God, grant me serenity/To face this world/To stand stil in the maelstrom/To walk straight against ever changing devil/Grant me strength, grant us all…

Sebuah doa untuk memulai hari, sebuah doa yang terpikir begitu saja. Ketika ma’tsurat terhenti sebagai rutinitas, hati yang bergejolak meminta lebih. Hari yang mungkin luar biasa. Hari itu aku berada di Jakarta untuk aksi tuntutan “tujuh gugatan rakyat” atau yang mereka sebut TUGU Rakyat. Entahlah, mungkin BEM-SI ingin mengenang atau mengulang Tritura atau apalah yang mereka pikirkan.
Tanpa berkonsultasi dengan siapapun pagi itu aku sudah berada di Jakarta, tepatnya kampus B UNJ. Hanya sedikit yang mengetahui kepergianku. Lebih tepatnya hanya rekan-rekan di BP dan rekan Pramuka yang sejalan dengan BEM, selebihnya tidak ada yang tahu rencanaku. Bahkan Pemangku Adat dan Pendampingku, atau juga teman-teman sejurusanku. I really went on my own, nggak juga sih, duit masih dari orangtua.
Sepanjang persiapan keberangkatan dan pagi itu hatiku benar-benar bergoyang dan gelisah. Dari dua kopian wasiat yang kusiapkan hanya satu yang kutitipkan pada partnerku. yah, dia cukup banyak mengerti meski tidak mengetahui tujuanku. Satu lagi untuk ia tapi entah, aku tak ingin mengganggunya saat itu. Di lempuyangan ku bertemu sahabat lamaku, Wicak. Entah, kegembiraanku bertemu dengannya sedikit mengurangi gelisahku. Di sana aku benar-benar terasing. Aku yang sering tidak menyetujui BEM ini tiba-tiba mak jegagik muncul! Tampang-tampang anak Menwa pula! Ku tenangkan diri, selagi menunggu kereta datang HPku matikan, dompet dan semuanya ku masukkan ke tas. I went on own, I don’t want anyone annoy me!
Subuh di Jatinegara, Aya menyampaikan pesan Kak Fuad (Pemangku Adatku) yang memintaku mengaktifkan HPku. Masuklah pesan-pesan dari kawanku, termasuk PAku sendiri. Ah, ternyata Aya telah memberi tahu kawan-kawan di sanggar bahwa aku ke sini. Mereka ikhlaskan kepergianku dan menyemangatiku. Ada juga dari partnerku, ia teringat pada masa Rasulullah ketika para shahabiyah harus melepas para shahabat. Tapi ada juga yang mempertanyakan kepergianku dengan kesedihan.
Maka setelah sampai di UNJ kurangkai doa itu. Aku hanya meminta kekuatan, sebab bukan hakku meminta keringanan dalam kewajiban. Allah, mungkin aku berbeda dengan yang lain yang benar-nbenar ikhlas untu TUGU Rakyat… aku hanya ingin meyakinkan diriku adakah jalan yang ‘kan ku ambil itu benar.
HPku berbunyi, ada yang menelponku. Dengan kerepotan aku yang sedang membawa bendera terbesar saat itu (entah kenapa diberikan padaku!) menjawab telpon dari ia yang tak kuberitahukan kepergianku. Ia bertanya tentang resiko hari itu, karena ada kemungkinan-kemungkinan buruk. Aku hanya bilang “tersenyumlah, aku pernah seperti ini.” Karena aku sudah memiliki perkiraan akan perangai pihak-pihak yang akan terlibat. Massa sendiri, pemimpin aksi, massa lain, intel, polisi, atau bahkan mahasiswa yang tidak ikut, yang kurang lebih ini bukan demo pertama sebagai mahasiswa.
Small Talk Before Adrenaline Rush
Kamipun berangkat, transit dulu di kampus A UNJ. Rupanya memang fisikku tidak terlalu baik dapat diandalkan. Aku tidak kuat berlari dengan membawa bendera tersebut, bahkan perutku sedikit protes. Untung tidak sampai muntah! Yah, untunglah ada kawan yang cukup berbaik hati menerima bendera yang saat itu sedang aku bawa. Hingga sesampai di kampus A UNJ sekilas ku lihat sanggar Racana UNJ, wajah-wajah aktivis unit (aktivis non-BEM tentunya), yah aku pernah ke sini. Sedikit keinginan untuk berbelok dan mampir ke sanggarnya tetapi ku tunda.
Voila! Selagi beristirahat di depan masjid besar UNJ aku bertemu kawan lama. Gina Fithria, yups tetangga di gang sekret ketika SMA dulu. Rupanya iapun bersiap untuk aksi. Sekali lagi, teman lamaku berkomentar “masih tetep di Pramuka?” tentu saja jawabanya pun masih “yah liat aja ini.” Sebentar ku ambil tasku dank u pamerkan isinya, bekal hidup. Ah, ternyata kawan-kawan yang lain sudah menempati posisinya, di kemahasiswaan, di Forkom ALIMS, di dunia kerja, atau di berkeluarganya.
