Pengembaraan Desember Tradisional. Acara kebanggan para Penegak sekota Yogya. Jika ada kesempatan bertemu dan berkumpul dengan mereka yang dibicarakan tidak lain dan tidak bukan pasti pengalaman mereka di PDT. Namun bagaimana dengan para Pandega? Pengalaman semasa Raimuna Daerah kemarin memberi nafas baru bagi kami, anggota RGM. Melepaskan keangkuhan golongan. Memang usia kami terpaut, aku yang lahir di dekade 80an bersama-sama dengan mereka yang lahir 90an. Yup, dimulai dari Raida! Tetapi tidak ada provokasi lebihkeras bagiku ketika adik kelasku di FIB berkata, “Mas ikut Pramuka ya? Kok UGM nggak pernah ikut PDT sih?”

Segera setelah pelantikan PDR yang baru kutagih keinginan salah satu PDR yang bersama-sama di Raida menyatakan keinginan mengikuti PDT. Dengan persiapan yang ketantilan, nabrak-nabrak, dan buru-buru akhirnya kami benar-benar mengikuti PDT. Sekali lagi kubilang terburu-buru. Setidaknya terdapat acara-acara di Racana yang menguras energi kami sehingga kami kesulitan untuk melakukan persiapan fisik.

Sudah lah cerita pembukanya!

Hari pertama/Etape 1

Dengan dilepas oleh kakak-kakak DR kami berangkat ke Museum sasana Wiratama, rapi dan keren berseragam Pramuka lengkap dan ransel yang besar. Ketika sampai di lapangan upacara orang pertama yang kutemui ketika membuka pintu adalah Ratna, salah satu peserta Raida. Yup ternyata banyak sekali peserta Raida yang menjadi panitia PDT!

Bersama-sama dengan pasukan dari Batalyon 403 kami memulai perjalanan. Namun memang stamina kami terpaut jauh. Tak sampai 3 km kami tidak mampu mengejarnya. Yah, seragam Pramuka yang masih kami kenakan jelas-jelas tidak cocok untuk berjalan jauh, meski kami tetap keren. Akhirnya selepas pos satu, kurang lebih 50an meter kami berganti baju di masjid al-Ikhlas. Eh, ternyata ada Unik, siswa kelas 3 SMAN 1 yang dulu juga peserta Raida.

Perjalanan kami lanjutkan. Memang! Kami para Pandega sama sekali tidak seperti peserta lainnya. Ditengah terburu-burunya kaim, kami masih sempat berfoto di pinggir sawah. Begitupula Tanaya yang menemukan hanger, topi, dan entah apalagi yang ia gantung di ransel biru-hitam miliknya. Ketika sampai di pos 3, pos terakhir etape pertama yang kami temui sebagai penjaga pos adalah Atina, orang yang selama ini mengongmpori aku. Di situ juga terdapat beberapa peserta Raida lain seperti Bhara, Senja, Irna, dan yang paling membuat Tanaya bersemangat adalah Ratna! Setelah dai pos 3 kami melanjutkan perjalanan. Ditengah perjalanan kami yang kehausan terpaksa meminta air ke penduduk. Dunia memang sempit, ternyata itu adalah rumah teman kuliah Chomsun! Sempat berlama-lama istirahat di sana hingga adzan maghrib pun datang. Ditengah derasnya hujan akhirnya kami sampai di SMU Minggir Sleman. Selesailah Etape 1!

Bersambung ke etape selanjutnya

Iklan