1984 dan Indonesia Kita

Pernah Lihat profile-ku di Friendster? Merasa gak nyambung? Aneh? “Apa sih si Adit ini?” mungkin itu yang kepikiran di kepala orang-orang waras. Mungkin saya hanya bisa tertawa, tetapi saya jamin asyik jika kita lihat dan kaji lebih jauh lagi. Sebuah tamasya ke dalam ‘dunia lain’ yang saya bayangkan, sekaligus sentilan tentang dunia nyata kita dan sikap mengenai hiperrealitas…

The novel

1984:Sebuah Distopia Insan Berakal Bebas

1984. 39 tahun setelah PD II, dunia jatuh ke dalam peperangan konstan yang merupakan perdamaian abadi. Kelas pekerja memerdekakan dirinya dengan menghamba pada kediktatoran “proletar.” Seluruh bangsa dunia berbahagia dengan kekuatan besar yang disatukan dalam pembodohan dan ketidakpedulian. Kepemimpinan dunia terbagi dalam 3 negara besar Oseania, sebuah negara Inggris Raya Baru dengan Sosing(Sosialisme Inggris). Asia Timur Raya dengan ideologi “Penihilan Diri”-nya. Dan Eurasia, terbentang dari eropa daratan ke ujung timur Siberia mengedepankan Neo-Bolshevisme. Dus, perbedaan ideologis ketiganya tak lebih dibanding selisih antara 12 dan 11. Tapi ketiganya adalah negara yang saling berperang, saling membenci dalam kegairahan irasional.

BB

Untuk apa semua ini? Untuk menguasai kalian, para prol, para Prol-etar! Semua usaha yang dilakukan oleh penguasa dunia saat itu tak lain dan tak bukan adalah propaganda dan pencucian otak. Ignorance is Strength, Freedom is Slavery, War is Peace. Itulah propaganda mereka.

Mimpi burukmu? George Orwel mungkin bukan peramal, dan ramalannya dalam novelnya pun jauh dari nyata. Ia memang tidak belajar studi futuristik. Prediksinya hanya menimbulkan bulu kuduk yang merinding sejenak, tidak membuatmu marah seperti Gulagnya Solzhenitsyin.

Namun Ia telah berhasil menggambarkan sisi terburuk yang mungkin ada dari komunisme ala Soviet!. Sisi yang pada zamannya tidak secara utuh tergambar di benak cendekiawan Barat. Sesuatu yang tak terbayangkan oleh para komunis yang beriman.

Dengan karyanya ini Orwell menunjukkan keberpihakannya pada kalangan bawah. Ia merupakan seorang sosialis. Ini adalah akumulasi kekecewaannya pada kaum kiri. Ia membenci elitisme kiri di Inggris maupun diktatorisme Soviet. Bagaimanapun juga ia tetap berada di kalangan kiri.

Lalu ada apa dengan dunia nyata yang kita tinggali? Mudah saja. Pernahkah kita melihat sedikit lebih dalam apa yang terjadi di Indonesia kita:

 

Newspeak

Literal

Padanan di Indonesia

 

Ini bukan sekedar ketersesatan diri saya dalam hiperrealitas! Saya masih membedakan antara dunia nyata dan fiksi Orwell!

Saya melihat suatu hal yang mirip antara Oceania dan NKRI. Yang menjadi ketakutan saya adalah Orwell mengarang novelnya dalam kondisi Inggris yang diliputi oleh kebebasan, sedang saya melihat dengan intelektualitas saya bahwa Indonesia sudah memiliki elemen yang sama dengan Oceania.

Satu pernyataan yang ingin saya berikan (dan tampaknya juga ingin Orwell berikan) jangan biarkan masyarakat kita terjerumus dalam rezim seperti ini! Satu rezim yang memberangus kemerdekaan pribadi dan melakukan penipuan terhadap rakyat!

 

Bagaimana tanah yang pernah ditinggali Orwell sebagai seorang aparatur kolonial?

Myanmar……..…social classes

Iklan