Bahasa adalah suatu yang dikonstruksi. Ingatan adalah suatu yang dikonstruksi. Sejarah adalah sesuatu yang dikonstruksi. Dus segala hal yang dijadikan pijakan bagi banyak orang tak lebih dari kabut tebal.

Seperti itulah perasaan ketika pertama kali membaca buku MO Parlindungan, Tuanku Rao. Batak yang dikenal sebagai etnis Kristen bagi orang Jawa menjadi sebuah etnis non-urban yang diperebutkan pengaruhnya oleh kekuatan-kekuatan di masa kolonial.

Sekali-dua kali membaca halaman-halaman buku ini tidak cukup untuk sepenuhnya memahami bahasa yang digunakan oleh penulisnya. Jika dibayangkan serasa mendengarkan seorang Kakek yang masih kental bahasa Belandanya tetapi ingin berbahasa Inggris. Tidak lupa pula ia membubuhkan istilah-istilah Latin atau Perancis.

Yang harus diapresiasi bukanlah tuturan cerita mengenai Tuanku Rao saja. Separuh dari buku ini adalah kronik-kronik yang terkait dengan cerita Tuanku Rao. Mulai dari Kronik mengenai Islam, Batak, hingga silsilah. Sebuah karya sejarah, menurut penulisnya.

Penulis menjabarkan kepahlawanan Tuanku Rao, seorang keturunan Singamangaraja VII, yang menjadi salah satu panglima dalam perang Padri. Di dalamnya ia juga menguraikan kekejaman Tuanku Lelo. Dengan bahasa luar biasa tentunya.

Dalam buku ini terlihat bagaimana etnis-etnis di ujung utara sumatra saling berkaitan. Antara Minangkabau, Aceh, dan Batak (yang terdiri dari berbagai sub etnis) saling merantau untuk melangsungkan hidupnya.

Tapi beberapa kali dalam buku ini Parlindungan menyebut Minangkabau tidak berpegang pada fakta yang kuat. Sejarah Minangkabau tidaklah menunjukkan kejadian yang pasti, hanyalah berdasarkan pada dongengan saja.

Buku ini memotret luka dua etnis yang berada di dua sisi pulau Sumatra ini. Buku ini juga menyebut banyak yang yang seharusnya, jika dikaji lagi, menjadi bahan untuk membangun narasi sejarah Indonesia.

Buku ini seharusnya adalah hadiah bagi para posmodernis dan sejarawan. Sayang kebangkitannya kembali terlambat selama dua dekade. Jika saja buku ini dibahas dua puluh tahun lalu, dalam kerangka metodologis. Kira-kira seberapa seru perdebatan yang terjadi?

Iklan