Sebuah tulisan yang telat lama, tapi gak apa2. Sori kalo penutupnya aneh. monggo di baca.

Sebagaimana dilihat oleh banyak orang, demokrasi adalah “ilmu” langka dan sukar yang untuk mempelajarinya dibutuhkan waktu yang amat panjang. Dalam mempelajarinya yang dibutuhkan bukan tapa ratusan tahun dalam guna, di air terju, atau di puncak gunung. Yang dibutuhkan justru interaksi dengan berbabagi orang yang (dianggap) setara.

Hak untuk pada berpartisipasi dalam pengambilan keputusan dan konsekuensinya secara tekstual bisa dipahami dngan mudah oleh anak-anak yang mempunyai nilai 9 dalam Pendidikan Kewarganegaraan maupun orangtuanya. Namun pemahaman hak dasar untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan sering bias.

Satu yang tidak dipahami adalah hak untuk memilih tidak memilih. Mengapa dikatakan tidak dipahami? karena ada pernyataan seperti ini. Hak pilih warga negara ternyata amat meresahkan baginya hingga perlu dilakukan sesuatu untuk membatasi hak tersebut.

Padahal ini adalah pernyataan berani dan logis dari konstituen bahwa konstituen tersebut tidak memiliki kemampuan atau tidak bersedia untuk mengambil pilihan dari pilihan yang ada. Mengapa berani? Karenya menyatakan diri tidak mampu membutuhkan keberanian dan kejujuran yang mutlak untuk melawan harga diri semu. Mengapa logis? Karena ini adalah pilihan logis daripada memilih karena alasan-alasan yang tidak wajar dipikirkan oleh mereka yang mengaku waras.

Voter turnout atawa kesertaan dalam pemilu adalah hal yang melelahkan. Baca saja artikel wikipedia yang ini atau yang ini, artikelnya mungkin netral kok.  Oleh karena itu bukankah itu adalah tugas para politisi untuk mempertontonkan pertunjukan politik yang menarik, dan partisipatif, agar kita tertarik ikut serta dalam pemilihan?

[Yah, inilah kemarahan saya ketika ketidakmampuan mereka ditimpakan sebagai dosa kami. Tak tahukah ia bahwa saya saat ini sedang menanggung tanggung jawab yang sama? Tanggung jawab menghadirkan anggota dalam pengambilan keputusan?]

Oleh karena itu ini adalah hak warga negara yang harus dilestarikan, bukan di taman nasional tapi dalam kehidupan sehari-hari. Golput adalah hak kita, hak untuk memilih partai ke 25 dari 24 partai peseta pemilu, hak memilih pasangan keempat ari tiga pasang calon presiden dan wakilnya. Dan terkutuklah Sri Bintang Pamungkas yang mengaku-ngaku suara Golput bersatu di belakangnya!

Yang lebih penting adalah konsekuensi setelah pemilihan. Apa yang harus dilakukan orang yang menyatakan diri abstain? Patuh terhadap hasil pengambilan keputusan! Yah, demokrasi memberi warganya hak untuk ikut serta dalam pengambilan keputusan tapi ia menuntut warganya untuk patuh pada keputusan itu. Dengan ini gugurlah argumen MUI “Seburuk apapun pemimpin yang dihasilkan dari Pemilu, itu lebih baik daripada tidak ada pemimpin sama sekali.” Memilih atau tidak memilih dalam pemilu, kewajiban warga negara untuk patuh pada hasil pemilu!

Ketika shalat kita akan memilih imam kita. Sebelum shalat dimulai ia akan meminta kita merapatkan shaf, dan kita menjawab “Sami’na wa Atha’na!”

Iklan