Siang tadi, sesudah kuliah mampir ke sanggar. Ada obrolan mengenai donor darah bersama, berangkat besok dengan bis UGM, entah siapa yang mengadakan. Bau-baunya sih BEM, karena ada borang yang diedarkan dari mereka. Karena besok kuliah di jam yang sama ku putuskan berangkat sendiri siang ini. Aku lupa ternyata sudah lewat tiga bulan sejak terakhir mendonorkan diri.

Sebelum ke Tegalgendu aku makan dan shalat dulu, kembali ke kampus. Lumayan, makan nasi Padang Bonbin yang selalu bikin aku terlalu kenyang. =p Setelah shalat langsung aku menuju ke tegalgendu, baru keluar FIB sedikit ketemu Simbah dengan UNited Exotic-nya. Sebagai sesama pesepeda kusapalah dia. Ketika kulihat ke atas langit sudah mendung, bikin ketar-ketir, akan hujankah?

Wah benar! Tepat di selatan lempuyangan sudah mulai hujan rintik-rintik. Sampai Kusumanegaran pun masya 4JJl hujannya. Tapi beruntung, lalu-lintasnya aku sukai karena cukup padat. Aku bisa membuntuti mobil untuk menghemat tenagaku. Sambil ngaca di kilapan mobil di depanku. “Subhanallah aku keren juga diatas sepedaku ya?” Tapi empat ratus meter sebelum jalan Pramuka kering kerontang! Crazy November weather! Huff aku bakal sampai di PMI basah kuyyup sedang situasinya kering gini!?

Nyatanya aku sampai di PMI basah kuyup. Sedikit sapa dengan penjaga parkir, kuperhatikan bahwa aku tidak berkeringat berlebihan seperti biasa. Oke, aku sudah terbiasa nyepeda jarak sejauh ini (UGM-Kotagede), atau taktik slipstreaming di belakang mobil benar-benar menghemat tenagaku? Langsung saja aku ngeloyor ke tempat donor. Di sana suasana cukup ramai, ada beberapa perawat yang rupanya dari luar Yogya. Sedang PKL katanya. Ketika tekanan darahku di cek hasilnya,… 100-110. “Wah mas, yang bawahnya ketinggian.” Karena aku bukan orang dengan pendidikan kesehatan akupun bertanya “Jadi?” Dijawabnya aku, “Nggak boleh Mas.” Hufff, siaaaal T_T Sempat-sempatnya pula ia bertanya, “Masnya basah kehujanan apa keringetan?”

*Aaargh*

Ya sudah kulanjutkan perjalanan pulangku dengan sedikit ngedumel. Kurang istirahatkah aku? Orang kebluk seperti aku krang tidur? Yah, aku masih kurang banyak istirahat tidur. “Aku butuh tiduuur…” Maunya sih teriak seperti itu selagi aku lompat dari trotoar setinggi 30 cm di pertigaan Tamansiswa. Heh, untung sepedaku ada suspensinya,…

Yup! Pelan-pelan kususuri Kusumanegaran, ku cek standar sepedaku, ternyata tidak turun setelah lompatan tadi. Lanjut pelannya, baru aja melanggar lampu merah jadi gak perlu mancing kemarahan pengguna jalan lain. Eh jalannya masih sepi, jadi ketika di pertigaan aku bertemu lampu merah aku langsung menuju pojok marka pembatas jalan. Tenang saja ku melamun sambil menunggu lampu tersebut,.. “The assumer, beware of the assumer moron on the intersection”

1,2,3,… GO!!!!!

Entah apa yang ada di pikiran orang-orang di sebrangku. Mereka menganggap pertigaan adalah garis start sirkuit Sentul mungkin. Seorang anak berseragam SMA tiba-tiba hampir menyambarku, membuyarkan lamunanku.

Astaghfirullah,..

Gak sempat lagi nafas ada seorang cewek SMA dengan Myo hitam (entah apa, yang jelas skuter matik) dibelakang cowok tadi. Gila!! Disenggolnya setang pitku!

Astaghfirullah!!!

DIAN**K!!

Entah bagaimana, bisa-bisanya aku minta ampun kepada Allah tetapi dilanjutkan langsung mengumpat. Huff, aku benci motor matic! Dulu h2 kali hampir diserempet Honda Vario, sekarang di senggolnya pulak

Iklan