, tetapi hingga tulisan ini dibuat ia tidak menjawab.

Anggota milisi menyatakan bahwa orang-orang Letkol Suharto juga membakar dan melempar granat ke kantor PA.

Tapi tampaknya semua ini hanya satu bagian kecil operasi ini.
Di Nagan Raya, pembunuhan Tum,ijan dilakukan oleh tim TNI lainnya, juga bekerja di bawah Jend. Sunarko. Ini menurut beberapa pejabat, termasuk dari POLRI, dan sebagian menurut Jend. Sunarko sendiri.

Dalam pembunuhan Tumijan bukti tidak hanya termasuk pernyataan pejabat dalam tetapi rangkaian kompleks aksi-aksi termasuk penahanan tertutup beberapa pembunuh tingkat rendah yang menjadi bawahan Jend. Sunarko.

Pejabat senior Indonesia yang pertama berbicara mengenai program pembunuhan menyatakan bahwa Tumijan telah diambil dan dihabisi oleh sekelompok Kopassus muda dan prajurit lain yang, sebagaimana dalam kasus Abu Karim, juga menggunakan warga sipil dari milisi lama TNI.

Ia memberi nama beberapa diantara mereka, Kapten Wahyu dan Oktavianus, dan milisi sipil Muhyari, Supardi, Kadir, Herwan, M.Yasin, Suprayogi, Tahmid, dan Suparno.
Ia kemudian membuat pernyataan penting bahwa meski orang luar belum juga mengetahui hal ini, pembunuh Tumijan telah ditahan secara rahasia selama beberapa bulan sebagai bagian dari kesepakatan sensitif antara POLRI, TNI, dan pejabat yang secara tidak terduga mengetahui beberapa aspek program pembunuhan TNI yang masih rahasia.

POLRI, katanya, telah sepakat untuk menahan milisi, polisi militer menangani dua prajurit, dan pejabat yang mengetahuinya sepakat tidak memperbincangkannya secara publik, sebagaimana POLRI yang tidak pernah mengumumkan penahanan atau menuntut orang-orang tersebut.

Lebih penting lagi, penahanan ini terbatas pada pelaku operasi salah satu pembunuhan. Perwira senior sama sekali tidak tersentuh untuk melanjutkan operasi ini.

Pejabat POLRI yang saya temui mengkonfirmasi keterlibatan perwira senior. Tatapi mereka menyebutnya dengan keengganan yang jelas. Mereka menunjukkan bahwa mereka tidak memiliki niat untuk mengejar “petinggi di Jakarta,” atau Jend. Sunarko, – atau bahkan LtKol Suharto yang hanay komandan lokal.

POLRI juga membunuh dan menyiksa masyarakat sipil, dan membuat satuan tugas bersama TNI, tetapi mereka adalah lembaga yang bersaing, berebut dana, kekuasaan, dan juga perlindungan kriminal, dan meski POLRI sedang naik daun saat ini, TNI masih memiliki senjata dan dana lebih banyak, dan mereka tidak memiliki beban untuk menegakkan hukum pembunuhan.

Pada hari Kamis, saya menghubungi Kapolda Aceh, Jendral Polisi Aditya, melalui ponsel, dan meski awalnya ia hanya bersedia bertemu langsung secara pribadi, dan mencoba mengakhiri pembicaraan, ia mengkonfirmasi – untuk pertama kalinya secara publik – bahwa pelaku pembunuhan Tumijan telah ditahan.

Ketika saya bertanya apakah benar Jend. Sunarko bertanggungjawab atas pembunuhan aktivis, ia menjawab “bukan kapasitas saya untuk membuka informasi tersebut,” dan langsung menutup telpon.

Pada hari Jum’at, sya menghubungi Jend. Sunarko dan menanyakan mengenai pembunuhan tersebut, dan Sunarko mengetahui bahwa orang-orangnya di TNI memiliki peran dalam pembunuhan tersebut.

Tetapi ia berkata bahwa pembunuhan oleh perwira TNI dan orang-orangnya tidak berarti dilakukan oleh TNI secaraq lembaga. Jend. Sunarko sangatlah tenag menyatakan hal ini.

Meski belum dipublikasikan, ia mengetahui mengenai penahanan bawahannya dalam pembunuhan Tumijan (Jend Sunarko menyatakannya sebelum saya menanyakannya), tetapi Jend. Mengindikasikan bahwa tidak ada kekhawatiran mengenai tindak lanjut dari TNI atau aparat berwenang.

Jend. Sunarko tampak sangat paham mengani pembunuhan Tumijan, dan menyatakan bahwa Kapt. Wahyu dan Oktavianus, dua yang ditahan, telah bekerja untuk KODAM Iskandar Muda.

Ketika saya menanyakan secara spesifik apakah ia terlibat dalam pembunuhan tersebut, ia menjawab ringan “Ini adalah pekerjaan orang gila, dan saya belum cukup gila.”

Ketika saya menanyakan mengenai bawahannya, LtKol Suharto, ia menyatakan bahwa ia mengenalnya dengan baik, tetapi ketika saya menanyakan apakah LtKol Suharto telah melaksanakan pembunuhan Abu Karim, Jend Sunarko menjawab “Saya tidak tahu,” tetapi menambahkan “Jika itu terjadi, saya sudah tahu.”

Jend. Sunarko juga menyatakan bahwa, sebelum saya menanyakan masalah pembunuhan, bahwa ia adalah pendukung antusias rencana Obama untuk meningkatkan dukungan pada Kopassus dan TNI.

