Diawali malam yang agak aneh di bulan Desember. Nyangkut, ketemu Mas Jay di Galeria pas lagi ada diskon buku. Pas banget lagi nyari buku untuk kado ultah Kak Yunus. Untuk Kak Yunus kuberikan saj buku yang sudah terkenal bagus, “The Hobbit.” Tapi mata ini tergerak untuk belanja lagi. Akhirnya kupilih “chicken with plum” dari Marjane Satrapi, setelah menyingkirkan Laika.

Saat itu saya betul-betul tidak kenal siapa itu Satrapi. Padahal cara termudah menilai buku adalah dengan melihat siapa pengarangnya. Tapi karena mas Jay datang untuk mencari buku tersebut pelan-pelan terpedaya juga diri ini oleh rayuan penerbit.

Yah, ceritanya adalah akhir hidup Nasser Ali Khan seorang musisi tar (alat musik petik khas Iran)  yang tiba-tiba memutuskan untuk mati saja. Mengapa? Karena hidupnya sudah patah bersama dengan tar-nya. Beberapa waktu setelah tidak dapat menemukan pengganti tar-nya ia memutuskan menunggu saja ajalnya

Kisah masa lalu dan masa depan Nasser Ali Khan berkelaebat dituturkan oleh Satrapi dari sudut pandang orang ketiga. Dunia esoterik para darwis yang menghiasi hidup Nasser Ali tidak tergambar seperti pengalaman mistis murahan para dukun televisi Indonesia.

Sebenarnya setelah saya baca terasa sebagai plot patah hati yang “umum.” (ups, sorry) Tapi ia memberi pelajaran tentang cinta, kata blog ini. Ah, untuk kalian yang belum membaca buku ini, cinta ternyata bisa diikat dan dijinakkan. Tapi akankah ia menyakitkan lagi seperti kerbau yang sudah hilang cocok hidungnya?

Buku yang ringan, ada yang bilang begitu. Begitupun temanku menyebut ceritanya aneh. Tapi kubilang saja, “Tidak terlalu aneh. Manusia saja yang kadang tidak mengakui bahwa dirinya bisa seperti itu.” Tapi mungkin ia menyebut buku ini aneh karena dunia esoteris yang diceritakan oleh Satrapi.

PS: lagi mellow makanya inget buku ini (memang, ada yg nyebut aku “ikhwan mellow”)

Iklan