Eksodus. Satu bangsa pergi meninggalkan tanah yang sudah menghidupi bangsanya, lari dari penguasa dzalim, menuju tanah yang dijanjikan. Episode kisah Musa dan kaumnya di masa lalu seolah terulang, tanpa Musa dan tanpa lautan yang terbelah. Penghujung tahun 2008 ini lautan Hindia diisi oleh mereka yang mempertahankan hidupnya dari depakan (bukan kejaran!) penguasa zalim dan hiu-hiu lautan.

Itu adalah cerita orang-orang Rohingya, sebuah etnis muslim yang tersebar di sekitar perbatasan Bangladesh-Myanmar (bisakah kita menyebutnya Burma?). Hidup di bawah kecurigaan pemerintahan militer Burma mereka tidak menerima hak-haknya sebagai warganegara. Ribuan mencoba hijrah ke berbagai negara Islam, dari Saudi sampai Malaysia. Sebagai kaum tanpa kewarganegaraan mereka dilupakan dan tidak diinginkan, bahkan oleh sudara seimannya.

Ada baiknya kita mengingat istilah yang digunakan untuk menyebut orang-orang ini, Manusia Perahu (Ma-Hu, akronim rasa militer). Istilah ini mucul di buku-buku pelajaran kita tentang bagaimana pemerintah kita (orde baru ketika itu) yang baik hati menerima pengungsi-pengungsi Vietnam yang tidak percaya pada rezim negaranya. Pulau Galang yang kini sepi menjadi saksi bisu bagaimana para manusia perahu tersebut menjalani transit di negeri ini.

Tetapi tampaknya para MaHu ini tidak mendapatkan nasib sebaik Mahu yang berasal dari Vietnam. 193 orang yang diselamatkan nelayan Aceh disebut detained in Indonesian Naval base.1 Dengan berbagai maknanya, kita terjemahkan saja menjadi “ditahan di pangkalan AL Indonesia.” Justru muncul cerita mengenai “perlakuan manis” dari AL Thailand (kali ini saya sulit memanggilnya dengan panggilan sayang yang bangsa kita biasa berikan, Muangtai).

Mereka yang menuju “tanah yang dijanjikan” dengan perbekalan minim mendapati dirinya diambil (ditangkap?) oleh AL Thailand di perairan Thailand (tentu saja mereka tidak menganggap Thailand yang bermasalah dengan kaum Muslim Bangsamelayu sebagai tanah yang dijanjikan). Kemudian mereka dikumpulkan di sebuah pulau hingga terkumpul sejumlah 400 orang. Sebagaimana perangai tentara, mereka ringan tangan dan memukul jika mereka mau.

To your horror, our fellow reader, yang dilakukan AL Thailand selanjutnya adalah melepasnya. Bukan melepas mereka untuk melanjutkan perjalanan dengan bekal yang mencukupi, melepasnya di lautan lepas dengan bekal seadanya. Di tengah lautan lepas yang dihuni oleh Hiu rakit tanpa mesin maupun layar menjadi bahtera yang digunakan untuk mengantar nyawa mereka!

Ini adalah kesaksian Muzaffar, salah seorang pengungsi yang berhasil diselamatkan oleh patroli AL India. South China Morning Post (surat kabar Hong Kong) memperkirakan perlakuan ini iberikan pada sekitar 1000 orang dan 538 orang meninggal karena ini. Sementara ini tanggapan dari Mentri Luar Negri Thailand bahwa mereka akan menyelidiki semua fakta yang ada, sementara Laksamana Kamthorn Phumhiran menyangkal semua tuduhan.

Ada apa di Burma?

Ada baiknya kita tahu apa yang sedang terjadi di Burma secara lebih jauh. Dokumen Amnesty International, meringkasnya dengan kata-kata ini, “…the situation of the Rohingyas, a muslim ethnic minority in Myanmar who are subjected to multiple restrictions and human rights violations – among them, restriction of movment, forced labour, forced eviction and land confiscation and various forms of extortion and arbitrary taxation.

Kaum Rohingya ini di tolak statusnya sebagai sebuah etnis, pemerintah Burma tidak pernah menyebutnya sebagai salah satu dari ratusan etnis yang ada di sana.2 Mereka dianggap pendatang ilegal dari negara lain, dengan fisik yang lebih menyerupai penduduk Asia Selatan daripada penduduk Asia Tenggara. Oleh karena itu banyak yang tidak memiliki kewarganegaraan. Oleh karena itu tidak mengherankan jika kebanyakan dari mereka tidak terliput dalam sensus yang menyebut jumlah mereka antara 4% sampai 5% dari seluruh populasi Burma. Ada yang justru menyebut jumlah mereka mungkin 20% dari populasi Burma3, meski ini harus diverifikasi lebih jauh.

