“Dit, emang FIB kenapa kok ditempel persis di depan kampus gua?”

“HAh? Apaan?”

“Lu ikut-ikutan yang nempel selebarannya gak?”

“Selebaran apaan?”

“Tuh di Kopma juga ditempel.”

Akupun keluar melihat ada apa dengan dunia hari ini. Berjalan ke kafetaria Kopma, tidak ada sepuluh meter dari sanggar, humm biasa saja. Lalu mataku sedikit berkeliaran, Balairung Koran belum ada yang baru, Bulaksumur Pos sama… Mataku melihat ke salah satu pilar. Pamflet dengan cetakan yang membuatnya merogoh sedikit kocek (2 warna!) terpampang.

“BUSUKNYA ILMU BUDAYA”

Ku baca pelan-pelan…

Tanganku mengepal…

Cakarku ingin merobeknya tapi sekali lagi ada yang menahanku, entah kepengecutan atau kesetujuanku.

Sekali lagi benturan budaya di FIB menghasilkan hal yang ku benci. Jujur, aku setuju dengan yang tertulis di pamflet itui. TAPI AKU TIDAK MENGINGINKAN PAMFLET ITU ADA!!! Aku tahu apa yang di tulis di dalam pamflet itu, sedikit lebih tahu dariu sebagian warga FIB, aku tahu itu. Aku sudah cukup tahu siapa saja yang dadanya berdetak cepat ketiuka membicarakan isi pamflet itu.

Tapi bukan begitu! Kalian Aliansi antah berantah seenaknya saja menulis aib, apa kalian sudah merasa cukup berjuang di dalam?

Akhir minggu ini kuhabiskan dengan pertanyaan-pertanyaan dari adik-adikku.

Dulu ada teriakan yang terngiang selalu di telingaku… “Busuk! Busuk kalian semua!”

For once, I’m agreed. We are all rotten

Iklan