Mari bayangkan para senior kita di senayan, mukanya merah pada menahan malu, dadanya naik-turun dengan nafas yang tak teratur menahan emosi, kata-kata kasar (dan semakin kasar) keluar sedemikian banyaknya…

Mungkin di akhir masa baktinya ini mereka malah makin berulah. Dengan hak imunitas yang mereka miliki selama bersidang, apapun bisa mereka katakan tanpa perlu dipikir sebelumnya. Makin lama makin kacau saja yang dikeluarkannya. Saking menyakitkannya kata-kata yang mereka ucapkan, dirut Pertamina pun mutung. Ia mengeluarkan surat tertulis berisi protes.

Reaksi DPR? Merekapun marah sekali. Bahkan melibatkan Badan Kehormatan DPR yang mengambil sikap menyalahkan Pertamina. Irsyad Sudiro sebagai ketua BK berkata “Bukan levelnya Pertamina menyampaikan hal itu. Dari segi etika, itu tidak etis. Seharusnya Pertamina bisa sampaikan ke atasannya yaitu Menteri BUMN dan pada saat Raker dengan Menneg BUMN bisa meminta klarifikasi soal itu

Tanpa bersimpati pada direksi Pertamina, saya setuju dengan langkah yang mereka lakukan. Siapapun berhak membuat surat protes kepada DPR. Membuat protes tertulis. Bukankah itu saja yang dilakukan oleh Pertamina? What’s the wrong with that?

Bukankah Dirut Pertamina sudah sedemikian menghormati DPR dengan tidak walk out? Di balik cercaan dan hujatan yang biasa muncul dari mulut kita, jika mereka masih mendengarkan, bukankah pihak Pertamina sudah berbesar hati?

Bahkan sebenarnya meski surat yang dikeluarkan oleh Pertamina ini tidak bersifat rahasisa, akankah pers membahasnya jika DPR tidak ribut sendiri? Surat yang ditembuskan kepada Ketua DPR dan Menneg BUMN itu bukankah tidak perlu menjadi perkara besar. Surat itu dapat diibaratkan sebagai pengaduan anak pada orangtuanya karena tidak diperlakukan adil oleh kakaknya.

Jika Pertamina tidak boleh mengirimkan surat tersebut, maka kita tidak boleh mengirimkan surat apapun pada DPR! Kedaulatan kita sebagai rakyat terancam!

Rame-rame kirim surat ke DPR yuk! Yuk mari…

Iklan