Goofy things. Ada yang tidak tau kenapa Goofy namanya Goofy? Cek aja link barusan, entar juga ngerti. Yah, dimana-mana makhluk yang bersifat Goofy berkeliaran. Meski pengamatan saya terbatas di Jogja,  kayaknya di Ibukotapun sama saja. Lebih parah mungkin. Sila dibaca satu-persatu:

1. Kerudung “taplak nyangkut.” Asli banyak ada di Jogja. Meski perilaku kerudung taplak nyangkut (masuk sekolah/kuliah berkerudung begitu kelar langsung dilepas) banyak ditemui di kota-kota lain selain Jogja tapi di Jogja kata Taplak Nyangkut memiliki arti harfiah. Di SLTA-SLTA yang mewajibkan kerudung bagi siswanya banyak ditemui kerudung yang dikenakan asal saja. Jika dilihat baik-baik sepertinya jika ada angin sedikit saja kerudung tersebut akan berpindah tangan. Di mana banyak ditemui kerudung macam ini? Paling banyak di SMA-SMK Muhammadiyah. Rupanya bagi mereka kerudung adalah kewajiban yang menyesakkan. Mereka tidak akan dapat tampil cantik dengannya, buat apa merapikan kerudung jika begitu? OK, lepas saja kerudungmu selepas sekolah, jangan mengganggu pemandangan kota dengan kerudung yang asal pakai.

2. Biker: Sport Tourist Wannabe. Motor Honda Mega-Pro (bukan kampanye!), Tiger, atau Yamaha Scorpio, saddlebag (kami pesepeda menyebutnya pannier)  di kanan-kiri-belakang jok, jaket kulit warna hitam, kaca mata hitam, badge/wing macam-macam mak trembel di jaket. Untuk ketemuan tiap rabu malam. Atau kadang untuk perjalanan tak lebih dari 30 km. What’s the point? Tuh saddlebag gak di copot untuk ngantor/kuliah sehari-hari apa gak nyusahin?

3. Demam Sepeda. Nyah-nyah-nyah. Global warming. Hemat BBM. Peduli lingkungan. Who really cares?!? Beli sepeda downhill seharga US$ 2.300 untuk downhill (berangkat dengan naik truk). Sepeda balap crabon freibe untuk muter kompleks. Jangan mimpi untuk nyanyi gini. Dan selebriti pun dilibatkan untuk promosi ini. Silahkan dihitung, berapa wanita yang muncul di halaman belakang Kompas dengan sepeda polygon yang masih benar-benar baru (belum dilepas plastik covernya). Atau acara Neozep Forte yang menampilkan model full lycra tapi tidak tahu cara mengenakan helm? Bahkan species sejenis terakhir dapat ditemui di FEB UGM!

4. Lowrider. Diawali dengan kebangkitan kembali cruiser di Amerika, muncullah sepeda gunung pertama. Tapi kemudian muncul lagi retro style yang menggunakan cruiser dengan aksesori lama seautentik mungkin. Tapi kemudian berkembang terus lagi. Rangka yang digunakan tidak lagi rangka asli yang ditemukan di junkyard tapi sepeda utuh baru dengan gaya cruiser. Bahannya besi hi-ten murahan yang tidak sekuat chromoly aslinya. Dan yang mengerikan muncullah lowrider yang dibuat serendah-rendahnya, ground clearance 100mm terlalu tinggi, wheelbase sepanjang-panjangnya, setang ape hanger lebih tinggi daripada mata… dst. Ok, Fashion hurts! (Catatan, lowrider udah jarang kelihatan. Tapi ada yang baru aja muncul lagi di Jogja : Fixie)

Masih banyak hal goofy lainnya di dunia ini. Yah, menyaksikan mereka kadang menjengkelkan dan menusuk mata. Tapi biarlah, toh kebodohan mereka satu saat dapat kita tertawakan.

Bahasa adalah suatu yang dikonstruksi. Ingatan adalah suatu yang dikonstruksi. Sejarah adalah sesuatu yang dikonstruksi. Dus segala hal yang dijadikan pijakan bagi banyak orang tak lebih dari kabut tebal.

