Hari ini, 9 April 2009 adalah hari dilakukannya Pemilihan umum (Bisakah kita sebut saja “pemilihan? Terimakasih) Jalanan di Jogja lumayan sepi, lengang. Mungkin sebagian besar penduduk Jogja setia menanti di TPS bagaimana hasil pemilihan daerahnya (penghitungan di TPS yang terletak persis di sebelah rumah saya dimulai duajam sebelum tulisan ini mulai diketik). Mungkin juga beberapa penduduk de facto Jogja yang secara de jure penduduk tempat lain sedang berpartisipasi aktif dalam pemilihan ini di tempat lain.

Sebetulnya saya sudah menyiapkan sebuah tulisan untuk dipajang di blog ini sejak dua minggu lalu. Judulnya “Cara Cerdas Memilih.” Di situ dengan lugunya saya berharap orang yang membacanya akan dalam waktu sesingkat dua minggu akan meneliti ke-38 partai peserta pemilihan (plus partai lokal kalau di Aceh). Menurut saya cara cerdas memilih adalah dengan melihat voting record anggota legislatif (partai) dalam proses perundangan.

Mungkin sebetulnya tulisan itu hanyalah pembelaan diri bahwa saya sudah melakukan apa yang seharusnya dilakukan sebelum memilih, dan ternyata saya tidak dapat memilih (apologi). Allah maha tahu, benarkah saya sudah melakukan proses itu?

Bodoh, terlambat. Ketika saya bertanya kepada teman saya tentang “apa posisi PKS terhadap Perpu no 2 tahun 2008?” atau “Kenapa anggota DPRD Kota Yogya dari PKS tidak mendukung Sego Segawe?” Tidak ada jawaban yang pasti.

Pencarian pribadi saya lanjutkan lagi, Partai Gerindra mempunyai program membuka lahan pertanian untuk produksi bio-energi. Kengerian atas perusakan hutan justru mencegah saya memilih mereka. Apalagi pertanyaan siapa di belakang Gerindra? Pengusaha mana? Belum lagi Prabowo yang punya masa lalu kurang helas (semua jendral semasa juga begitu! Kecuali SBY mungkin, percaya deh)

PDIP menjanjikan sembako murah, tapi mengetahui kabinet Mega menjual aset negara dengan cepat membuat saya berdiam lagi. Apa lagi di tingkat daerah PDIP sama giatnya dengan partai lain untuk menjalin hubungan mesra dengan Purnawirawan TNI. Lagipula, yang saya rasa isinya bukannya wong cilik seperti yang dicitrakan. Isinya preman!

Partai lain? Golkar? Gak banget deh, ibarat ngejual hati ke iblis kalo sampai aku jadi kadernya. PAN alias Partai Artis Nasional? “Hidup adalah… Parodi!” Lihatlah apakah PAN akan berhasil keluar dari kebesaran Amien-Muhammadiyah. PPP? Rumah lama orang beriman, sejak zaman Buya Ismail Hasan Meutareum yang berjanji memberi angin segar mereka makin sejuk. Tapi karakternya hingga kini malah makin sejuk, adem-ayem. Apa kepribadianmu bung? PKB? Terlalu…. Liberal! Belum lagi siapapun warganegara bermental independen dalam politik akan tersinggung dengan tingkah Gus Dur menguasai PKB, maaf!

Para pensiunan Jendral juga banyak bertingkah konyol. Entah kenapa. Mungkin di TNI mereka terdidik untuk bersaing saling sikut, dengan mengandalkan sedikit perwira yang setia mereka bisa mendapat posisi (mental pelaku kudeta). Hasilnya adalah Partai-Partai yang diisi kroni dekat patron partai. Kita urutkan berdasarkan popularitasnya, Gerindra (lihat hubungan Prabowo-Fadli Zon), HANURA (lihat hubungan Wiranto-Subagio HS), dan PIS (Sutiyoso dan siapa? Tak punya pendukung yang lumayankah? Situsnya saja tidak ada di halaman pertama pencarian google!). Mungkin jika dilakukan dalam rangka kudeta militer hubungan macam ini akan menghasilkan cerita tragis, tapi konyol jika dilakukan dalam rangka pesta sipil macam pemilihan umum. Yang bekerja adalah pencitraan, uang, dan jaringan. Dalam hal ini Gerindra (Prabowo) lumayan berhasil. Untuk 5 tahun lalu lihat Partai Demokrat.i

Partai-partai baru lainnya? Langsung terpikir “Buat anak kok coba-coba!” Partai baru lebih banyak dari hasil keegoisan pemimpinnya untuk memisahkan diri, atau menerima kenyataan pemilu 2004 bahwa mereka tidak lolos Electoral Treshold.

Jadi? Saya tidak memilih! GOLPUTii, eh bukan ding GolPit, alias golongan nge-Pit!

Oh ya, jangan membuat saya memulai tentang Fatwa Haram Golput! Benar-benar mencederai harga diri warganegara yang merasa memiliki sel neuron sendiri untuk memilih. (Apa saya terlalu sombong?) Ingat! “Mengharamkan yang halal dosanya sama dengan menghalalkan yang haram!” Waspadalah-waspadalah!iii

Sekian apologi saya menapa pagi ini saya berdiam di rumah.

iParagraf ini berbahaya, tapi perlu gak sih diungkapkan? Demi demokrasi kita ungkapkan saja yah?!

iiTulisannya berbunyi “Golput” tapi karena saya kali ini menjadi Golput sejati maka saya warnai putih

iiiMungkin saya bukannya merasa berdosa malah merasa kedaulatannya terancam. Apa neraka sudah menunggu saya?

Iklan