Operasi Nagamin yang dilakukan oleh militer Burma pada 1978 menyebabkan terjadinya ledakan pengungsian ke Bangladesh. Tujuan operasi ini (pendatang asing) menyiratkan bahwa kaum Rohingya adalah sasaran utama operasi ini. Hasilnya operasi ini adalah penghancuran mesjid, perkosaan, maupun persekusi agama.4 Reaksi pemerintah Bangladesh sendiri adalah mengembalikan lagi mereka antara 1992-1994 ke Burma. Namun sejak 1996 pengungsi mengalir kembali ke arah Bangladesh.

Diskriminasi yang paling jelas adalah pembatasan bepergian. Jika etnis Rakhine tidak dikenai keharusan untuk mendapat izin dalam bepergian, maka etnis Rohingya sebaliknya. Kerusuhan antara umat Muslim dan Buddha di tahun 2001 menyebabkan mereka mendapat pembatasan yang lebih ketat.

Selain larangan bepergian hal lain yang dhadapi etnis ini adalah kerja paksa. Kerja wajib yang jamak ditemui pada masa pra-kolonial dan masa kolonial amat mudah ditemui pada komunitas Rohingya. Malahan tampaknya kehidupan NaSaKa (Pasukan penjaga perbatasan) tidak bisa hidup tanpa kerja paksa yang diterapkan pada etnis Rohingya. Mereka digunakan untuk apapun, mulai dari mencari bambu, menggali parit, sampai memperbaiki jalan.

Seluruh kondisi ini menunjukkan bahwa sebenarnya pemerintah Burma tidak mengizinkan etnis Rohingya untuk ada. Bahkan daripada mengakui keberadaannya kemudian membunuhnya, yang mereka lakukan adalah berkata mereka tidak ada selagi menghapus segala kemungkinan bagi mereka untuk diakui sebagai warganegara, dan memarginalkan penghidupan kaum ini. Ini berarti kaum Rohingya berhak tidak mengakui pemerintah yang tidak mengakui keberadaannya.

Lebih luas lagi, tidak hanya etnis ini yang menghadapi tantangan serupa di Burma. Ada etnis Karen yang Kristen di pedalaman Burma, juga suku-suku kecil di daerah pantai, contohnya adalah orang laut yang berbicara verian bahasa Melayu yang lebih tua daripada yang kita kenal saat ini. Mungkin memberi dukungan langsung pada revolusi para Biksu di Burma adalah ide yang baik.

Diaspora Rohingya?

Kaum Rohingye yang lari dari tanahnya sendiri kini tersebari di berbagai belahan dunia Islam. Namun kondisinya tidaklah seindah yang dibayangkan. Meski wajah mereka tidaklah berbeda dengan masyarakat bangladesh lainnya mereka tidak terasimilasi dengan warga Bangladesh lainnya. Bahkan saat tulisan ini sedang ditulis berita teratas situs free Rohingye adalah diperkosanya gadis Rohingye oleh dua orang penarik becak Bangladesh.5

Meski memang diaspora Rohingya ada di berbagai belahan Muslim, keberadaannya tidak dapat dikatakan kuat. Mereka tidak cukup kuat dalam mendukung Rohingya yang ada di tanahnya sendiri dan menunjukkan ke dunia luar bahwa mereka ada. Belum lagi negara-negara Arab yang relatif sejahtera tidak pernah mensejahterakan imigran-imigran dari anak benua.

Bagaimana ke depannya?

Dari sejumlah cerita yang ada tampaknya tidak ada harapan bagi mereka. Diaspora Rohingya di berbagai negara Muslim juga tidak pernah sejahtera. Di Bangladesh (kebanyakan direpatriasi ke sini) mereka menghadapi kondisi tanpa kewarganegaraan dan tanpa penghidupan. Masyarakat Saudi (juga Yaman, Uni Emirat, dan negara Arab lain) memiliki reputasi buruk dalam menangani pendatang, tanya saja para TKI kita.

Jika saja pemerintah kita bersedia berbaik hati maka Pulau Galang dapat dibuka lagi. Meski membantu para manusia perahu ini tidaklah memiliki prestis sebesar manusia perahu dari Vietnam, jumlah mereka relatif kecil. Jika perlu pintu untuk naturalisasi sedapatnya dibuka lebar-lebar bagi mereka. Masyarakat kita memiliki daya asimilasi yang besar terhadap sesama Muslim, niscaya mereka akan segera berbaur dalam masyarakat kita.

Tak perlu kita bertanya apa yang terjadi di Dunia Islam sehingga warganya tidak mendapat perhatian semestinya. Mungkin kita perlu mendukung pemberontakan bersenjata di sana, setidaknya pemberontakan etnis Karen masih berlangsung!

1Ishaan Tharoor, Flight Risk, TIME 20 Januari 2009, halaman 34

2Laporan Amnesty International dalam Myanmar: The Rohingya Minority: Fundamental rights denied, Amnesty International 19 May 2004, halaman 3

3International Religious Freedom Report, http://www.state.gov/g/drl/rls/irf/2006/71335.htm, dibuka tanggal 27 Januari 2009 pukul 21:49 WIB

4Amnesty International, halaman 6

Iklan