Kampusku rumahku
Kampusku negeriku
Kampusku kebabasanku
Kampusku wahana kami
Di sana kami dibina
Menjadi manusia dewasa
Namun kini apa yang terjadi
Ditindas, semena-mena…

Stop! Nyanyian milik anak-anak ITB ini aku tak bisa lanjutkan lagi. Aku berhenti. Entah kenapa bukannya rasa sepenanggungan dengan rakyat di luar kampus yang kurasakan, malah rasa elitisme yang kurasa ketika kulanjutkan nyanyiannya.

Berjuta rakyat menanti tanganmu
mereka lapar dan bau keringat
kusampaikan salam-salam kelaparan
kami semua cinta-cinta Indonesia

Ya, berjuta tangan menanti menggapai-gapai menanti uluran tangan siapapun yang mampu mengentaskan mereka dari ketersudutan mereka. Tapi haruskah kita dari kaum menara gading menerima pulung kedhaton itu? Bukannya menolak habis kewajiban itu, tapi tidak ada Ratu Adil di dunia ini bung, apa lagi kita yang di kampus. Kita bukan The Salvation Army, Bala Keselamatan. Kita datang, maka tanah-tanah yang ditapaki jejak kita menjadi subur seketika.

Sembari berpikir tentang diskusi BEM-KM UGM tentang kemiskinan. Oh ya, menghadirkan Wiranto, orang yang tidak saya percaya.

Iklan