Enam tahun lalu, tanggal 11 September pukul delapan malam lewat beberapa menit. Aku sedang menyantap makan malamku sambil menatap layar kaca. Aku terpana. Breaking News Metro TV benar-benar memecahkan kedamaian makan malamku! (Aku tak mengingat bagaimana kata-kata persisnya)

“Pemirsa, sekitar … menit lal, tepatnya pukul … waktu setempat gedung WTC di Manhattan NY dihantam oleh sebuah….”

Kengerian teror belum sampai menyelubungiku. “Apa ini? Sebesar apa gedung WTC? Pesawat mana yang cukup bodoh untuk menabraknya?” Namun beberapa menit kemudian pesawat kedua datang. Diiringi teriakan reporter Amerika aku menghentikan suapanku. Allah… Allah…

Kengerian terrorpun menyelubungiku… Menyebrang melintasi bumi. Aku merasa sendiri.

Aku tak tahu apa-apa mengenai WTC. Kesadaranku berharap pesawat yang menabraknya bukanlah pesawat besar. Tak kusadari WTC mampu mengerdilkan Boeing! Citra yang tak jelas. Aku berharap itu hanyalah bizjet. Maka yang kulihat hanyalah sebuah Bizjet. Sekali lagi akuu sama sekali tak menyana WTC mampu mengerdilkan Boeing!

Menit berjalan dan berjalan. Kulihat kedua gedung kembar itu runtuh!

Kengerian teror telah berjalan melintasi paruh bumi.

Tak kuhabiskan makan malamku saat itu.

Iklan