Satu Oktober lalu adalah hari besar. Bukan hanya hari kesaktian Pancasila saja bagi kita melainkan hari lahirnya Republik Rakyat Cina.[1] Ya! Baru saja dunia disuguhkan pemandangan luar biasa dari sebuah Über power baru. Parade sepasukan tentara yang sangat presisi, dihitung jarak hidung ke hidungnya, ratusan tank, pesawat, dan rudal, semuanya buatan dalam negeri. Tapi adakah hubungannya dengan negeri kita ini? Selagi saya menulis saya diiringi oleh irama pukulan lesung Teater Gadjah Mada dan lagu Rayuan Pulau Kelapa oleh karena itu saya sangat ingin berteriak “ADA!!!” Apa yang ada hubungannya? Untuk ilmu-ilmu kemanusiaan apapun bisa saja dihubung-hubungkan, tetapi bukannya buang-buang waktu.

Republik Rakyat Cina adalah negara besar yang amat kuat militernya. Ia memiliki angkatan bersenjata terbesar di dunia. Lebih tepatnya lagi ia memiliki angkatan bersenjata dengan pengaruh terbesar terhadap masyarakat negaranya. Ia adalah negara totalitarian yang dengan gamblang menyatakan dirinya totalitarian. Dan salah satu aspek dari negara totalitarian adalah Parade Militernya.

Yah, sekedar saja kita mungkin bisa membahas tentang bagaimana parade militer di dunia dan hubungannya dengan masyarakat sipil. Siapa tahu dengan membandingkan parade militer di negeri ini kita bisa mengira-ira, bagaimana hubungan sipil-militer di negeri ini. Hitung-hitung peringatan 5 oktober yang dulunya adalah hari ABRI.

Parade Militer memang memiliki akar yang dalam di masa lalu. Ia adalah unjuk kekuatan dan kekaguman dimulai sejak pertama kali kelebihan produksi dimonopoli oleh suatu kelas penguasa. Sejak dulu para penguasa yang pulang dari penaklukan membawa pulang pasukan besarnya dengan seragam yang mengkilap, senjata-senjata yang teracung, bendera yang berkibar, dan budak yang mengingatkan kegetiran manusia[2].

Kini ketika negara bangsa menjadi norma, budak dan musuh menghilang dari barisan parade. Tetapi justru di dua abad lalu bentuknya makin nyata. Di abad Sembilan belas tentara Prussia menyempurnakan baris-berbaris menjadi gerakan-gerakan seirama yang mekanis. Seluruh duniapun mempelajarinya hingga perang dunia I. Setelah perang dunia, beberapa bangsa mencoba totalitarianisme sebagai cara hidupnya, kekuatan dan kebrutalan makin dipoles dan dipercantik. Baris-berbaris dengan gaya berjalan bebek yang bukan menjadi inti dari ajaran Prussia menjadi tontonan wajib di jalanan.

Bisa kita sebut negara-negara yang mempraktekkan gaya baris-berbaris seperti bebek ini. Mulai dari penciptanya Prussia, kemudian Imperium Rusia, Itali, Jerman, Uni Soviet, Kuba, Chile, Republik Demokratik Korea, Republik Cina, dan Republik Rakyat Cina. Semuanya negara Totalitarian. Bisa dinilai, semakin kuat totalitarian suatu negara, jalan bebek ini semakin presisi. Ambil perbandingan yang sezaman, Itali tidak bisa sebaik Nazi Jerman. Ambil pemerintah sebangsa, Imperium Rusia tidak bisa sebaik Uni Soviet. Ambil perbandingan Republik Demokratik Korea (Utara) dan Republik Korea (selatan), Utara yang totalitarian menggunakannya dan Selatan yang relatif bebas tidak menggunakan gaya jalan sebodoh itu.

