Ada tiga hal yang saya temui di 9 April lalu. Pilihan saya untuk memberi suara abstain[i] dalam pemilihan rupanya tidak diterima oleh beberapa orang. Mulai dari sms-sms dari akhwat-akhwat agar saya memilih (hampir saja iman saya runtuh). Kedua adalah dikira pengikut Gus Durr. Dan terakhir adalah pandangan tidak sedap dari orangtua. Mau bahasannya?

Pertama adalah sms-sms bujukan dari akhwat agar saya memilih. Beberapa bulan lalu dapet sms dai nomor 0857xxxxxxxx yang menyatakan bahwa memilih adalah tanggung jawab kita sebagai warganegara. Karena saya tidak mengenal nomornya langsung saja saya caci maki (dengan diplomatis tentunya). Tapi dia mulai menyebut-nyebut nama Pramuka. KURANG AJAR!!![ii] Semalam sebelum contrengan ada sms masuk “Mahasiswa golput? Malu ah!” Ampun, terserah apa katanya. Paginya ada orang lain lagi yang masuk. “Kak Adit kenapa nggak milih?” Akhirnya pagi pukul 7.00 kukirim sms massal yg intinya berkata “Hormati sesama warganegara RI yg memiliki KTP” Satu hal menyebalkan selesai.

“Lho kamu nggak nyontreng Dit?”

“Nggak Mbak.” (senyum-senyum kecut bukan gara-gara belum mandi)

“Gus Dur aja nyontreng Lho!”

“Yah terserah Gus Dur!” (Makin kecut senyumnya)

Adakah hubungan antara Golongan Putih dan Gus Dur? Ada, Gus Dur adalah yang menganjurkan pengikutnya untuk Golput (bukan abstain) hanya gara-gara putranya tidak menjadi penguasa di PKB. Tapi memilih untuk tidak memberikan suara. Terserah apa kata pengikut Gus Dur! Sana mati syahid di jalan Gus Dur, Jihad fi sabilil-gus Dur!

Terakhir, karena di sorenya ada janji dengan seorang Profesor dan Protokol UGM untuk survei jalur pembukaan Dies Natalis ke 60 UGM saya pun memenuhinya. Di sela-sela perjalanan saya ditanya “Mas Adit nyoblos nggak?” “Tentu tidak, kan saya sudah minum Combantrin!” Sang Professor menanggapi “Yah kalo Mahasiswa memang begitu, kalau sudah saja protes. Padahal tidak tahu rasanya jika sudah di dalam. Saya ini pernah jadi caleg lho!” Waduh! Tidak memilih berarti tidak bertanggung jawab?

Gentlemen the Jury!

Semua orang yang diantara kedua telinganya diisi sel-sel neuron yang sehat pasti tahu! Semua orang harus bertanggungjawab atas yang apa saja yang dilakukan olehnya maupun oleh masyarakatnya.

Inilah kesenjangan yang ada di pendidikan kita. Bukankah segalanya dimulai dari yang terkecil? Jika di kelas ada pemilihan ketua kelas dan kita gol-put (lebih tepatnya kita sebut abstain bukan?) maka ketua kelas hasil pemilihan adalah pilihan dari siapa? Jika anda menjawab “bukan saya yang memilih” maka jelas anda belum cukup dewasa menikmati demokrasi.

Di sinilah tuntutan bagi anda sebagai warganegara yang memiliki sel-sel neuron yang sehat untuk bersikap bertanggung jawab terhadap apapun hasil pemilihan. Sudahkah anda memilih (untuk tidak memilih)?


[i] Mulai sekarang jangan sebut Golput yah!? Lebih bijak kita sebut suara abstain.

[ii] Ok, pandangan Baden Powell tentang menjadi warganegara bisa ente cari sendiri. Yang penting jadilah warganegara yang bertanggung jaeab dul!

Iklan