Akhirnya agitasi di mulai. AGITASI, entah kenapa istilah ini yang diberikan. Berkeliling kampus UNJ dengan jas almamater UGM, aku merasa aneh! Mungkin budaya agitasi ini diambil dari masa 98 dulu. Berkeliling kampus dan berorasi sambil menarik mereka yang masih di kelas. Tapi, ketika di masa itu berdemo adalah suatu NORMA, tidakkah jika hal itu dilakukan lagi seperti pembodohan? Sekali lagi, ketika agitasi itu aku memegang bendera terbesar BEM SI. Entahlah, dengan privilege itu aku tidak tergerak untuk berjalan terdepan. Mengelilingi kampus A UNJ dengan jas almamater UGM sambil membawa bendera BEM SI. Entahlah, aneh rasanya. Belum lagi tatapan mereka yang tidak turun ke jalan.
Di depan gerbang tempat persiapan keberangkatan aku sekali lagi melihat kenyataan di masyarakat. Danlap jelas-jelas membakar semangat massa, “Kita akan naik enam bis! Kita akan menghentikan bis dan membawanya ke Bunderan HI.” Tetapi Danlap yang terhormat, yang katanya peduli rakyat, jika mereka tidak ikhlas bukankah itu namanya zhalim? Datangnya BEM Bandung Raya juga memperlihatkan kenyataan lain. Tidak ada Kabinet KM ITB di sana! Ah, angin sudah berubah di sana.
Wahai kalian yang rindu kejayaan
Wahai kalian yang turun ke jalan
Humm, targetnya adalah istana. Dari Bandung datang hampir dua ratusan mahasiswa UPI, UNPAD, dan STT Telkom, seperti biasa tanpa kaum hawanya. Anak UNJ yang hadir sejumlah dua kalinya. Dari UGM plus UNY pun tak lebih dari dua ratus. Uh, setidaknya aku melihat lagi ‘minat’ mahasiswa untuk mengikuti demonstrasi terus menurun. Selagi agitasi ku dapat kenalan Racana UNJ, sama-sama membawa bendera, dialah Imam.
Perjalanan ke Bunderan HI dilakukan dengan menggunakan metromini. Sungguh, anak-anak Jogja yang tidak biasa melihat demo besar kaget dan sangat bersemangat naik ke atap bus. Di dalam bus aku melihat seorang wanita, entah siapa, yang jelas bukan massa aksi duduk diam. Terjebakkah ia di sini? Atau kerabat sopir metromini? Ya Allah semoga kali ini kami tidak menzhalimi siapapun!
Bunderan HI yang sudah menunggu kami sudah di ramaikan oleh massa FRM. Front Rakyat menggugat. Mereka memiliki tuntutan yang jsangat spesifik, mereka menyoroti pernyataan presiden sebelumnya bahwa kenaikan BBM adalah niscaya. NISCAYA, pasti, tak terelakkan, adakah anda menyetujuinya? Ataukan anda tidak melihat alternatif lain? Di sini kami berkumpul, barisan di bentuk dan dirapatkan. Inilah dia bukti trend bahwa demonstrasi bukanlah sesuatu yang “gua banget” untuk sebagian besar mahasiswa saat ini. Semua mahasiswa menjadi border! Jumlah masssa putri yang jelas lebih banyak, belum lagi perangkat aksi lainnya… Sisanya border! (Bendera yang besar tadi kuberikan ke truk sound ketika perjalanan) Yah, mungkin setiap kali aksi ke Jakarta memang di takdirkan untuk jadi border.
Perjalanan ke istana dari bunderan HI tidaklah begitu luar biasa. Kecuali bagi yang belum pernah melihat pencakar langit Jakarta. Memang tidak ada satu blok gedung tinggi seperti itu di kota lain di Indonesia. Bukti kesenjangan pusat dan daerah, many bridges without river there…Di dana aku melihat lagi kawan lama, jauh-jauh datang dari Semarang. Nuryus Ardhi Annisa, alias Dini. Di RRI kami beristirahat dan Monas yang terlihat menambah semangatku. Lord, again I’m here.