Sepertinya memang ada hubungan sebanding antara parade militer yang kaku dan kebebasan di suatu negara. Bukan sekedar negara yang diperintah oleh diktator, melainkan suatu negara dan masyarakatnya yang mempraktekkan totalitarianism.  Siapa yang bisa mempraktekkan parade dengan gaya jalan mirip bebek ini di jalanan kota? Mereka yang memiliki tentara yang “disegani” oleh rakyatnya. Masyarakat yang tidak mungkin berani mentertawakan gaya jalan yang sangat konyol ini[3]. Atau bahkan gaya berpakaian (dan pelengkapan) yang konyol.

Berbicara tentang kekonyolan, saya menemukan kumpulan foto tentang parade militer yang konyol. Bisakah anda membayangkan bahawa di salah satu dari 23 foto tersebut adalah foto parade Kopassus? Saya tidak dapat membayangkannya. Dan berkali-kali melihat foto tersebut saya tidak menemukan kelucuannya. Dibandingkan tentara Rusia yang tampak seperti monster lumut, tentara dengan seragam etnik yang mirip baju sirkus, tentara Prancis yang diinspeksi oleh penguin, milisi Basiji yang cocok jadi istri saya, atau ekspresi-ekspresi aneh para tentara, tidak ada yang aneh di foto itu!

Mungkin memang saya sebagai bagian dari masyarakat Indonesia tidak berani mentertawakan tentara. Meski saya menganggap gerakan-gerakan yang diperagakan dalam baris berbaris itu adalah ekploitasi tubuh ala maskulin dan kadang kekakuan yang mengingkari kemanusiaan. Entah kenapa saya menganggapnya indah. Entah kenapa godaan untuk menonton parade militer sama besarnya dengan suara sendu seorang gadis.

Yah, masyarakat kita yang bukan tentara amat bangga dengan seragam. Mulai dari Kejaksaan yang berwibawa (tapi kalau ingat kasus Prita jadi enggak) sampai ke Satuan Polisi Pamong Praja yang ______ (silahkan isis sendiri kesan anda). Belum lagi mereka yang mengumpulkan berbagai macam badge, wing, dan brevet. Mak trembel kalau kata orang Jawa.

Sejak masa Bung Karno hingga Orde Baru militer (AD) berusaha untu memperoleh dominasi di kancah politik maupun sosial. Ketika secara resmi dwi fungsi ABRI tidak lagi menjadi kebijakan pemerintah, Angkatan Darat masih berusaha meminta peran lebih besar di masalah keamanan. Mereka meminta diberi tugas menangani masalah terorisme, yang sudah ditangani oleh kepolisian. Dan orang kebanyakan pun hanya terkagum-kagum dengan prestasi kopassus melumpuhan teroris dalam beberapa menit dibandingkan pendekatan bertahap Den-88 dalam melumpuhkan komplotan Noordin.

Balik lagi ke masalah parade militer, masyarakat Indonesia memang masih menyukai parade besar-besaran. Perayaan 100 tahun Kebangkitan Nasional pun bisa dikatakan adalah modifikasi dari parade militer tersebut. Kebesaran, grandeur, yang ingin diperlihatkan oleh presiden kita yang tercinta mungkin berasal dari sebagian besar hidupnya yang berada di lingkungan militer.

Tapi sekali lagi kita bukanlah masyarakat yang totalitarian. Para pembesar militer mungkin berusaha untuk memperoleh kekuasaan, tapi tampaknya tidak lagi dengan menggunakan kekuasaan senjata. Setidaknya kita bisa mengatakan bahwa “tentara kita tidak sanggup berparade sekonyol tentara Cina!” Jadi di hari ABRI ini kita nikmati saja masyarakat kita apa adanya.

Berikut sekedar klangenan untuk yang hobi nonton tentera baris:


[1] Boleh saya menyebutnya Cina, bukan China?

[2] Budak-budak Romawi ketika parade selalu meneriakkan “memento mori!” (ingatlah kalian akan mati), mengikat para warga negara dengan para penguasa. http://www.time.com/time/world/article/0,8599,1927129,00.html

[3] George Orwell, The Lion and Unicorn, 1941

Iklan