Sunarko mengatakan bahwa AS dan TNI memiliki hubungan panjang dan dekat yang telah “meningkatkan kemampuan TNI,” dan bahwa rencana bantuan Obama akan menjadi “kolaborasi yang lebih akrab.”

Jendral menyatakan bahwa ia sendiri adalah kolega dan pengagum Militer AS, menerima pelatihan AS di berbagai tempat di Indonesia berkali-kali sejak 1980an.

Menggunakan nama berbahasa Inggris beberapa kursus dan dari satuan AS yang memberikannya, ia menyatakan bahwa instruktuur AD AS di Mobile Training Team dari Komadin Pasifik Pentagon (PACOM) telah melatihnya dalam peperangan rimba dan logistik termasuk beberapa subjek yang tidak ia sebutkan. Ia menyebut pelatihan AS termasuk latihan khusus pada 1994 dan 1998, dan bahwa rekannya termasuk dari Kopassus dan Kostrad. Jend. Sunarko mengatakan bahwa pelatihan terakhirnya di AS adalah pada tahun 2006 saat menjabat Kepala Staf Kostrad, sesaat sebelum mejadi DanJen Kopassus.

Ia menyatakan bahwa pelatihan tersebut juga bagus untuk AS karena menjadikan TNI dan AS mampu saling belajar dan lebih baik dilakukan di AS untuk mendapat yang dibutuhkan dari TNI.

Presiden Obama akan segera berkunjung ke Indonesia namun kunjungan tersebut telah dibatalkan.

Masih dalam perbincangan adalah paket bantuan besar untuk TNI, dinegosiasikan sejak bulan lalu, isu politik utamanya adalah pembaruan bantuan agi Kopassus

Meski hampir semua unit TNI (dan POLRI) telah melakukan kekejaman massal, Kopassus adalah yang paling terkenal, dan sebagaimana mantan Komandannya, Prabowo, pernah menyatakan pada saya, secara historis adalah satuan yang paling dekat dengan Washington. Sungguh menyakitkan ketika aktivis Amerika – termasuk saya – berhasil menekan kongres untuk menghentikan bantuan AS kepada Kopassus di akhir 90an.

Rencana Obama memberikan lagi bantuan kepada Kopassus saat ini ditunggu sebagai tindakan manis dan bagi para korban teror TNI sebagai lampu hijau untuk teror lagi.

Tetapi sebagaimana kekejaman TNI lainnya, pembunuhan yang ditulis di sini melibatkan berbagai komponen TNI lebih dari Kopassus: Kopassus, tetapi juga Intelejen BAIS, dan komando teritorial mulai dari KODAM, KOREM, dan KODIM, semuanya bertanggungjawab pada komando tinggi TNI dan “petinggi-petinggi di Jakarta” lainnya.

Dan apakah AS memberi bantuan lagi atau tidak, TNI sendiri sudah menerima lampu hijaunya.

2.800 personil TNI saat ini sedang dilatih di AS (menurut kementrian pertahanan RI; lihat Olivia Rondonuwu and Ed Davies, “Interview — Indonesia Sees U.S.Lifting Military Training Ban “, Reuters, 4 Maret, 2010) dan Pentagon dan Obama mendorong penjualan senjata dan perlengkapan yang akan memperkuat TNI secara keseluruhan.
Dari situ, Kopasssus memang memiliki kekuatan nyata dan simbolis.

Dalam negosiasi bantuan Obama-TNI dalam antisipasi perjalannya, Danjen Kopassus datang ke Washington dan disambut oleh tim Obama. Di Indonesia, ketika perbincangan terjadi seorang personel Kopassus cukup percaya diri naik pesawat komersial keluar Aceh dengan membawa pitol berperdam –senjata pembunuhan klasik. Ini menarik perhatian pejabat Indonesia karena salahsatu korban di Aceh telah dibunuh dengan pistol berperedam di malam hari (teman sekamarnya tidak terbangun).

Personel keamanan bandara yang terkait Angkatan Udara mengambil pistol tersebut.

Tapi kemudian perwakilan Kopassus datang dan membuatnya mengembalikannya.

Kalo mau seimbang baca juga dari Kompas:

http://nasional.kompas.com/read/2010/03/23/10035970/Pemerintah.Harus.Jawab.Tuduhan.Allan.Nairn.

http://nasional.kompas.com/read/2010/03/23/12525889/Komisi.I.Minta.Pemerintah.Segera.Klarisikasi.Laporan.Allan.Nairn.

http://nasional.kompas.com/read/2010/03/23/16212329/Tidak.Ada.Pasukan.Kopassus.di.Aceh.Sejak.2004

http://nasional.kompas.com/read/2010/03/23/10334174/Aktivis.Aceh.Investigasi.Allan.Nairn.Lemah.

http://nasional.kompas.com/read/2010/03/23/09483154/Imparsial:.Tingkat.Kekerasan.di.Aceh.Tinggi.Saat.Pemilu.2009.

Link-link tersebut gak sebanding dengan tulisan Nairn, karena tidak memberi gambaran pernyataan resmi dari pejabat terkait (kecuali Sunarko) atau masyarakat sekitar. Link ke-empat yang seharusnya mampu menjadi pertimbangan malah justru saya sebut tidak  layak dipercaya. Katahati Institute yang disebut LSM demokrasi di Acceh jika di cari di internet ternyata adalah lembaga pelatihan menajeman, lihat saja di sini.

Iklan