Masih kuingat ketika ku dulu di ITB memegang siaga yang ada di Pramuka ITB. Gajah Dungkul, itulah perindukannya. Tak bisa tidak, aku harus mengakui inkompetensiku menyebabkan aku tak mampu menyelamatkan atau menghidupkannya ketika ia ada di nadirnya. Menyelamatkan diriku sendiri saja tidak bisa! (nah kan, sekarang aku ada di UGM bukan di ITB)

Sekarang aku kembali lagi menanggung kewajiban untuk membina. Gejolak mudaku membuatku ingin tak jauh dari merka yang seumuran denganku. Aku hanya ingin berkegiatan seperti yang saat ini sedang kujalani. Aaah, sod it all! Racana butuh orang untuk membina siaga!

Mau tidak mau, aku harus mengalah selama aku masih ingin melihat Racana berjalan, dibidang binan-membina. Buat apa uang 200 ribu dari UGM yang kunikmati untuk KMD di UnSoed jika aku tidak membina? Uang rakyat dul!

Akhirnya kunikmati juga membina!

Siang tadi adalah latihan Pramuka terakhir tahun ini bagi SD Taruna Imani. Aku dan partner membinaku, Cici, memberikan sedikit jalan-jalan. Yah, aku memang sudah Pandega dan ia masih Calon Pandega, tetapi aku tetap memberika salutku padanya.

Ketika aku memberi perhatian pada sedikit anak-anak yang “sulit” (istilah kerennya Anak Berkebutuhan Khusus/ABK) dialah yang bisa menguasai anak-anak tersebut secara keseluruhan. belum lagi kondisi latihan pramuka yang tidak terprogram (penyakit sejak di ITB!) banyak sekali terbantu dengan kehadirannya yang cukup kreatif.

Jadi ingat juga dengan partner baruku yang sangat cerdik dalam mengatasi anak-anak itu. Juga Bu Rina, guru mereka, yang sudah terbiasa menghadapi anak-anak tersebut.

Wuah!!!

Dengan adanya mereka akhirnya aku bisa menikmati lagi hubungan dengan anak-anak. Jumlah mereka yang cukup ideal untuk perindukan (gak lebih dari 30) memberiku cukup nafas untuk memperhatikan apa sifat dan keinginan mereka. Luar biasa.

Baru kusadari tadi arti kerinduan anak kepada orang tuanya ketika Jundi ditengok oleh ayahnya. Ia menangis, ingin ikut pulang bersama dengan ayahnya. Tangisannya pun belum reda ketika aku dan Cici meninggalkan Taruna Imani sore itu.

Kusadari juga peran kawan dalam mendidik diri sendiri ketika Alia diisengi teman-temannya. Ia harus menjawab sendiri tantangan temannya! Maka jadilah ia harus melakukan hal-hal yang ia tak mau. Memanjat pohon, berlari, memperebutkan barang sendiri, hal-hal yang tampak normal bagi anak-anak untuk dilakukan. Bahkan keisengan anak-anak harus dinilai bukan sekedar keisengan yang harus dimarahi, tetapi digunakan untuk memberi tekanan pada temannya

Banyak lagi yang harus kupelajari dalam mendidik anak. Aku yang tak percaya pada homeschooling, boarding school, fullday schooll, dan semacamnya harus belajar lagi. Mau dijadikan seperti apa anak-anakku nanti? Sekolah dengan kelompok yang kecil, seperti juga SD Muhammadiyah Belitung di Laskar Pelangi, tampaknya memberi sesuatu yang lebih bagi anak-anak. Yah, setidaknya agar ana-anakku tidak meringkuk berkutat dengan buku saja seperti diriku

Soal kepemimpinan dan inisiatif mungkin akan anda temukan dalam bentuk kenakalan anak atau ketidakpatuhan lainnya. Sebagai rekan merak yang lebih tua apa yang bisa kau lakukan? Buat mereka bertanggung jawab atas kenakalan mereka! Itu yang ku lihat ketika mereka sibuk membenahi tas manik-manik Alia yang rusak karena mereka.

To hell! Mengapa hal seperti ini tak kulihat di masa kecilku dulu? Selalu saja ada mereka yang meilih untuk tidak bertanggung jawab.

Siang tadi, di sebuah lapangan rumput di dekat pool bus Monjali ku lihat anak-anak dengan berbagai macam watak. Beberapa dari mereka mungkin akan anda sebut “tidak normal”, tapi bagi mereka yang anda sebut “normal” anda harus mengakui bahwa mereka telah belajar menjadi luar biasa. Siang tadi aku merasa ditengah anak-anak luar biasa.

Untuk saat ini, seperti inilah perindukan siaga yang mendekati ideal. I love it, and I want the tittle now, a Cubmaster!

Iklan