Untuk kedua kalinya aku merobek selebaran yang tertempel di kampusku. Bukannya tidak suka alias benci terhadap organisasi yang membuat pamflet tersebut, bukan. Aku katakan bukan itu. Aku MALU. Ya, aku MALU terhadap saudara-saudaraku!

Sebuah organisasi bernama Hizbut Tahrir. Organisasi yang cukup militan dan lumayan keukeuh dalam dakwahnya. Tiap pamflet, ceramah, maupun orasinya selalu tanpa tedeng aling-aling menunjukkan agenda utama mereka. Kembalikan kekhilafahan.

Niatmu mulia, tapi lebih cerdaslah.

Beberapa waktu yang lalu ketika krisis finansial di AS kian parah muncul selebaran di FIB yang berbunyi intinya berbunyi, mungkin gak persis tapi intinya seperti ini, “Tinggalkan dollar, kembali ke mata uang emas.” Di bawahnya tertulis: “Muslimah Hizbut Tahrir FIB.”

Ampun! Gak tau tentang dollar sok-sokan mencacinya. Tidak tahukah ukhti bahwa Dollar itu dijamin dengan emas?

Baru tadi sore aku kembali dibuat malu. Muncul kembali selebaran bertuliskan “Tinggalkan kapitalisme, kembali ke ekonomi Islam!” Lagi-lagi aku merobeknya! Kali ini aku sedang mengobrol ruwet bersama rekanku Tanaya tentang masa depan sejarah (nah, ruwet kan!)

Ukhti, lagi-lagi anti harus belajar lebih jauh lagi. Ekonomi Islam itu apa? Gak beda kok dengan kapitalisme, cuma tanpa riba. Plus filantropi, juga kaum lemah yang diperkuat ala Muhammad Yunus. Kalau ukhti belajar lagi di sejarah Indonesia, yang namanya Syarikat Islam, lanjutan Syarikat Dagang Islam, adalah organisasi kapiitalis pribumi (muslim) untuk melawan kapitalis Cina. Lebih jauh lagi bagaimana dengan para sahabat.

Saya tidak anti Hizbut Tahrir. Dua orang sepupu saya adalah oranmg Hizbut Tahrir. Yang mendorong saya lengkap shalatnya juga teman saya yang Hizbut Tahrir. Tapi kedepankan ilmu sebelum amal dong.

Iklan