*Huff, berlanjut setelah kamis yang aneh, kemarin saya mengalami Jum’at yang luar biasa! Bukan apa-apa, saya merasakan apa yang tidak mungkin saya percaya ternyata terjadi!

Sebenarnya hari Jum’at kemarin diawali biasa saja. Telat bangun sampai akhirnya bukannya kuliah malah nyasar ke PMI untuk sekali lagi donor darah yang gagal sebelumnya. Ba’da Jum’at diisi bersih-bersih sanggar yang hanya bertiga (dgn Mas Arik & Winda). Abis BBS langsung aja aku ngeloyor menuju demangan baru untuk bikin duplikat kunci rumah.

Balik dari demangan baru ternyata hujan. Deras pulak. Daripada sakit dan ada yang khawatir akupun berteduh di sebuah apotik yang sedang tutup. Dinginnya cuaca waktu itu membuatku tertidur. Angin kencang dan hujan yang sangat deras tidak membuatku tertarik. Di Bogor biasa begini. (Tapi tidak di Yogya!) Gak lama aku mendapat sms dari Antin, konon katanya hujannya serem, UGM dan kantornya hancur. UGM hancur?

Hunjannya reda sedikit aku langsung cabut ke kampus. Sampai Kolombo ternyata depan UNY sudah banjir. Tanpa peduli aku maju terus. Mesinku gak bakal mlepek, wong mesinku ya di dengkul ini. Buset dah,.. Sampai di ujung banjir setangku kerasa goyang. Kukira headsetku bermasalah, berhentilah aku mengeceknya. Ternyata stemnya kendor. Gak kebayang kalo aku terus dan tiba2 handlle barku copot.

Langsung cabut terus ke kampus. Ya ampun perempatan sagan berantakan tanpa lampu lalu-lintas. Aku terus melaju, wah ada pohon tumbang di SMED-C. Gak peduli, terus ke arah FIB, sampai maskam ternyata jalan ditutup. Bodohnya aku! Aku masih belum sadar apa yang terjadi. Langsung ke arah boulevard.

Whoaa,…

Pohon-pohon tumbang. Orang-orang mengambil foto. Ya Allah, pemandangan gini kan biasanya di Jakarta? Apa orang-orang UGM cukup bodoh menanam pohon yang gak kuat? eh, ada beringin yang juga roboh! Satpam masih sedikit yang keluar. Ku lihat gerobak yang tertimpa pohon. Ya Allah.

Aku menuju PPTIK, kantornya Antin. Humm, gak ada jalan masuk. Sepandangan mata kulihat gelanggang. Sama parah. Ku telpon Antin, nanyain kabar. Apalagi melihat kantornya yang seperti kejatuhan bom di sebelahnya,..

Akupun berniat menuju gelanggang lagi. Tapi dua jalan dari boulevard ke gelanggang sudah tertutup pohon yang ambruk. Balik lagi aku menuju bunderan. Di sana aku bertemu Hendra (anak Menwa). Dia sendirian berusaha mencegah kendaraan masuk ke UGM. Padahal Makonya pun berantakan gara-gara badai barusan. Do a good turn daily. Aku pun berhenti di sana berusaha agar gak perlu ada lagi yang masuk, sudah ribet bung! Ternyata banyak juga wisatawan bencana yang nekat masuk. Satpam pun tak datang-datang. Aku tak sadar, aku di sana sampai jam 5.

Setelah Satpam datang, begitupula Polisi. Kulihat ada relawan antah berantah mencoba masuk dan memprotes Satpam. Aku tak peduli, sudah cukup orang di sana. Aku pergi berusaha masuk ke gelanggang. Ternyata tidak ada jalan untuk masuk. Daripada merepotkan aku berbalik di depan Gamabook Plaza dan masuk lewat BNI. memang gak ada jalan, Tapi bayangkan saja kreativitas orang dengan sepeda gunung.

Berantakan!

Gelanggang juga hancur minah, KOPMA atapnya beterbangan. Setelah meletakkan tas di sanggar aku ikut ke kafetaria. Ya Allah,.. baru lihat kafetaria dipenuhi air seperti itu. Ternyata anak2 sejarah yang nyangkut di Gelanggang banyak juga. “BKMS-Perjuangan” Tak lama ikut keluar. Lagi-lagi berusaha menutup jalan, agar orang-orang tidak berusaha masuk UGM. Apalagi yang bermaksud motong jalan. Datanglah rombongan gerobak aneka macam yang harus disebrangkan. Polisipun datangnya cukup lama. Akupun akhirnya baru shalat ashar 17.25! Setelah shalat aku langsung balik ke tempat tadi. Ya ampyuuun, macetnya.

Huff, malam itu aku pulang ke rumah tanpa menginap di sanggar yang dipenuhi barang2 unit lain.

Iklan