Hehe telat lama, tapi makin mendekati olimpiade, makin perlu kita kenal sisi lain tuan rumah.

 Nasionalisme Etnis dan Problem Kebangsaan Cin

 

Cina, sebuah Negara komunis dengan penduduk terbesar di dunia, memiliki keragaman etnis dan budaya yang amat tinggi. Penduduk yang besar dan keragaman budaya ini diikat oleh suatu nasionalisme yang disebut minzu zhuyi yang mengakui perbedaan-perbedaan etnis. Perbedaan etnisitas ini ditransedensi melalu konsep nasionalisme yang superior, Zhongguo Minzu. Dengan begitu tidak ada pertanyaan, satu Cina, satu Negara, dalam satu bingkai kedamaian dan kesejahteraan bersama.

Tapi bulan lalu kita melihat hal lain. Tibet membara, terbakar oleh kerusuhan. Dalai Lama berbicara di pengasingannya. Pemerintah Cina segera mengeluarkan peringatan untuk menjaga stabilitas. Cina yang tahun-tahun terakhir ini kita kagumi karena pertumbuhan ekonomi dan kemakmurannya ini membuat kita terengah. Ada apa dengan Cina?

Kunci jawabannya ada di kenyaataan mengenai Nasionalisme Cina itu sendiri. Dengan 56 etnis (yang diakui resmi) tidakkah ada permasalahan identitas Nasionalisme? Tidakkah ada etnis yang termarginalkan di Cina?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas mungkin membuat kita terhenyak. Bagi mereka yang tidak memahami ada apa di balik protes terhadap Olimpiade, maka kita akan melihat bahwa protes ini bukan sekedar protes terhadap kondisi HAM.

Siapa itu Orang Cina?

Ini merupakan pertanyaan mendasar mengenai Nasionalisme. Siapa yang merupakan bagian dari bangsa, siapa yang bukan. Jawaban doktrinal dari pertanyaan ini adalah orang-orang yang tinggal di dalam wilayah Cina (termasuk Taiwan?), apapun etnisnya. Setidaknya ada 56 etnis yang diakui, dengan lima etnis terbesar yaitu Han, Manchu, Mongol, Tibet, dan Hui (Muslim).

Untuk orang Uyghur dan beberapa etnis Xinjiang terkadang dianggap sebagai etnis Hui. Namun Hui sebenarnya adalah etnis yang jauh berbeda., secara budaya mereka lebih dekat dengan Han dan berbicara bahasa yang sama. Secara sederhana bisa disebut “Han Muslim.” Tntu saja akan amat berbeda dengan suku-suku Uyghur dan lainnya di Xinjiang yang berbudaya pastoral Turki dan bahasa yang amat berbeda.

Terkadang timbul juga inkonsistensi, terutama mengenai etnis yang berada di wilayah Cina dan sebagian di luarnya. Karena Mongol adalah salah satu bangsa Cina apa kebangsaan Jengis Khan? Bagi orang Republik Mongolia jawabannya jelas, Mongol. Tapi beberapa buku sejarah Cina menyebutnya orang Cina.

Bagi etnis yang tersebar di dalam dan luar Cina sejarah tampak problematik. Mereka ditampilkan sebagai bagian dari bangsa Cina dalam sejarah resmi Cina namun rekan seetnis mereka yang berada di luar perbatasan diabaikan begitu saja. Pada beberapa kasus bisa disebut pengkhianat.(Masalah ini akan dibahas lebih lanjut dalam bahasan Historiografis).

Selain itu adalah mengenai orang Cina keturunan. Hampir bisa dikatakan semua orang cina keturunan adalah etnis Han, etnis dominan secara demografis. Umumnya mereka saat ini memiliki hubungan yang baik dengan relasi di Cina daratan sebagai sesama “keturunan Kaisar Kuning.” Kewarganegaraan bagi mereka yang kembali ke Cina Daratan di awal terbentuknya Republik Cina (RoC) maupun Republik Rakyat Cina amatlah terbuka.

Nasionalisme dalam Historiografi

Nasionalisme amat membekas dalam Historiografi Cina. Amat banyak kritik dari ahli-ahli dari luar Cina terhadap sejarah Cina. Setidaknya kita bisa melihat adanya penyederhanaan masalah dan juga adanya hegemoni Han dalam pandangan sejarah Cina.

