Sebuah cerita lama, tentang perjalanan 9 desember lalu ke Undip. Maaf, baru saja jadi sekalian untuk laporan Duta! Selamat menikmati…

 

First Time!

 

Berita mengenai adanya undangan dari Racana Diponegoro belum sampai kepada Humas (yang akan dikirimkan) sampai pada acara DIKSARPRAM XXII. Pada saat itu kak Tyok dan kak Ningrum sedang memberi materi dan mencontohkan mengenai pengiriman duta dengan menyebut bahwa kedua Humas akan dikirim ke Undip dalam acara wokshop kehumasan.

Persiapan yang dilakukan oleh kedua Humas hampir tidak ada, karena mengenai NUK dan sebagainya diurus oleh PDR. Kami hanya menyiapkan waktu serta ‘dana tambahan.’ Pada saat pelepasan pun, kami tidak mendapatkan pesan khusus. Jelas, kami diberi pesan bahwa kami membawa nama racana, maka kami harus menampilkan diri sebaik-baiknya. Selain itu ilmu yang bisa kami dapat harus sebaik-baiknya dimanfaatkan (karena judul workshop ini jelas mendukung tugas kami) dan dibagi dengan sesama warga racana yang lain.

Pada hari sabtu itu, kami berkumpul di sanggar. Pagi pukul 06.00 saya belum bersiap padahal pintu sanggar sudah diketuk oleh TBTD. Akhirnya dalam 15 menit hadir kak Ningrum, kak Koswala, dan kak Tyok (resminya hanya kak Ningrum yang menjadi pengantar kami) yang akan turut serta mengantar kami. Dengan sepeda motor kami berangkat menuju terminal Jombor, sesampainya di sana kami segera menaiki bis yang menuju Semarang. Oh, Semarang.

Di dalam bis kami bertanya-tanya, pukul berapa kami akan sampai? Kak tyok menerangkan sekali lagi bahwa acara dimulai pukul delapan, namun ia sudah mengabari sangga kerja bahwa kami akan hadir terlambat. Diperkirakan pukul sepuluh kami sudah berada di sana, padahal saat itu menunjukkan pukul 07.00 dan bis baru saja beranjak.

Di perjalanan sambil menikmati pemandangan dan mengobrol dengan pengantar kami saya mengirimkan sms massal untuk teman-teman sanggar. Batas propinsi terlewati, Magelang terlewati, lewat tempat-tempat tak dikenal, eh sampai di mana ini? Akhirnya obrolan saya dengan kak Tyok tidak mampu menahan sindrom perjalanan, mata yang semakin berat pun terpejamlah.

Masih di Bis Yogya-Semarang, ketika sampai di Semarang terlihatlah kota yang cukup “lucu,” ada daerah tinggi dan derah rendahnya. Sayangnya bentuknya tidak seromantis acropolis atau mungkin yang lebih di awing-awang, city upon a hill. Di sana terlihat bis Akpol turut menuruni jalanan, tampaknya bis itu akan membawa siswanya pesiar. Akhirnya kami turun di daerah yang saya pun tidak tahu namanya dan menaiki bis dengan jurusan yang saya juga tidak tahu namanya.

Kami khirnya turun sekitar lima puluh meter dari gerbang Undip. Saat itu gerbangnya belum terlihat sehingga saya hanya manut saja mengikuti pengantar. Ketika gerbangnya terlihat, wah ternyata Pak Dipo sudah menunggu. Kegagahan pahlawan abad 19 yang menuntut kembali penyatuan kekuaaan lokal dan pemurnian dari pengaruh asing. Jubah putih, surban, dan keris yang diletakkan di depan menegaskan posisinya sebagai paneteg panata agama.

Tidak jauh dari gerbang, lurus saja ke arah dalam kampus, di pojok boulevard akan ditemui sanggar Racana Undip. “Maaf terlambat” adalah kata yang otomatis keluar dari mulut kami. Namun ternyata ada yang lebih mengejutkan ketika sangga kerja berkata, “Ayo! Acaranya belum dimulai kok.” Tetapi itu belumlah mengagetkan ketika kakak dari kak Ningrum yang merupakan anggota racana Undip menggaet tangan kak Ningrum sambil berkata “Ayo ****:” (maaf kami sensor).

Acara bertempat di fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, tepatnya di Gedung Pertemuan Prof. Ir. R Soenardi. Untuk menuju ke sana dari sanggar kami harus melewati beberapa tempat yang diramaikan oleh pamphlet dan flyer yang meramaikan pemilihan Presiden Mahasiswa. Rupanya pemilihan di sana cukup ramai, tidak seperti di UGM.

