Akhirnya, selama setengah tahun ini aku tidak hanya menjadi pedestrian saja. Sekarang menjadi “pengendara.” Mungkin istilah pengendara tidak banyak diterima oleh orang lain karena aku hanya menggunakan sepeda. Setidaknya menurut konvensi Wina 1968, sepeda adalah kendaraan dan yang mengendarainya adalah pengendara. Oleh karena itu pesepeda dan sepedanya ketika di jalan adalah pengendara.

Hubungan antara pesepeda dengan pengguna jalan lainnya tidaklah selalu baik. Sebagian karena pesepeda itu sendiri, sebagian karena fasilitas jalan, sebagian karena penguna jalan lainnya. Lebih buruk lagi, pesepeda tidak mendapat perlindungan hukum! Entah apakah Indonesia sudah meratifikasi konvensi tersebuta atau tidak. (Kalau belum, apa SIM Internasional bisa berlaku di Indonesia?)

Temanku pernah berkata, “Langgar saja lampu merah. Lampu merah itu untuk mobil dan motor.” Ini mewakili kondisi hukum pesepeda di jalan raya. Memang pesepeda tidak memerlukan SIN (Surat Ijin Nyepeda) adatu melengkapi sepedanya dengan surat-surat. Tetapi ketika ada aturan hukum yang menyebut bahwa ketika di jalan pesepeda harus mengikuti rambu2, mengikuti lampu lalu-lintas, mematuhi batas kecepatan, dan lain-lain, tentunya warga negara yang baik harus mengikutinya.

Meski begitu keadaan lalu-lintas di Indonesia yang belum teratur dan banyak gak enaknya tidak terlalu bermasalah bagi kami. Kami masih bisa menyatu dengan lalu-lintas, ngebut di jalan raya (di bawah 50 kph tentunya) dll.

By the way, nikmati komik2 Yehuda di sini.

Iklan