Kampusku, rumahku
Kampusku, negeriku

Itu nyanyian para mahasiswa ITB tentang kampus mereka. Kata-kata ini mungkin menggambarkan kampus-kampus Perguruan Tinggi Negri ini yang (dulu) dihuni oleh mahasiswa dari pelosok Nusantara dan berinteraksi dengan masyarakatnya. Tapi itu dulu.

Kini untuk masuk ke UI harus menggunakan tiket. “Tembok Berlin” mengelilingi ITB. Tak heran salah satu pintu kecil ci IPB pun disebut “gerbang Berlin.” Tak ketinggalan UGM dengan gerbang bernilai milyaran rupiah di dekat bunderan.

Yah, kampusku makin angkuh.

Contoh terakhir adalah menggusur PKL sepanjang boulevard (atau anda boleh menyebutnya jalan Pancasila) tanpa ada komunikasi. Lapangan parkir belakang Gelanggang Mahasiswa yang tiap PORMAGAMA ramainya gak karuan, kini jadi food court. Tak perlu bicara banyak, pihak Manajer Gelanggang pun tidak diberi penjelasan. Padahal yang ketiban pulungnya pasti masyarakat gelanggang!

Cukup bersabar dengan itu,..

Rabu Gaul, seperti biasa kami komunitas Bike to Work Jogja berkumpul di Bunderan UGM. Sepeda kami sandarkan di trotoar gerbang. Di luar pagar motorist berkumpul dan mengintimidasi dengan raungan mesin dan klakson konyolnya. Sementara di sebelah Barat kami freestyler BMX sedang jugkir balik. Datanglah S-KKK dengan seragam biru-putihnya. Pergilah para penunggang BMX itu.

Angkuhnya kampusku. Masih kuingat ketika dulu aku menggerutu dengan buruknya fasilitas pejalan kaki. Pagar menghadang kami, sementara para motorist berjalan dengan bebasnya. Kini aku makin menggerutu.

Iklan