Hal ini bisa dilihat dari satu hal utama, Cina memandang dirinya sebagai satu entitas peradaban sejak masa Xia. Cina yang memiliki catatan sejarah sejak zaman Neolithik tentunya merupakan salah satu bangsa yang memiliki kesejarahan tertua. Namun mengaitkannya sebagai satu entitas yang sama sejak masa itu adalah sesuatu yang amat berbahaya dan rapuh.

Hasilnya adalah suatu anakronisme dan kebingungan. Sebagai justifikasi selain catatan tertulis mengenai keberadaan dinasti Xia (awal dari sejarah Cina) maka catatan arkeologis digunakan. Contoh utamanya adalah kebudayaan Erlitou yang berasal dari zaman perunggu sebagai situs dinasti Xia. Meski keberadaan dinasti Xia hampir tidak pernah dipertanyakan namun tidak ada petunjuk yang memuasakan untuk menghubungkannya.i Situs Erlitou ini terutama merupakan penghasil benda perunggu di zaman Xia dan Shang.

Di sisi lain penekanan sejarah pada Cina sebagai satu entitas kebangsaan. Wilayah yang saat ini dikuasai oleh RRC dianggap sebagai milik Cina dan selalu begitu. Penghuninya juga ditampilkan sebagai “keluarga bangsa Cina” sehingga konflik-konflik antar penguasa dianggap sebagai suatu perang saudara.ii

Ini disadari atau tidak menyingkirkan etnis-etnis minoritas dari kontes sejarah. Suatu marginalisasi kesejarahan yang berakibat bahwa mereka hanya menjadi pelengkap peripheral bagi sejarah utama Cina (Han). Lebih jauh lagi konsekuensi logisnya adalah mereka tidak memiliki justifikasi untuk penentuan nasib sendiri (self determination) meski memang tidak ada ruang secara doktrinal untuk itu.

Yang menarik dalam hal sejarah adalah kontroversi sejarah Goguryeo. Goguryeo adalah kerajaan yang meliputi Semenanjung Korea bagian utara dan sebagian Manchuria berupa federasi suku-suku etnis Korea. Goguryeo umumnya disebut sebagai salah satu dari “Tiga Kerajaan” semenanjung Korea yang membentuk identitas Korea. Karena tendensi yang sebelumnya telah disebut terdapat usaha-usaha dari Cina yang menyebut Goguryeo sebagai “Cina.” Tentunya ini mendapat tentangan keras dari Republik Korea (Korea Utara/ Republik Demokratik Rakyat Korea tidak memberi tanggapan berarti).

Etnosentrime: Api dalam Sekam

Pada dasarnya wilayah Cina saat ini adalah warisan Qing oleh karena itu permasalahan territorial yang ada adalah warisan Qing. Wilayah suku Uighur merupakan wilayah yang ditaklukkan pada abad 19 dan diberi nama Xinjiang sedangkan Tibet memiliki hubungan klien-patron dengan Beijing.

Setelah keruntuhan Qing Cina terbagi-bagi oleh kekuasaan para panglima perang. Proses unifikasi yang panjang ditambah kompetisi Kuomintang dengan Komunis menjadikan daerah-daerah terluar tidak diperhatikan. Tibet relative tidak tersentuh oleh pemerintah Cina, Republik Cina hanya mengirimkan dutanya di sana. Sampai akhirnya kejatuhan Republik CIna, Republik Rakyat Cina mengirimkan ekspedisi untuk “mengamankan” Tibet.

Uyghur memiliki elemen budaya Islam dan Turki yang sangat dominan, menunjukkan ribuan tahun penguasaan budaya suku-suku Turki di Tarim. Hubungannya dengan penguasa Cina juga tidak selalu baik. Bahkan ketika aliansi Turki membentuk Kerjaan Gokturk Uyghur juga menjadi bagiannya. Kekuasaan tertinggi Uyghur adalah saat berkuasa dari laut Kaspia hingga Manchuria. Penguasa-penguasa Cina umumnya tidak mampu berkuasa atas Uygur hingga penaklukkan wilayah Uyghur oleh Qing. Ini menjelaskan hubungan bermasalah Uyghur dengan etnis Han, bahkan di era modern ini.iii

Karena perpektif ethnocentris yang kuat dari Han, bahkan ketika Cina dikuasai etnis non-Han, maka budaya Han dianggap lebih unggul daripada budaya yang lain. Oleh karena itu daerah-daerah ini dikuasai dan diperintah oleh orang-orang Han dengan cara Han. Jika di masa lalu dengan cara konfusian maka saat ini dengan cara komunis.