Seperti itulah perasaan ketika pertama kali membaca buku MO Parlindungan, Tuanku Rao. Batak yang dikenal sebagai etnis Kristen bagi orang Jawa menjadi sebuah etnis non-urban yang diperebutkan pengaruhnya oleh kekuatan-kekuatan di masa kolonial.

Sekali-dua kali membaca halaman-halaman buku ini tidak cukup untuk sepenuhnya memahami bahasa yang digunakan oleh penulisnya. Jika dibayangkan serasa mendengarkan seorang Kakek yang masih kental bahasa Belandanya tetapi ingin berbahasa Inggris. Tidak lupa pula ia membubuhkan istilah-istilah Latin atau Perancis.

Yang harus diapresiasi bukanlah tuturan cerita mengenai Tuanku Rao saja. Separuh dari buku ini adalah kronik-kronik yang terkait dengan cerita Tuanku Rao. Mulai dari Kronik mengenai Islam, Batak, hingga silsilah. Sebuah karya sejarah, menurut penulisnya.

Penulis menjabarkan kepahlawanan Tuanku Rao, seorang keturunan Singamangaraja VII, yang menjadi salah satu panglima dalam perang Padri. Di dalamnya ia juga menguraikan kekejaman Tuanku Lelo. Dengan bahasa luar biasa tentunya.

Dalam buku ini terlihat bagaimana etnis-etnis di ujung utara sumatra saling berkaitan. Antara Minangkabau, Aceh, dan Batak (yang terdiri dari berbagai sub etnis) saling merantau untuk melangsungkan hidupnya.

Tapi beberapa kali dalam buku ini Parlindungan menyebut Minangkabau tidak berpegang pada fakta yang kuat. Sejarah Minangkabau tidaklah menunjukkan kejadian yang pasti, hanyalah berdasarkan pada dongengan saja.

Buku ini memotret luka dua etnis yang berada di dua sisi pulau Sumatra ini. Buku ini juga menyebut banyak yang yang seharusnya, jika dikaji lagi, menjadi bahan untuk membangun narasi sejarah Indonesia.

Buku ini seharusnya adalah hadiah bagi para posmodernis dan sejarawan. Sayang kebangkitannya kembali terlambat selama dua dekade. Jika saja buku ini dibahas dua puluh tahun lalu, dalam kerangka metodologis. Kira-kira seberapa seru perdebatan yang terjadi?


Time, it needs time
To win back your love again
I will be there, I will be there
Love, only love
Can bring back your love someday
I will be there, I will be there

Ill fight, babe, Ill fight
To win back your love again
I will be there, I will be there
Love, only love
Can break down the wall someday
I will be there, I will be there

If wed go again
All the way from the start
I would try to change
The things that killed our love
Your pride has built a wall, so strong
That I cant get through
Is there really no chance
To start once again
Im loving you

Try, baby try
To trust in my love again
I will be there, I will be there
Love, our love
Just shouldnt be thrown away
I will be there, I will be there

If wed go again
All the way from the start
I would try to change
The things that killed our love
Your pride has built a wall, so strong
That I cant get through
Is there really no chance
To start once again

If wed go again
All the way from the start
I would try to change
The things that killed our love
Yes, Ive hurt your pride, and I know
What youve been through
You should give me a chance
This cant be the end
Im still loving you
Im still loving you, I need your love
Im still loving you

Jika kamu masih mau mendengarkanku,

Hiduplah Indonesia Raja!

Sudah lebih dari delapan dasawarsa nyanyian itu dikumandangkan di nusantara raya ini. Telah lebih dari enam dasawarsa lalu pula, tepatnya pada tanggal 9 Ramadhan ini, kemerdekaan Indonesia Raja ini diproklamasikan. Maka kami dengan ini menyataken kemerdekaannya! Ramadha Merdeka!

Selamat!

Ride safe, Ride smart. even if you lost your bike like me. Live well in the air of our independence!

« Halaman SebelumnyaHalaman Berikutnya »