Bulan puasa ini aku mendapat kehormatan besar. Menonton pemutaran perdana Laskar Pelangi bersama Andrea Hirata. kehormatan? Bukan, bukannya aku diundang untuk duduk bersebelahan dengan Sultan dan awak pembuat filmnya, tetapi kehormatan telah diajak Kak Kiki untuk menontonnya. Menonton pemutaran perdana film bermutu tahun ini.

Novelnya sendiri bukanlah novel yang menjadi preferensi saya dalam membaca. Novel yang bercerita tentang perjuangan dan persahabatan, tema umum yang ditemui dalam bacaan untuk semua umur. Karena preferensi utama saya adalah novel-novel dewasa dengan plot yang lebih gelap novel ini tidak masuk daftar antrian novel untuk dibaca.

Tetapi membaca novelnya ataupun menonton filmnya bukanlah hal yang sia-sia bagi anda yang mengkategorikan dirinya “decent human being.” Setidaknya jika anda orang yang sinis, anda bisa menemukan sesuatu untuk diserapahi. Jika anda orang yang romantis, melihat anak-anak tersebut bermain, bersahabat, dan bermain bisa membuat anda menahan nafas. Tetapi jika anda asma, dan amat mudah terpicu secara emosional, sebaiknya anda harus ditemani jika menonton film ini!

Mengapa film ini layak disebut “decent?” Setidaknya film ini mengobati mata saya yang cukup sakit menonton wajah-wajah keturunan Eropa menghiasi film Indonesia. Dialek-dialek Sumatra yang kental juga cukup menyenangkan untuk didengarkan telinga Jawa saya. Jelaslah, bagi anak-anak yang belum mengenal Indonesia secara utuh, patutlah mereka menontonnya. Supaya mereka tahu ada dialek lain selain betawi.

Ada salah satu adegan yang cukup menarik(diantara sekian adegan). Tanpa perlu spoiler, teman saya terheran-heran mendengar soundtracknya (bukan yg NIdji), “kok lagunya India?” Padahal yang mengalun selanjutnya adalah lagu Seroja, Melayu abis! Tetapi adegan selanjutnya mungkin mengingatkan anda pada film India. Tetapi jauh lebih realistik! Sedikit bergumam saya berkata, “seperti inilah Indonesia kita.”

Film seperti ini cukup menggambarkan keadaan Indonesia. Film ini merujuk keterkaitan pada masa kolonial (hubungkanlah Billyton dan Belitung), pergerakan Islam Muhammadiyah, dan juga beberapa dunia berbeda (pegawai tambang, nelayan, pedagang, sampai petambang liar) di satu daerah. Hal inilah yang menjadi perhatian saya pada film-film Indonesia. Seberapa realistikkah para pembuat film mampu mereka ulang Indonesia kita? Film ini merupakan jawaban yang baik.

Tentu saja penilaian saya terhadap film ini amat terkait dengan film lain yang saya sebut film bermutu tahun lalu, Denias. Keduanya bertemakan pada pendidikan, juga dibumbui oleh kehidupan dan dialek lokal. Sekolah-sekolah dasar ataupun sekolah menengah patut mempertimbangkan acara menonton kedua film ini dalam agenda kegiatannya.

Penilaian saya sampai saat ini, film ini adalah film bermutu tahun ini.

Iklan