Social Networking?
Keterhubungan?
Teman

Apa kita punya teman sebenar-benarnya?

Mulai dari Friendster yang sangat-sangat Asia saya berkenalan dengan situs-situs jejaring sosial. Tiap hari kita membuka situsnya. Melihat-lihat foto teman kita di sana- sini. Saling menyombongkan jumlah teman yang kita punya.

Ridiculous!

Membaca Benny & Mice kemarin, sesak juga. “Akhirnya kita bisa berteman” adalah kata-kata bodah. Tidakkah kita punya kehidupan? Tidakkah teman kita di dunia nyata yang bisa kita *pisuhi* lebih menyenangkan daripada teman yang selalu menyenangkan di dunia maya?

Kini widget-widget yang terlalu banyak justru menylitkan saya membaca profile seseorang. Sekali waktu mebuka Facebook & Myspace, kok makin rumit?

To your horror, gentlemen the jury! Friendster pernah membombardir kita dengan iklan-iklan yang menyebalkan di situsnya. Saat ini saya sudah tentram tanpa iklan menyebalkan di kedua e-mail saya. Tapi Facebook? Pemiliknya malah berkata “…it’s not like our users are getting bombarded with advertising, but the ads that they do see are relevant to them and germane to them.” Lihat di sini.

Jadi haruskah saya melakukan suicide di FS juga?

Iklan