Memoir Kepahlawanan Reformasi1

Untuk pemuda sezaman, jangan lupa. Untuk anak cucu, jangan lupa!!!

Sebagai seorang yang dilahirkan pada paruh kedua dekade 80an saya hanyalah penyaksi reformasi ‘98. Seorang anak kelas enam SD yang dengan emosi yang teraduk-aduk menyaksikan (melalui media) kakak-kakaknya dihajar oleh aparat. Sebuah pelajaran dan interaksi emosianal tetang kepahlawanan ketika pelajaran sejarah gagal mangajarkan kepahlawanan dan kebangsaan. Pelajaran sejarah sama sekali hanya menjadi fakta-fakta yang disimpan untuk menghadapi lembar ujian.

Saya sama sekali buta tentang gerakan mahasiswa pada saat itu. Saya tidak peduli pada saat itu bentuk organisasi kemahasiswaan bernama “senat” ataukah sudah ada yang namanya “BEM” atau apalah. Saya juga tidak tahu tentang aliansi-aliansi antarkampus. Tetapi yang saya tahu adalah satu hal: mereka menyuarakan perubahan.

Itu adalah satu-satunya hal yang bisa saya baca dari buku pelajaran sejarah ketika itu. Pemuda sebagai motor perubahan. Di kelas 6 SD, kami semua belajar mengenai G30S/PKI (harus pakai PKI ya?) yang diikuti dengan munculnya gerakan mahasiswa untuk membawa perubahan. Mahasiswa sebagai motor perubahan, itu saja yang saya pahami. Dn perubahan tersebut haruslah mendasar. kenapa mendasar? Karena Tritura berisi hal-hal mendasar. Dua tuntutan pertama anti-PKI (pembubaran PKI dan pembersihan kabinet dari PKI). Artinya melenyapkan sekitar enam juta orang yang memilih PKI.2 Tuntutan terakhir adalah “turunkan harga.” Memang terdengar sangat pragmatis tetapi saya diajari bahwa hal itu tidak akan mungkin terjadi selama Orde Lama. Artinya Bung karno harus turun!

Hal yang sama terjadi juga di tahun 1998. Krisis ekonomi 1997, likudasi bank, penimbunan bahan pokok. Tiba-tiba semua orang berteriak. “Ada yang salah!” Tentu saja ada yang salah. Saya selalu diajari begitu oleh ibu saya! Dan ibu saya tidak pernah membohongi saya.3 (Berani bilang ibuku berbohong?!) Sudah saatnya kita punya pemimpin baru!

Akhirnya kegemaran saya membaca Koran memberikan pencerahan. Kondisi politik Indonesia bukanlah kondisi politik yang demokratis. (meski Orbaman4 menyebutnya Demokrasi Pancasila) Tiga partai yang stuck, tidak ada kemajuan? Partai yang harus dipimpin oleh ketua yang bersahabat dengan pemerintah? (ingat kasus Megawati! Akupun dulu Mega-Bintang) Aktivis-aktivis yang bergelar orang-orang hilang? Intel yang mengawasimu sampai di dalam kamar mandi?5 (Kesadaran politik saya sebagai anak kelas 6 SD cukup normal tidak ya waktu itu?) Semuanya membuat saya cukup muak. To Hell with Soeharto! Sesaat ibu saya menyebut bahwa pencapaian pembangunan Orde baru itu omong kosong. Balon yang meletus sekali tusuk!

Siapapun yang sudah sadar zaman harusnya mempunyai sedikit saja simPATI kepada mereka yang turun ke jalanan. Ribuan mahasiswa dengan jaket warna-warninya meneriakkan perubahan. Optimisme muncul dari dalam diri. Saya belum paham tentang bagaimana lembaga-lembaga negara akan menyikapi perubahan. Pikiran saya belum bisa berpikir ke sana, saya masih kelas enam SD! (Sudah saya katakan, pelajaran PPKN tentang lembaga negara cuma fakta yang dipaksakan untuk menghadapi ujian!)

Demonstrasi-demonstrasi ini menjadi pengalaman pertama saya terhadap kekerasan. Saya relatif ‘terlindung’ dari berbagai jenis kekerasan di media, oleh karena itu memandangi foto-foto dan berita pemukulan aparat terhadap mahasiswa memberikan imaji buruk pada saya. Siapa yang bisa tahan melihat tubuh tergeletak diatas aspal, matanya melotot, mulutnya menganga, tangannya melayang ke atas, kaku. Dan seorang polisi dengan full body armornya melewatinya begitu saja. Apa ia mati?6 Berita tewasnya empat mahasiswa Trisakti karena peluru tajam menambah runyam perasaan si bocah kelas enam SD.

