Rabu Iseng, Trio Mas Getir

Tadinya hari rabu itu hanya akan jadi kumpul rabuan biasa. Tetapi setelah kumpul-kumpul, acara jalan-jalan kuliner diadakan. Akhirnya dengan buka sedikit plus shalat maghrib malam itu kami ke rumah makan “Sari Echo” Pesenannya agak-agak lucu juga. Nasi goreng telur ayam babat udang… dll, dst, dsblah. Namanya yang sebegitu panjang memang tidak menyebut bahwa nantinya jika menyantapnya kita akan kenyang. Benar saja ketika piringnya datang langsung ada komentar “sedikit amat, boleh nambah?” (off the record, itu dari orang yang paling kecil)

Akhirnya semua pulang lagi. Humm, lapar lagikah nanti? Tapi selagi pulang saya bertanya “Pisah di aman nih? Kayaknya aku masih mau muter.” Langsung di jawab Angga dan Bunje, ayo muter aja! Akhirnya bertiga mengayuh lagi. Mencoba membuktikan bahwa meski groupsetnya Tourney dengkulnya Altus (Kalo XTR atau Dura Ace gak sampailah).

Perjalanan dilanjutkan menyusuri selokan dari di utara Teknik. Sampai di AM Sangaji ad aide untuk ke atas lagi. Sampai akhirnya kami menyusuri jl Palagan. Ada pertigaan kami berbelok ke kanan, menuju Jakal. Sampai di jakal, ternyata kami keluar di Jakal km 8,5. Karena masih belum puas maka kami teruskan saja perjalanan kami sampai akhirnya ada yang bilang “UII.”

“UII kan km 12,5? Kok belum sampai?” begitulah pertanyaan yang muncul ketika kami sampai di km 12,5. kami teruskan saja. Jalanan sudah mulain menanjak dan menanjak. Barulah kusadari sepeda Buje single-speed! Nanjak dengan single speed!

Setelah menanjak sedikit lagi barulah kami sadari, UII terletak di km 14,5!

Saturday Nite Ride, on-road Version

Sabtu 27 September lalu jadi saksi keisengan empat pemuda. Alih-alih mengisi sabtu terakhir dengan malem mingguan berdua, atau ngajilah (ramadhan bo!) mereka malahan nggenjot sepeda mereka sepanjang jl Palagan. Keempat pemuda tersebut adalah Angga (Dahon), Buje (apa ya sepedanya? Sepeda rekondisi gitu, single speed!), Adit (Polygon Tango), dan Thyo (lupa nama sepedanya, fulsus).

Inisiatif jalan-jalan datang dari Angga. Dengan gerilya memanggil kawan-kawan melalui sms. Sabtu 27 September ditunggu di Bunderan UGM 18.30. Akhirnya terkumpullah empat pemuda iseng tersebut. “Kemana kita?”

Pakem adalah tujuan kami selanjutnya. Melewati jalur yang sudah dilewati sebelumnya, jl Palagan. Di pertigaan yang menuju Jakal km 8,5 sebelumnya kami terus saja melewatinya. Ada jalan yang menuju Pakem di atas sana adalah pemberi semangat kami. Untuk kami yang biasa melewati ramainya kota, jalanan kana-kiri yang merupakan pemukiman amatlah sepi. Kira-kira bisa disebut Suburban-lah.

Sampai akhirnya kami bertemu dengan pertigaan yang akan menghubungkan kami ke Jakal. Jalannya lumayang ramah. Menyambut kami dengan turunan. Tapi senyum kami lagsung hilang, ada tanjakan yang ‘lumayan.’ Padahal baru saja setel gigi tinggi, dan gak sempat turun gigi. Kriet-kriet-kriet bunyi kayuhan dengkul Tourney saya mencoba menaklukkan tanjakan pendek… Jalan menuju Jakal lumayan jauh tetapi relative lebih banyak warung, tetapi kami tidak berhenti di sini. Kami terus saja.

Kok ke Kiri!” Itu adalah teriakan panic seorang dari kami ketika saya mengarahkan rombongan ke arah utara jalan Kaliurang. Panik. Rupanya sudah ada yang ingin kembali ke kota. Rumah makan Sate kambing di kanan-kiri jalan menggoda say untuk mengisi perut lagi. Makanan ketika buka tadi masih terasa di perut, bukan kenyangnya tetapi siapa yang menemani makan yang memberi kekuatan untuk terus. “Oke kita berhenti kalau ada angkringan!” namun ternyata kami tidak menemui angkringan hingga akhirnya kami berhenti di warung di depan Polsek Pakem.

Sepanjang jalan turun kami mencari angkringan lagi. Tetapi angkringan UII kami lewatkan begitu saja. Kami baru berhenti di angkringan di depan Asrama Putri Antahlah (lupa). Sedang enak-enaknya menikmati susu jahe, lewatlah 3 sepeda gunung. Cuma satu yang bisa kami kenali, mas Miqdad dengan nemesisnya. Tapi kayaknya sih ada mas Indy juga.

