Saya melakukan dosa besar. Yah, hari ini saya baru saja melakukan dosa yang amat besar. Sementara makin mendekati Pemilu saya makin tidak nyaman dengan kolabo ibu gendut-pak gendut dan gak mau milih orang yang tidak mau mengakui masa lalu (pak gendut juga sih), masih belum juga mau memilih pilihan paling waras. Gara-garanya di alam bawah sadar saya karikatur buku ini mirip banget dengan beliau.

Sejenak kita lupakan dosa saya hari ini. Setelah berjuang membeli tiket untuk balik ke Bogor saya melewati sebuah sekolah. TA-DA!!! SMAN 3 Yogyakarta menuju ISO 9001. Oh Lord, oh Lord. Usaha luar biasa, sekarang sekolah pun bisa bersanding dengan bisnis-bisnis kelas dunia. Luar biasa kini, sekolah milik negara yang dibiayai dengan dana yang dikuras dari kantong para pembayar pajak (seperti anda dan kamu, saya tidak) kini bersanding dengan perusahaan-perusahaan kelas dunia.

Sebetulnya mereka hanya mengikuti apa yang dilakukan oleh world class research university wannabe. Ya, beberapa Fakultas dan jurusan sudah melakukan registrasi untuk mendapatkan sertifikasi ISO, sepertinya sih sudah mendapatkannya.

Yah, sementara Eko Prasetyo dengan sindirannya menyatakan bahwa pendidikan di negeri ini makin lama seperti pabrik, nyatanya WCRUW mengikuti standar yang dilakukan oleh industri manufaktur. Entah proses (produksi) dan produk dari lembaga pendidikan bisa dibandingkan dengan industri (jasa & manufaktur) atau tidak. Lebih jauh lagi memang, keuntungan sertifikasi ini lebih banyak terkait hal-hal perusahaan. Padahal kalangan industripun banyak yang meragukan sertifikasi ini.

Sekedar mengingatkan. Buku Eko Prasetyo itu ditulis di masa pemerintahan Jendral Bintang 9 dan masa Ibu Gendut.  Oleh karena itu sulit mempercayai bahwa Ibu Gendut tidak banyak berperan dalam proses yang menyebabkan lembaga pendidikan jadi semacam pabrik. Meski Bapak yang mumcul di karikatur juga membawa mantri yang ikut banyak bikin kekacauan ini (dia juga dari WCRUW)

Sementara ini, tidak perlu menangis dengan proses yang terjadi saat ini. Saya sudah cukup menangis ketika adik saya mendapat nilai Ujian Nasional Bahasa Inggris 8,x sedangkan saya 7,x. Kemarin mereka yang sedang sial terpaksa tidak menerima kejelasan nasib Ujian Akhir mereka. Satu hal jelas, sekolah-sekolah itu gagal berproduksi!

Iklan