Tuhan, tidakkah mereka sadar? Ia juga anak bangsa? Tidakkah mereka sadar? Puluru yang mereka muntahkan itu dibayar dari pajak? Mereka hanya menyuarakan kecintaan merke yang luar biasa pada negeri ini!

Berita di televise masih tentang gebuk-menggebuk. Meski wajah manis Ira Koesno menghibur rekan-rekan yang lebih tua, saya hanya bisa terpana dengan kata-katanya yang tajam.7

Esoknya kerusuhan menjalar di mana-mana. Sebagai anak polos yang baru berumur 12 tahun saya kesulitan menghubungkan kerusuhan ini dengan aksi mahasiswa.8 Siapa membuat kerusuhan ini? Yang bisa dipahami adalah aksi penjarahan, “Saat ini semua sedang susah!” Sisi gelap yang juga tidak saya pahami adalah mengapa warga (sebaiknya diikuti juga dengan kata negara Indonesia) keturunan Cina menjadi sasaran.9 Akhirnya muncul suara desas-desus, kerusuhan ini didalangi militer!

Esoknya liputan petinggi militer di atas pansernya keliling Jakarta hanya menjadi dagelan getir bagi saya. Kenapa baru sekrang muncul? Polisinya kemana sih? Lagi-lagi muncul himbauan “Jagalah keamanan lingkungannya masing-masing, dan jangan melakukan tindakan yang memancing kerusuhan.” Cis, ketika mahasiswa berdemo mereka menghadapi aparat sebanyak itu, ke mana saja mereka ketika kerusuhan?

Padahal ketika itu sedang musim ujian. Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional, hidup-matinya anak sekolah zaman itu. Tidak hidup-mati, tapi kelanjutan pendidikan kami tergantung pada Nilai EBTANAS Murni yang digunakan untuk ‘membeli’ kursi di sekolah negeri. Amat tidak terbayayang bagaimana rekan-rekan di Jakarta melaksanakan ujiannya. Keluar ujian tidak? Ada kerusuhan lagi tidak? Mengerikan.

Seminggu kemudian keluar pernyataan pengunduran diri Presiden. Selesaikah semua ini? Kita menyaksikan dengan mata kepala kita sendiri. Sejarawan selalu berhenti bercerita di tengah-tengah cerita karena yang bisa mengakhiri gerak cerita sejarah itu hanyalah ia Yang Berkuasa.

———————

1 Kenapa memoir? Ada yang bilang reformasi sudah mati. Menurut saya gerakan mahasiswa yang seperti itu juga sudah tidak laku di kalangan mahasiswa sendiri. Artinya sudah mati juga.

2 Bung karno pernah menyebutkan hal ini, “Jangan lupakan enam juta orang yang memilih PKI!” Membasmi komunisme sampai akar-akarnya yang saya pahami adalah membasmi semua yang memilih PKI.

3 Ibu saya selalu mengeluhkan bahwa sebagai PNS ia “harus” memilih Golkar. Saya jadi bisa belajar membenci totalitarianisme. Ibu saya melarang menonton film G30S/PKI. Saya jadi bisa mengenal PKI dengan lebih jernih. Ibuku tidak mengatakan bahwa zaman OrBa semuanya lebih mudah, sekarang saya tahu OrBa hanya menyedot kekayaan alam Indonesia dan tidak menyisakannya untuk saat ini. Ibuku selalu benar!

4 Manusia Orba, istilah ini didapat dari Awas penguasa Tipu Rakyat karya Eko Prasetyo.

5 Waktu zaman susah itu konon katanya jika kita memasang lambang Negara di WC kita pasti ketahuan oleh Intel!

6 Tidak, dia tidak mati. Foto ini cukup terkenal jika membahas reformasi ’98.

7 Meski tanpa Ira Koesno lagi SCTV masih memiliki keunggulan ini. Reporternya berani dan bisa membuat narasumber mengeluarkan pernyataan yang ‘bikin susah.’ Metro TV juga layak ditonton dalam hal ini.

8 Jika kita benar-benar memahami gerakan mahasiswa tahun 1998, gerakan ini amat kurang melibatkan masyarakat luas. Meski muncul dukungan dari tokoh-tokoh nasional.

9 Apa yang anak kelas enam SD bisa lakukan? Meniru orangtuanya tentu saja. Saya tidak diajari untuk memiliki kebencian terhadap etnis atau agama tertentu.

Iklan