I love the city that never sleep, but I hate it keep me awake.

Yah, itu bukan kata-kata milikku. Itu milik… siapa yah? Cari sendiri di Weekender deh (yes, that edition). Yup, udah semingguan ini di Bogor dan merasakan kembali udara Bogor. “Air Bogor eenaakk!!” kata temanku. Tapi memang airnya saja yang enak. Berhubung teman-teman banyak ygang sudah mencicipi gaji, mereka tidak sungkan mengajak untuk mencicip Batanic Square, nonton XXI, dan ampir di KedaiKita. Untunglah kenyamanan yang didapat dari orang lain tidak membari ide untuk menerima diskon semacam ini.

Salah satu yang dirasakan lagi adalah perilaku warganya. Njelehi kalau kata salah seorang anggota DKD DIY. Ranggapanji bilang di UV pengendara-pengendara di Jakarta buta warna. Mereka tidak tahu bedanya merah-kuning-hijau. Dan tampaknya itu terjadi secara literal. Entah gadis manis pengendara Myo, cowok gahar Sport Cruiser Wannabe, atau kakek-kakek dengan si Pitung. mereka semua tidak tahu arti lampu lalu-lintas!

Yup, they zoom fast just when it’s your turn. Or sometime they just sit there waiting for you to pass. But then you would realize they give you no room to pass. They want you to give your right to pass.

Sebelum saya jadi preachy kayak Yehuda ternyata ada kakek-kakek yang melakukan tindakan tegas. Lebih Cepat, lebih Baik! Dia adalah seorang pensiunan dosen sastra dari negri sabrang sana. Artikelnya dari China News. Para pelanggar memang harus dihukum! Nah saran saya buat sodara-sodara sekalian, bawa batu bata & krikil anda sendiri! Tiap kali ngeliat pengemudi ugal-ugalan & gak peduli orang lain, hajar langsung!

Smash
Smash

Terlihat dari foto itu, kita bisa mencurigai bahwa karir si Kakek di bidang Akademik adalah karena kegagalannya di bidang olah raga, Badminton tepatnya. dan masih ada foto lain yang menunjukkan ia bisa melakukan juga lemparan jarak jauh (terlalu dekat untuk ukuran tolak peluru).

Itu dia si Pendosa, lempar!
Itu dia si Pendosa, lempar!

Nah, jangan bilang si Kakek tidak melakukan peringatan. Ia hanya mengejar para pengemudi ugal-ugalan. Ia pun sudah menempelkan Proklamasi Pejalan kaki di sebuah tiang.

Akhir sudah dekat bagi kalian wahai pendosa jalanan...
“Akhir sudah dekat bagi kalian wahai pendosa jalanan… “

Ingat, moto kita saat ini adalah “Lebih Cepat Lebih Baik!!!” Maka gak ada kata-kata lain bahwa tindakan si Kakek mendapat restu dari pemuda luntang-luntung macam saya.

dari om Ranggapanji
Gambar dari om Ranggapanji, tanggung jawab pemasangan tanggung sendiri

Maka kalian para pengendara sepeda dan pejalan kaki, bekali diri kalian dengan batu bata. Ambil yang bisa kalian kantongi. sekali ada para pendosa itu langsung saja lempar ke arah kendaraan merea yang lebih mereka cintai daripada nyawa orang lain. Siapa tahu anda bisa menjadi seperti si kakek yang namanya merepresentasikan Pemerintah dan kedamaian. Pantas saja dia tidak ditangkap polisi Cina (apalagi Chengqquan, Polisi Pamong Praja, versi sana yg lebih brutal).

Iklan