Ini menyebabkan di Tibet dan Xinjiang saat ini etnis Han adalah etnis yang memiliki posisi ekonomi lebih baik. Dengan kedua wilayah tersebut adalah propinsi termiskin Cina maka dapat dikatakan Tibet dan Uyghur adalah etnis termiskin di Cina. Kehadiran sekelompok orang dengan budaya dan bahasa yang berbeda dan konsisi yanglebih baik berarti adanya konflik etnis tersembunyi di kedua propinsi tersebut.

Mka terjadilah, kerusuhan yang terjadi di Tibet beberapa saat yang lalu adalah cerminan konflik ini. Meski agen-agen pemerintah Cina menyebut keterlibatan asing ataupun gerakan separatis tetapi jelas bahwa diantara kebanyakan orang Tibet sentimen ini adalah rahasia umum. Hanya sensor yang kuat dari Cina yang membust hsl ini tidak terasa di kalangan luar.

Mengenai Xinjiang terdapat kecemburuan etnis sebab usaha peningkatan komersialisasi lebih menguntungkan etnis Han. Di sisi lain peningkatan produksi kapas menyebabkan kekeringan yang tidak juga ditangani. Ini menyebabkan terancamnya kehidupan pastural asli Uyghur dan Kazakh di Xinjiang.

Tak dapat dielakkan, hal yang menjadi kunci asimilasi bangsa minoritas ini adalah partisipasi mereka dalam perekonomian dan politik. Dalam hal ekonomi telah disebutkan mengenai kesenjangan antara Han dan kelompok minoritas. Kesenjangan juga terjadi di aparatur negara maupun birokrasi (bahkan di propinsi mereka sendiri). Hampir tidak ada pejabat tinggi militer maupun sipil dari suku Tibet atau Uyghur. Jika ada mereka tetap tidak menduduki posisi kunci.

Sekali lagi mengenai etnosentrisme, kebanyakan orang Han (bahkan kalangan mahasiswa yang kritis dan skeptis terhadap pemerintah) cenderung mempercayai propaganda otoritas pusat. Ini terutama karena ketiadaan sumber lain. Propaganda tersebut umumnya menyebut usaha-usaha yang dilakukan pemerintah sebagai usaha untuk memberadabkan dan memodernkan daerah-daerah terluar. Cerminan dari ignoransi ini terlihat dari reaksi orang-orang Han terhadap kerusuhan Tibet beberapa waktu lalu. Reaksi yang muncul bukanlah hanya pengecaman pada perusuh dan separatis. Muncul juga kecaman dan hinaan kepada pengungsi Tibet di India, juga pengagungan atas kebudayaan Cina (Han). Ignoransi1 ini pada jangka panjang menyebabkan kebijakan-kebijakan bodoh dari pemerintah pusat dan kemarahan rakyat minoritas.iv

Kesimpulan

Dalam hal Nasionalisme, Cina memang masih memiliki masalah. Hal yang umumnya ada di permukaan nasionalisme yaitu identitas saja masih memiliki masalah. Penyederhanaan identitas yang tidak diterima menye

Dengan melihat sejarah penulisan sejarah Cina kita telah bisa menyimpulkan bahwa memangterdapat permasalahan di salam Nasionalisme Cina. Penanganan perbedaan yang justru mnindas perbedaan menimbulkan adanya kecemburuan sosial. Ketiadaan affirmative action jelas menimbulkan kecemburuan sosial antara etnis minoritas kepada etnis dominan (HAN).

 

i Erlitou Culture, “http://en.wikipedia.org/wiki/Erlitou_culture” diunduh 23 January 2007

ii Michael Yehuda, “The Changing Faces of Chinese Nationalism” dalam Michael Leifer (ed), Asian Nationalism (London: Routledge, 2000) halaman 34

iii Uyghur People, http://en.wikipedia.org/wiki/Uyghur_people” diunduh 19 februari 2007

iv Salomon M Kamel, Ethnic Nationalism in China, dalam Michael Leifer (ed), Asian Nationalism (London: Routledge, 2000) halaman 50

Iklan