Akhirnya kami menikmati turunnya jalan Kaliurang. Coast… Coast

Rain Raid Ride

Inilah dia, cerita Semalam (7 Oktober). (Aditthegrat, Angga, Bunje, Imam, Wildan, Moco, & Dhita) Sejujurnya ini diawali oleh niatan diri sendiri untuk jalan-jalan.  Belum lagi rasanya iri melihat kehadiran 1PDN di Bogor, kampung sendiri tuh! Kuajak Angga untuk menaklukkan Xurang (biar keren namanya kali diganti X). Tapi sungguh apa bisa dikata, semangat sama sekali drop! Makanya berangkat kumpul rabu pertama setelah lebaran ini agak2 ragu juga. Jadi gak ya?

Sampai di Bunderan di sambut oleh rekan2 B2W yang dipayungi awan mendung. Benar saja. Tak berapa lama duduk di ujung boulevard rintik-rintik air hujan turun. Akhirnya kami menuju sekretariat. Angga akhirnya datang juga, di tengah-tengah hujan, diledek mas Indy yang pura-pura bersin di Forum. “Gimana? Jadi?” Jawaban yang ku beri tidak memberi semangat. Akhirnya meski hujan turun, rasanya semuanya kok garing? Sore itu diisi dengan obrolan ringan dgn mas Imam, Moco, dan juga yang lainnya. Akhirnya sehabis adzan maghrib kami malah ngobrol ngalor-ngidul. ke mana nih? Makan di pendekar yuks? tetapi karena Moco mau ke Gramedia mencari buku akhirnya kami ke Gramedia dulu. Bocoran, di Gramedia salah seorang dari kami keasyikan kenalan dengan cewek. Kami pun ke informasi meminta agar ‘ayah’ kami dipanggil, tetapi ia sama sekali tidak menyadarinya!

Selepas ke Gramedia kami menuju Pendekar, berada di Selokan Mataram. Konon harganya lumayan, sepantardengan Sari Echolah. tetapi lagi-lagi diantara kami ada yang nambah. Padahal Angga saja tidak sanggup menghabiskannya. Tapi tentu saja, mengayuh sepeda ditengah dinginnya malam dan beratnya ban karena hujan butuh kalori lebih! Sebenarnya akupun ingin nambah…. Setelah makan, dilanjut foto dikit di depan rm Pendekar kami menuju rumah Moco. Coba lebih panjang, lewat-lewat kebon dikit sih. Sampai depan rumah Moco, dia agak-agak ragu ingin ikut melanjutkan perjalanan kami. Humm… Dhita dengan Citybikenya masih ikut nih.

Perjalanan kami lanjutkan menyusuri jl Palagan tentara Pelajar ke arah utara. terus, terus, terus. Belum ada tanjakan. tetapi karena sudah gelap ketika ada pertigaan kamipun berbelok ke arah Jakal. Jalanan lumayan sopan tetapi sepi, tipikal suburban gitu. Hingga sampai di Jakal tidak ada kajadian yang terlalu berarti. Sekali lagi, di Jakal berarti coasting… Wurrr…. Padahal ada dua sepeda dengan rem yang tidak optimal. Dhita dan Bunje. Hujan memang membutuhkan sentuhan yang berbeda. Di Banteng kami berbelok menuju Condong Catur. Karena rumah Wildan di daerah ini dan ia memilih pulang maka kami pun menuju rumahnya. Di sana kami melewati beberapa gongongan anjing, Satpam rumah sakit Concat yang senyum-senyum aja. Tepat di depan rumah Wildan Dhita ‘menabrak’, pelan kok. Akhirnya Rem belakang Dita pun dioperasi Bunje dengan “Uberbike Tools” yang dibeli di toko New Environment. Mantap juga toolsnya.

Perjalanan kami lanjutkan ke arah rumah Dhita. menyebran ring-road cukup mudah di tengah sepinya malam. Kami menuju satu-satunya Apartemen di Jogja. Melewati turunan yang amat sangat tidak dianjurkan untuk tidak menuntun sepeda! Hujan, gelap, licin, di ujung jalan ada palang. Apartemena sudah terlihat, kost Dhita sudah dekat. tetapi dinginnya malam membuat kami lapar lahi. Akhirnya kamipun mencari warung Burjo. Sialnya kebanyakan pedagang Burjo belum balik dari Barat sana. Tapi kami akhirnya menemukannya, di dalam lingkungan yang akupun tidak hafal. tetapi setelah menikmati hangat nya bubur, indomi, ditambah nasi (aku tidak memesan selengkap ini) kami pun ke rumah Dhita lagi. Salam perpisahan kami ucapkan ke Dhita yang tersipu melambai ke arah kami yang pergi ke rumah masing-masing.

Whew! What a night!

PS: Mengapa aku memberi judul roadlunker? Dulu sebelum para penjelajah gua dengan bangga mengambil istilah Spelunker. Kini itu berarti para perambah gua yang tanpa perlengkapan dan persiapan memadai. Kini penjelajah gua menyebut diri mereka Speleolog. Siapa kami? Kami adalah perambah jalanan, merambahi jalanan dengan sepeda kami seperti apa yang kami suka. HAIL THE ROADLUNKER!!!

Iklan