Selagi cerita mengenai sepeda saya yang hilang (lagi) beredar, saya nyatakan saya menerima sumbangan parts apapun dari anda.

Well, sudah sebulan sejak peledakan di Kuningan. Sudah sebulan pula rakyat Indonesia menunjukkan kejengahannya pada aksi SARIYAH JABIR. Yah, dalam sebulan yang lalu terungkap pula ketidakakuran aparat negara.

Sebagai seorang politisi SBY menyebut secara samar tentang terorisme dan pemilu. Mantan komandan Den 88 mengomentari di TV1 bahwa itu pernyataan yang menyesatkan, sepertinya berasal dari intelejen, dan memang itu tugas mereka.

AM Hendropriyono meminta wewenang lebih besar menangani terorisme. Jika wewenangnya disalahgunakan iapun siap mati. Tak lama sejak itu TNI-AD mengumumkan dibentuknya desk antiteror. Ternyata, katanya,  UU tentang TNI mengamanatkan  masalah terorisme kepada TNI.  Dan berlangsunglah drama pengepungan Temanggung.

Hmm, Ternyata bangsa ini masih bingung, tentara mau apa, intel mau apa, polisi mau apa. Mungkin saja kita lebih baik memilih BIN, terbukti Munir bisa terbunuh tanpa terungkap arti telepon yang dilakukan pembunuhnya ke kantor BIN. Mugkin saja kita lebih baik mendukung tentara, tapi ketika mereka berbicara penanganan terorisme mereka hanya pamer “simulasi pembajakan.”

Yah, lihatlah Den 88 yang susah payah menangkap teroris kelas teri di Cilacap dan  malah kecolongan di Jakarta dalam seminggu. Tak perlu lagi bingung, percaya saja ke kepolisian.

Teroris menyebalkan, mereka memberi alasan bagi mliter utuk memperoeh kekuasaan lebih bagi hidup kita.

Iklan