Beberapa waktu lalu kita ribut dengan hadirnya seorang yang mengaku sebagai Supriyadi. Setelah bertahun-tahun statusnya di buku sejarah kita disebut “hilang” kita menyaksikan kini mereka yang mengaku sebagai Supriyadi dapat membuat tim sepakbola.

Baiklah sebelumnya, siapa Supriyadi bagi kita? Menurut buku sejarah resmi Supriyadi adalah pemimpin pemberontakan PETA di Blitar pada 14 Pebruari 1945. Oke, itu adalah Supriyadi dengan pendekatan “hidup adalah perbuatan.” Tapi jika kita menilai Supriyadi dalam benak orang banyak? Mau tidak mau kita harus mengakui kisah Supriyadi diselubungi mitos. Dialah orang yang tidak ketahuan rimbanya tetapi diberi jabatan mentri. Dialah orang yang sepertinya tidak dapat lolos dari tentara Jepang tetapi olh orang banyak dianggap memiliki ilmu menghilang.

Asvi Warman Adam di Kompas mengaitkan kemunculan lagi “Supriyadi” dengan mentalitas bangsa kita (orang Jawa?) akan kemunculan sosok messianistik. Di saat yang sulit mudah saja seseorang dengan “kemampuan” tertentu memberi harapan-harapan akan perubahan. Mungkin yang bergumul dengan maslah sosial dan politik kontemporer bisa merujuk hal ini dengan kemunculan parta-partai yang tidak lepas dari tokoh-tokoh.

Itulah dia, nama Supriyadi besar bukan karena pemberontakan yang ia lakukan saja. Namanya menjadi besar karena ia menjadi bagian dari mitos! Bahkan pengakuan Andaryoko pun bisa ditebak berlanjut ke mitos-mitos lainnya seperti G30S dan naiknya Soeharto. Untungnya ia tidak menyebut memegang kunci “harta karun” Bung Karno.

Mau tidak mau inilah pekerjaan Sejarawan. Para sejarawan seharusnya mengakui keberadaan mereka di menara gading universitas dan lembaga penelitian gagal menyentuh lubuk sanubari orang kebanyakan

Kini kasus Andaryoko sudah dilupakan. Ia dan keluarganya mungkin mewakili ingatan pribadi mereka melawan ingatan kolektif kita. Tanpa harus menghukumi, pantaslah kita merenungi cara kita memahami pahlawan dan cara kita memahami siapa kita.

Bung Karno pernah mengeluarkan slogan JAS MERAH! Seperti teladan yang telah ia berikan pada kita, sudah seharusnya kita JAngan Sungkan MElupakan SejaRAH.

Iklan