Di sana sudah ada massa lain. Ada HMI, KAMMI, Forkot (yang kulihat bender FAMRED), dll. Faksionalisme, sesuatu yang tak bisa dihindari dalam aktivisme mahasiswa. Di pintu menuju Monas kami berkumpul. Di sana-sini terlihat agent provocateur polisi. Entah kenapa selalu polwan yang bisa kukenali, mungkin mereka menggunakan reserse priayang lebih mudah menyamar dan luput dari perhatianku. Yang jelas mereka tampak tidak cocok dengan lingkungannya. Ibu-bu dengan dadanan tebal? Orang gila dengan potongan rambut polwan? Ibu-ibu berkerudung di samping polwan lain? Wajah mereka jelas usia dinas aktif! Apalagi ketika mereka masuk ke Monas berbarengan. Di sana kami menunggu BEM UI dan IPB. Ketika sudah datang pun anak-anak UI tidak langsung masuk, bahkan (entah sejak dulu dalam demonstrasi aku merasakan jarak dengan mahasiswa UI) akhirnya mereka sempat memisahkan diri. Massa Forkot yang menutup jalan menuju ke istana menghambat kami. belum lagi keterlambatan IPB. Akhirnya kami mendahului masuk ke jalan depan istana. Melewati massa Forkot, hanya dibatasi polisi, akupun berhadapan dengan polisi.
FAKSIONALISME, entah apa aku harus berkomentar. Aku melihat bendera FAM UI, di sebelahku ada yang bertanya apa itu. “Oposisi BEM UI, UGM nggak punya oposisi ‘kan?” jawabku sinis. Di UGM ideologi tidak menjual. Partai-partai tidak jelas terlihat afiliasi ideologi di belakangnya. Yang ada primordialisme fakultas, terutama mereka yang berani menentang BEM. Kenapa kusebut primordialis? Karena ikatannya adalah ikatan tempat, berbeda dengan FAM yang menunjukkan perbedan afiliasi dengan BEM.
Demonstrasi hari itu diakhiri dengan berpindah ke depan Monas sekali lagi. Di sana kami yang bersiap shalat maghrib sedikit mengendurkan barisan. Danlap gila! Kami yang sudah lelah ini hanya diberi makanan ideologis? Give us a break will you? Mereka meminta kami tetap ketat. belum lagi para bunker UI dan IPB yang juga masih cukup gila beraksi. Mereka dengan baterainya yang masih baru dengan sangar ‘mengawal’ kami. Sedikit emosi juga dengan bunker UI yang sebelumnya membuat happening art-nya anak IPB terganggu.
Bledum!
Semua berkumpul, tahu-tahu bubar ke arah air mancur. “DIANCUK! GAS AIR MATA! ODOL! AWAS GAS! GAS!” Chammy yang kusiapkan untuk handuk kugunakan untuk menutupi wajahku sambil lari. Karena tidak melihat gasnya jelas di trotoar aku berhenti. Ada yang matanya kepedesan, entah kenapa. “Maaf, Kaneboku ada keringatnya. Ku lap ya biar nggak perih.” Rupanya gara-gara odol. Ada anak IPB yang juga seperti itu, kelebihan odol. Total aku membasuh mata tiga orang yang panik gara-gara gas airmata! Dan sekali lagi katanya gas air mata itu jatuhnya tidak disengaja! Padahal secara psikis jelas banyak yang naik darah dan barisan sudah berantakan.
Aaargh, I want some rest! dasar anak UI, mentang-mentang datang terakhir mereka menantang adu kuat teriak. menari-nari dengan lagu mereka, mereka kibarkan bendera mereka. Mereka ku tinggak tidur dalam kondisi seperti itu. dengan baju maih lengkap, tas masih di punggung aku terlelap. Let those damn student do what they want! Ini menyebabkan aku tidak menyadari bahwa akhirnya mereka pulang malam itu!
Paginya kami dibangunkan jam 2, Qiyammulail. Romantis juga! Tetapi setelah kuambil wudhu di RRI aku justru tertidur di sana! Memang fisikku saat ini sudah terbentuk sebagai pemalas. Setelah itu bangun dan shalat subuh di RRI. Pukul 6 kami melakukan pemanasan dan sarapan. Aku tak mau kejadian yang kemarin terulang! Aku butuh sarapan!
Hari itu aksi kami dilanjutkan dengan berjalan ke Bunderan HI. Wajah-wajah malas terlihat diantara kami. Di Bunderan HI kami hanya duduk, duduk dalam ketidakpastian. Di sana kau menyadara bahwa tidak ada mahasiswa UI di antara kami! Rupanya dengan kehadiran mereka resiko menjadi lebih besar. Fyuh, kami hanya duduk di pagi hari. Aku mencium bau-bau desersi…Benar saja kami diminta berkumpul di sekeliling Budiyanto. Setelah cuap-cuap lama akhirnya kami dinyatakan pulang! Kami tidak dihiraukan! Seorang mahasiswa disampingku berkata, “Kurang ajar kali pemerintah ya!” Sebagaimana sudah kuperkirakan, para pimpinan tidak ingin mengambil resiko…
Dengan diiringi truk-truk PHH kami pulang… Inilah demonstrasi pertamaku sebagai mahasiswwa UGM dan semoga yang terkahir.

Allah, telah kau tunjukkan jalan untukku, jangan kau sesatkan aku. Demonstrasi adalah hak kami, tapi ini sudah bukan masanya demonstrasi.

Iklan