Wajah penuh duka menghiasi Pura Pakualaman hari ini, tak lain dan tak bukan karena kepergian seorang matron yang dicintai. Ibunda Sri Paduka Paku Alam IX, KBRAy Purnamaningrum wafat dini hari tadi (Selasa 6/1) pukul 02.15 WIB di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta. Ia wafat pada usia92 tahun dalam hitungan tahun Jawa, namun jika dihitung dengan tahun masehi berumur 90 tahun 6 bulan 23 hari.

Setelah jenazahnya disemayamkan di Pura Pakualam siang tadi sekitar pukul 13.00 jenazahnya diberangkatkan menuju peristirahatan terakhirnya di Astana Girigondo yang merupakan makam keluarga Pakualaman yang terletak di sebuah perbukitan di Kulonprogo. Sayang saya beserta teman-teman Pramuka UGM tidak bisa mengantar sampai di pemakaman.

Beliau meninggalkan putra sulungnya, KGPAA Pakualam IX, Wakil Gubernur DIY, Ketua Kwartir Daerah Istimewa Yogyakarta, beserta tiga putra lainya, empat putri, 27 cucu, dan 28 cicit.

Sungguh bukan pengalaman menyenagkan, pertama kali memasuki balai utama Pura Pakualaman dalam keadaan duka seperti ini, tetapi memang memberikan penghormatan, sebagai Pramuka, kepada ibunda Pakualam adalah satu-satunya kesempatan membalas kebaikan keluarga yang telah memberi kepada Gerakan Pramuka.

Iklan