Di tempat acara kami segera mendaftar dan mengambil workshop kit. Kemudian kami melihat ke dalam ruangan untuk mengambil tempat. Waduh! Pakaian yang dikenakan bermacam-macam, duduk pun tidak terpisah. Akhirnya kami mengambil tempat bersebelahan, agar mudah mengobrolnya jika saja materi yang diberikan menuju antah berantah atau terlalu membuai kami (belum apa-apa sudah berprasangka!) Namun karena acara tidak segera dibuka akhirnya kami memilih untuk berkompromi dengan perut yang baru diisi sekedarnya. Bersama dengan ketua sangga kerja kami mencari makan. Ia menunukkan salah satu sisi kampus dan kami memilih sekenanya, yang terdekat, sebuah warung makan soto.

Setelah makan rupanya acara sudah akan dibuka. kami segera menempatkan diri kembali, di bangku kedua terdepan. Di sini kami baru memperhatiakan backdrop yang terpasang. “Gelar Unggulan Masa Bakti 2006-2007,” jadi ini adalah acara besar tahun ini. Di sini juga terlihat pengaturan ruang yang berbeda dengan yang biasa dilakukan di racana. Dwi warna beserta panji GP yang di letakkan bersebrangan. Potongan kayu bercabang yang tidak ditemani kapak membuat pikiran bertanya-tanya. Akhirnya datanglah Pembina yang akan membuka acara. Di sinilah baru diketahui adat buka kegiatan mereka. Kapak yang berada diatas namapan diantarkan kepada Pembina yang menerangkan “sudah menjadi kebiasaaan di Pramuka.” Maka dibukalah acara! Seusai pembukaan ia sempat mendatangi kami, tamu dari jauh.

Selanjutnya adalah materi mengenai apa itu kehumasan. Dengan perasaan sedikit bersemangat kami berkonsentrasi pada Direktur Humas Undip yang saat itu menjadi pemateri. Ia memulai dengan perkenalan mengenai siapa dia, bagaimana ia mengajar di jurusan Komunikasi Undip, perannya di Undip sebagai Humas, dan bagaimana Undip baginya.

Namun akhirnya kami kecewa. Materi yang dibawakannya bukanlah mengenai apa itu kehumasan, jika boleh disebut. Pada mulanya memang ia mengawali melalui pertanyaan “apa itu hubungan masyarakat.” kami cukup senang bahwa kami yang bertugas sebagai humas tidak menyesatkan peserta DSP ketika meneangkan mengenai apa itu Humas dan apa yang kami laklukan di Racana. Pangkal kekecewaan kami adalah Ia bercerita panjang lebar mengenai Universitas Diponegoro tercinta, program-programnya, kondisi lingkungan sekitar kampus, visi-mis Undip (!), birokrasi kehumasan Undip dulu dan sekarang, kantor Humas Undip, visi-misi humas Undip, dan sebagainya. Sepertinya kami adalah masyarakat calon penyandang dana potensial yang sedang dikenalkan mengenai Undip. Sayangnya kami tidaklah memiliki dana tersebut. Judul materi yang sebenarnya “Apa itu humas” hanyalah menjadi pembuka dan tidak mendapat perhatian yang mencukupi.

Rupanya yang mendapat berkah dari acara ini adalah saya, sebab saya bertemu beberapa orang dari Bogor. baik Pramuka maupun bukan Pramuka. Kebetulan yang amat kebetulan hingga patut dipertanyakan benarkah ini kebetulan, Ibu dari ketua Racana yang kebetulan saya dan kak Tyok kenal mengikuti acara ini. Begitupula seorang mahasiswa FE yang seasal dengan saya ternyata sedang berada di kampus sehingga saya sempat mengopbrol ‘banyak’ dengannya.

Pada saat istirahat ini kami diberi kesempatan makan siang. Selagi makan siang kami menyempatkan mengobrol dengan Racana sahabat yang sayangnya saya lupa asal pangkalannya!

Akhirnya materi dimulai kembali. Materi kedua adalah CSR (Corporate Social Responsibility). Tanggung jawab sosial korporasi, praktek kontribusi perusahaan pada masyarakat. materi ini diisi oleh seorang Andalan Nasional yang pernah mengurusi CSR perusahaan-perusahaan terkemuka di Indonesia dan saat ini mengurusi CSR Nestle.

