Hubbud Dunya


Satu Oktober lalu adalah hari besar. Bukan hanya hari kesaktian Pancasila saja bagi kita melainkan hari lahirnya Republik Rakyat Cina.[1] Ya! Baru saja dunia disuguhkan pemandangan luar biasa dari sebuah Über power baru. Parade sepasukan tentara yang sangat presisi, dihitung jarak hidung ke hidungnya, ratusan tank, pesawat, dan rudal, semuanya buatan dalam negeri. Tapi adakah hubungannya dengan negeri kita ini? Selagi saya menulis saya diiringi oleh irama pukulan lesung Teater Gadjah Mada dan lagu Rayuan Pulau Kelapa oleh karena itu saya sangat ingin berteriak “ADA!!!” Apa yang ada hubungannya? Untuk ilmu-ilmu kemanusiaan apapun bisa saja dihubung-hubungkan, tetapi bukannya buang-buang waktu.

Republik Rakyat Cina adalah negara besar yang amat kuat militernya. Ia memiliki angkatan bersenjata terbesar di dunia. Lebih tepatnya lagi ia memiliki angkatan bersenjata dengan pengaruh terbesar terhadap masyarakat negaranya. Ia adalah negara totalitarian yang dengan gamblang menyatakan dirinya totalitarian. Dan salah satu aspek dari negara totalitarian adalah Parade Militernya.

Yah, sekedar saja kita mungkin bisa membahas tentang bagaimana parade militer di dunia dan hubungannya dengan masyarakat sipil. Siapa tahu dengan membandingkan parade militer di negeri ini kita bisa mengira-ira, bagaimana hubungan sipil-militer di negeri ini. Hitung-hitung peringatan 5 oktober yang dulunya adalah hari ABRI. (lagi…)

Hiduplah Indonesia Raja!

Sudah lebih dari delapan dasawarsa nyanyian itu dikumandangkan di nusantara raya ini. Telah lebih dari enam dasawarsa lalu pula, tepatnya pada tanggal 9 Ramadhan ini, kemerdekaan Indonesia Raja ini diproklamasikan. Maka kami dengan ini menyataken kemerdekaannya! Ramadha Merdeka!

Selamat!

Ride safe, Ride smart. even if you lost your bike like me. Live well in the air of our independence!

Selagi cerita mengenai sepeda saya yang hilang (lagi) beredar, saya nyatakan saya menerima sumbangan parts apapun dari anda.

Well, sudah sebulan sejak peledakan di Kuningan. Sudah sebulan pula rakyat Indonesia menunjukkan kejengahannya pada aksi SARIYAH JABIR. Yah, dalam sebulan yang lalu terungkap pula ketidakakuran aparat negara.

Sebagai seorang politisi SBY menyebut secara samar tentang terorisme dan pemilu. Mantan komandan Den 88 mengomentari di TV1 bahwa itu pernyataan yang menyesatkan, sepertinya berasal dari intelejen, dan memang itu tugas mereka.

AM Hendropriyono meminta wewenang lebih besar menangani terorisme. Jika wewenangnya disalahgunakan iapun siap mati. Tak lama sejak itu TNI-AD mengumumkan dibentuknya desk antiteror. Ternyata, katanya,  UU tentang TNI mengamanatkan  masalah terorisme kepada TNI.  Dan berlangsunglah drama pengepungan Temanggung.

Hmm, Ternyata bangsa ini masih bingung, tentara mau apa, intel mau apa, polisi mau apa. Mungkin saja kita lebih baik memilih BIN, terbukti Munir bisa terbunuh tanpa terungkap arti telepon yang dilakukan pembunuhnya ke kantor BIN. Mugkin saja kita lebih baik mendukung tentara, tapi ketika mereka berbicara penanganan terorisme mereka hanya pamer “simulasi pembajakan.”

Yah, lihatlah Den 88 yang susah payah menangkap teroris kelas teri di Cilacap dan  malah kecolongan di Jakarta dalam seminggu. Tak perlu lagi bingung, percaya saja ke kepolisian.

Teroris menyebalkan, mereka memberi alasan bagi mliter utuk memperoeh kekuasaan lebih bagi hidup kita.

Akhirnya, Ta-Bi muncul lagio setelah dibawa oleh Yuslan. Ia ditinggal di Masjid Al Habsyi. Do you know where is it? Tepat di sebelah barat kamar mandi putri gelanggang mahasiswa UGM.

Selagi anda masih di sini saya mengabarkan bahwa saya menemukan produk yang harus diboikot. Sepeda magnesium buatan Israel. Entah karena bahannya adalah salah satu logam termudah karatan atau apa, boikotlah. Meski ada usaha cukup keras untuk mengiklankan sepeda ini.

Halaman Berikutnya »