Beberapa waktu lalu Roy Suryo bikin ulah lagi.i Ia melaporkan Dewa dengan tuduhan telah menghina bendera kebangsaan Indonesia. Dewa telah memasang logo band tersebut persis di tengah kain merah putih yang menjadi latar blakan video klip mereka. Terlepas dari ulah menyebalkan selebritas asal Yogya tersebut (I was hardly ever agree with him) kita patut mengkaji masalah yang ada di belakangnya. Penggunaan logo dan bendera kita.

Ada satu istilah yang layak kita perbincangkan national colour, warna nasional. Kita bisa merujuk makna harfiahnya, warna nasional, warna yang ditunjuk-tunjukkan oleh warga Negara yang menyatakan mereka Nasionalis. Biasa diambil dari warna yang ada di bendera kebangsaan, seperti Merah-Putih-Biru untuk AS dan Perancis. Atau ada juga yang tidak ada hubungannya dengan bendera Negara tersebut seperti oranye untuk Belanda. Namun sering juga National Colour secara istilah merujuk pada bendera kebangsaanii, yah memang istilahnya begitu di Bahasa Inggris. Untuk negeri ini kita punya bendera kebangsaan “Bendera Merah-Putih” dan warna kebangsaan merah-putih.

Warna Nasional ini amatlah lazim digunakan sebagai bagian ekspresi nasionalisme, baik di ranah budaya maupun politik. Lihat saja logo kampanye Obama, atau lambang partai ultra-kanan Perancis. Lihat saja seragam tim nasional sepakbola Belanda. Betapa warna nasional bisa menjadi bagian dari ekspresi sehari-hari mereka.

Apa hubungannya dengan kasus Dewa? Kita bisa bilang bahwa bendera kita yang sangat sederhana tidak bisa tidak jika ingin menggunakan warnanya untuk menggambarkan Nasionalisme kita kita pasti akan menggunakan sesuatu yang mirip dengan bendera tersebut. Lalu apa bedanya antara bendera kebangsaan dengan sekedar “warna nasional” ini?

Pengertian bendera kebangsaan dalam PP no 40 tahun 1958iii pasal 1 adalah “Bendera kebangsaan Sang Merah Putih, selanjutnya disebut Bendera Kebangsaan, berbentuk segi-empat panjang, yang lebarnya dua-pertiga daripada panjangnya; bagian atas berwarna merah, dan bagian bawah berwarna putih sedang kedua bagian itu sama lebarnya.” Oleh karena itu semua benda berwarna Merah-Putih yang ukurannya tidak sesuai dengan perbandingan ini bukanlah bendera Merah-Putih!

Tentu saja! Kita bebas untuk memasang logo apapun, seperti yang Dewa lakukan, diatas kain dengan warna nasional kita selama kain itu tidak memenuhi syarat untuk disebut bendera. Dengan kata lain PP No 40 tahun 1985 tidak berlaku untuk semua kain dengan warna Merah-Putih di negeri ini. (Dengan logika yang sama kita bisa menuntut penjual yang menjual bendera dengan ukuran yang salah dengan alasan “penipuan”)

Dengan alasan kelaziman kita bisa berkata bahwa penggunaan warna nasional yang diimbuhi logo pribadi atau logo apapun bukanlah tindakan menghina. Itu adalah bagian dari ekspresi nasionalisme kita. Ketika kita menunjukkan pada dunia bahwa Indonesia adalah merahnya darah dan putihnya tulang kita!

BTw, kok aku mau-maunya kebawa isu yang dibikin Roy Suryo ya? Dasar!

i Nih beritanya!

ii Colour bisa berarti bendera, cek aja nih.

iii Hati-hati pasal karet! Sempatkan baca PP No 40 tahun 1958 ini. Contoh pasal karet di pasal 21 ayat 2, bendera kebangsaan tidak boleh “digambar, dicetak atau disulam pada barang-barang yang pemakaiannya mengandung kurang penghormatan terhadap Bendera Kebangsaan.” Ada ide barangnya apa?

Iklan