Pemateri kali ini lebih baik menyampaikan materinya, ia benar-benar menyampaikan materi. Secara tersamar sebenarnya ia juga telah menunjukkan bahwa CSR pada hakikatnya adalah bentuk lain iklan dan pencitraan perusahaan agar dekat dengan masyarakat. Satu hal yang terlihat adalah ia memberi contoh CSR Nestle dengan perlombaan bayi sehat. Jelas yang mampu mengikutinya adalah para konsumennya yang sudah berkecukupan, bukan masyarakat yang perlu dibangun.

Hal yang menarik dari materi ini adalah bahwa CSR adalah tanggungjawab, ia memberi ilustrasi melalui MDG (Millenium Development Goal). MDG ini menjadi perhatian terkait dengan tantangan yang dihadapi duni pada abad ini. Kata-kata yang dipilihnya adalah bahwa MDG ini menunjukkan apa yang segera harus kita lakukan, tapi sesungguhnya pesannya adalah CSR sebaiknya dilakukan dalam kerangka ini untuk memperoleh citra yang sesuai dengan tuntutan zaman. Ini menyebabkan CSR menjadi kabur, antara tanggungjawab perusahaan atas aktivitasnya atau maslaah pencitraan perusahaan.

Pada saat simulasi ia memberi beberapa masalah yang harus diselesaikan bersama. Namun kasus yang ia berikan amat terkait dengan kebijakan, terutama permasalahan lingkungan. Peran yang diberikan pun tidak dijelaskan, antara sebagi pelaku usaha, sebagai pihak terdampak, atau pemerintah. Ini menyebabkan kerangka solusi yang dibuat pun melebar. Namun waktu yang sempit menyebabkan kreativitas kami tidak sepenuhnya tereksplorasi.

Materi ketiga adalah mengenai konflik, “Mengakrabi Konflik.” Ini juga diberikan oleh dosen komunikasi Undip. Seorang wanita yang bersemangat, namun semangatnya sedang diarahkan untuk permasalahan yang ada di luar ruangan itu. Dengan mengenakan batik yang dibuat dengan teknik batik 9bukan motifnya saja yang batik) ia memulai materi mengenai mengakrabi konflik.

Namun seperti sudah disebut sebelumnya, ia sedang bersemangat di luar ruangan. Sekali lagi ia berbelok mengenai bagaimana negeri tetangga sudah mencuri desain batik bangsa sendiri! Bagaimana pembuat batik kini terancam oleh kain dengan motif batik yang dibuat dengan mesin, tidak dengan teknik batik. Ini menyebabkan perhatian mengenai materi sangat kurang.

Hal lain adalah materi mengenai pengakraban konflik ini kurang diarahkan mengenai kerja humas. Seorang Humas tentu banyak menghadapi konflik yang dibuat oleh ulah orang yang diwakilinya. Terkadang humas dapat diibaratkan seperti duta yang dikirim ke negeri seberang untuk berbohong.

Sekitar pukul 16.30 kami terburu-buru keluar dari acara. Mau tidak mau kami harus segera pulang karena jika terlalu malam kami tidak akan mendapatkan bis menuju Yogya. Dengan berat hati tanpa mengikuti acara penutupan dan pembagian doorprize kami ‘berkemas.’ Karena materi yang terlambat, baru pada saat itu kami melakukan shalat ashar.

Setelah shalat ashar barulah kami bertemu lagi dengan para pengantar yang sebelumnya jalan-jalan entah ke mana. Segera kami pergi menuju bis kota. Eh kami harus membeli bekal dulu untuk pulang. Setelah dari took swalayan itupun masih ada yang belum berkumpul. Ditunggu, ditunggu. Untunglah datangnya berbarengan dengan bis kota.

Setelah turun dari bis kota kami turun di depan sebuah mall. Kami menunggu bis antar kota di sana. Entah karena kondisi kotanya yang amat berbeda dengan Yogya dengan kebisingan yang lebih terasa, atau karena di depan mall menunggu bis antar kota kami merasa kondisinya sangat asing. Apalagi karena kami terlambat pulang, bis menuju Yogya sudah tidak ada. Kami menunggu hingga hampir maghrib.

Dengan energi yang tersisa akhirnya kami kembali pulang. Ngantuk, ada yang sakit, ada yang lapar, semua bercampur. Akhirnya kami kembali ke Yogya, kembali ke sanggar, setelah petualangan pertama kami sebagai duta. Bahkan kami lupa tidak membawa oleh-oleh yang dapat dimakan!

Iklan