Beberapa hari lalu membaca YehudaMoon, dari comment2nya nemu istilah Randonne yaitu semacam olahraga sepeda turing non kompetisi. Tertarik berat! Sepeda yang digunakan bisa apa saja, dan paling menarik adalah sifatnya yang non-kompetisi. Sampai-sampai membayangkan ikut kualifikasi brevet, walau sekali saja, tapi minimal 200 km non-stop!

Akhirnya sekali-kali mencoba ketahanan badan ini, sejauh mana badan dan tango-ku bisa diajak berjalan? Karena sabtu 20 September kemarin adalah buka bersama angkatan yg terakhir tahun ini di Parangtritis, maka kesempatan ini gak bisa disiakan.

Di pagi hari kusempatkan pergi ke alam baru membeli lampu depan cap “mata kucing,” ditambah pompa mini dari bahan plastik, dan sebuah compact tools generik. Total keluar 225 ribu. Pengennya sih pake tas yang lumayan, tapi adanya tas Alpina yang udah berumur 3 tahunan. Fisiknya bagus tapi desainnya jelek bgt, kotak ke belakang.

Tantangan terberat perjalanan adalah dilakukan saat puasa di sore hari. Sore hari angin laut di sini amat kuat, apalagi mendekat ke pantai. Tenaga yang adapun tinggal sisa-sia. Amat berbeda dengan ketika tidak puasa, bisa berhenti dan makan. Kemarin? Berhenti pun gak tau mau ngapain.

Awalnya ketika di dalam kota masih bisa menggunakan kombinasi gigi 3(dpn)-5(blk). Sekitar 5 km setelah kampus ISI Yogya turun lagi hingga menjadi 3-4. Dengan kondisi angin yang bukannya bikin sejuk tapi malah berusaha menjatuhkan (how durn strong those sidewind!) makin lama kayuhan makin berat. Apalagi kata-kata temanku. “Jauhnya 38 kilo!” bikin hati deg-degan, “kuat gak ya?”

Tengah perjalanandi jl Paris km 17/18 aku berhenti di warung. Konyol abis! Aku beli 2 botol Aqua 600cc. Buat apa? Sebagian ngisi botol, sebagian ngguyur kepala. Tapi bodohnya aku, itu beban tambahan! Dengan tenaga yang anehnya makin ilang kulanjutkan perjalanan. Memiliki bekal air tanpa bisa meminumnya,… Ada pohon bambu, ku berhenti lagi. Hufff, mau shalat di mana? “Ini baru kilometer 20, masih 18 km lagi” pikirku.

Seperti sudah kubilang. Aku memang bodoh. Beristirahat gak ada asyiknya malah terlihat bodoh. Mau tidur? Kepikiran harus ngejar waktu buka. Makan? No way! Emangnya gw cowo apaan hrs ngebatalin puasa hari gini? Akhirnya kulanjutkan perjalanan. Sekitar km 22 kutemi ada mesjid. Berhenti dulu, istirahat. Sekali lagi, aku pengen minum & makan! Lemes…. Masih 16 km lagi! Akhirnya aku shalat Ashar, sekitar 15.40. Akhirnya kulanjutkan perjalanan pukul 16.00.

Allahu Akbar!!! Tak lebih dari dua km kulihat jembatan sebelum Paris! Ya ampun, gak sampai 38 km toh. Ku kumpulkan lagi semangatku. Ya Allah jembatannya menanjak, akhirnya di bagian menanjak aku menuntun sepedaku. Dead tired. Dengan gigi 3-2 pun aku tak mampu. Begitu di puncak jembatan langsung kukayuh lagi sepedaku. Biar gravitasi membantuku, wuuussss. Gigi kupasang sampai 3-4 lagi. Allah! Tak sampai di gerbang aku membuka helm, biar bisa masuk tanpa karcis (warga). Tak dinyana temanku memanggil, “ayo Dit!” Akhirnya mulai dari gerbang sampai Grogol 8 aku ditarik oleh temanku, sekitar 2-3 km terakhir perjalananku sore itu

Meski tidak sampai di pantainya aku cukup senang. Yup, teman2ku setengah tidak percaya aku ke Parangtritis dengan sepeda di saat puasa. Mereka menawarkan untuk menarikku pada saat pulang nanti. Jawabanku “nggak!” Mungkin kalau lebih jauh aku akan berkata “and miss this?”

Aku berangkat kembali lagi ke Jogja pukul 00:35. Yup, tengah malam. Untuk itulah aku membeli lampu. Aku memilih waktu ini karena tahu, semakin pagi (apalagi jam 3) maka angin dari darat akan menyambutku. Gak kuku! Selain itu aku juga ingin menghemat tenagaku saat puasa, keluarkan tenaga sebelum sahur! Bukan sesudahnya. Hasilnya adalah aku bisa melewati perjalanan dengan tanpa masalah. Gigi 3-5 kupasang dan aku melalui jalanan sepi tanpa ada masalah. Aku hanya berhenti 3 kali sepanjang jalan. Di lapangan Gabusan, di Circle K Jalan PAris (hanya ada 1 sepanjang jalan!), dan lapangan Kridosono ketika HPku jatuh! Btw di jalan Paris sesudah ring-road (sekitar jam 2 pagi) aku ketemu bapak2, ngebut bo! Aku nggak kuat ngejar, kalo lg nglaju di bawah 20 km pasti kukejar!

Fyuh, aku suka perjalanan ini. meski di saat puasa sangat tidak ku rekomendasikan. Aku masih menunggu tantangan turing selanjutnya. Mungkin Candi to Candi (Borobudur-Prambanan)?

Iklan