Mungkin agak telat. Bagaimanapun ini harus diup-load!

Ketika berangkat tarawih ada sesuatu yang berbeda. Warga sanggar tak biasanya kompak bersama-sama ke Maskam. Biasanya sebagian pergi tarawih ke Al-Hasanah(sebelah utara KFC perempatan Mirota). Mengapa? Ah, nikmati saja kebersamaan ini!

Oh ternyata… Imam kali ini adalah seorang imam Palestina! Samar-samar ia mengingatkan pada imam dari Palestina yang hadir di acara konser nasyid dan tabligh akbar “Pekikkan Takbir Bebaskan Palestina” tahun 2003 lalu di Balairung UI. Tampaknya memang orang yang sama.

Shalat sebagai ma’mumnya memberi pengalaman baru. Biasanya kita berharap bahwa seorang Imam dari Arab sana akan berlama-lama dalam shalt. Uhmm, harus berpikir ulang untuk hal itu!

Untuk shalat wajib(Isya) bisa dikatakan tidak terlalu berbeda dengan yang biasa dilakukan di Maskam. Nah untuk shalat Tarawihnya ini yang agak berbeda! Untuk yang biasa shalat di Maskam pasti bisa berkomentar. Ia cukup konsisten dalam kecepatan dalam satu kali shalat. Konsisten cepatnya! Setidaknya bacaannya yang cepat tidak merusak mutu bacaan.

Satu hal yang berbeda darinya adalah ia melakukan khutbah di akhir setelah menyelesaikan witir. Agaknya di negerinya sana, Palestina dan Yaman, khutbah tidak biasa dilakukan. Khutbah yang diselipkan antara shalat Isya dan Tarawih tentunya bukanlah hal yang berdosa kecuali kita menganggapnya wajib! Hal lain yang ia komentari adalah pilihan rakaat tarawih yang dilakukan di MasKam. Ia bertanya mengenai pilihan ‘formasi’ rakaat 4-4-3. Ia terbiasa melakukan shalat tarawih dua rakaat dua rakaat. Bagaimanapun ia tetap mengimami kami dengan ikhlas.

Sekali lagi ada yang berbeda! Ia mengimami kami secepat kilat, …untuk ukuran Maskam. Shalat isya, tarawih plus witir dilakukan bersih satu jam. Hmm, bukan rekor memang jika dibandingkan dengan tempat lain. Tetapi cukup cepat untuk Maskam, apalagi jika dibandingkan dengan Masjid Salman ITB!!!

Khutbah yang ia akhirkan(mungkinkah di sana tidak biasa ada khutbah tarawih?) cukup mengharukan. Ia menceritakan mengenai berbuka keluarga-keluarga Palestina dengan kusi-kursi kosongnya. Inikah militansi di sana? Yang kurang dari ‘oleh-oleh’nya adalah tiadanya cerita mengenai rivalitas antara HAMAS dan Fatah. Meski begitu secara tersamar ia juga menyebut mengenai’mereka yang menjual tanah airnya.” Taklupa ia juga mengingatkan tentang satu negri kecil di Tanduk Afrika. Sudan. Satu negri yang hampir terlupakan oleh dunia Islam! Negri tempat rivalitas antara kubu Islam dan kubu tuan tanah. Kehadiran imam dari Sudan yang selama ini menyertai tarawih di Maskam mungkin tidak terlalu memberi kesadaran bagi jamaah Maskam!

Bagaimanapun, aku mengingat tarawih malam itu!

Iklan