Facletfull me


Unnecessary Law Enforcement, moga-moga istilah baru yang saya bikin ini bisa mengorbit ke kancah dunia. Penegakan Hukum yang tidak perlu, kurang lebih itu kamsud istilah ini.Untuk rekan-rekan sekalian, sudah sepantasnya kita berterimakasih dengan sangat kepada media karena sudah menunjukkan betapa begitunya para penegak hukum kita. Kalau kata orang Jawa sih ngono yo ngono neng ojo ngono…

ini dia daftarnya:

1. Bocah di bawah 10 tahun dihukum karena berjudi koin. Yang benar bung!? Judi koin yang dipraktekkan juga oleh rekan-rekan se-SD saya dihukum penjara? Lihat nilainya, gak ada10 ribu perak. Ini prestasi polisi dan kejaksaan Banten (yang juga ngurusi kasus bu Prita). Padahal cukup jewer kupin anak-anak itu, kembalikan ke orang tuanya. Masalah sebenarnya: menilik tempat penahanan, polsek Bandara Soekarno-Hatta, mereka sebenarnya adalah tukang semir yang kerap kali kucing-kucingan dengan keamanan Bandara. Polisi dan Keamanan Bandara sudah bosan, ditahan sajalah mereka.

2. Mencuri 3 buah Kakao dihukum penjara. Penyelesaiaannya cukup ngadep ke mandor, dimarahin, kembaliin kakao, selesai. Berapa sih nilai 3 buah kakao? Padahal di Lampung kemarin saya malah merobohkan satu pohon. Prestasi Polisi dan Kejaksaan Jawa Tengah.

3. Mencuri 1 buah semangka dihukum penjara. Persis sama dengan di atas. Prestasi Polisi dan Kejaksaan Jawa Timur. Masalah sebenarnya: pemilik kebun semangka memang kecurian dalam jumlah besar atau memiliki musuh. Begitu ada yang mengambil (walau hanya satu) ya hajar saja.

Dalam hal ini perkara-perkara ini tampaknya polisi dan jaksa memang kelihatan kurang kerjaan banget. Atau ada Polisi dan Jaksa yang ngejar setoran jatah kasus yang diselesaikan, jadi daripada ngejar koruptor-koruptor milih ngejar orang-orang yang tidak akan mampu mebayar pengacara mumpuni.

Karena tampaknya hakim Indonesia tidak berkompeten menghakimi, kita juga gak punya harapan lagi. Hakim Indonesia tidak punya kreativitas untuk memberikan hukuman yang “wajar.” Bahkan mungkin mereka hanya mebaca teks hukum saja, tanpa menggali nilai-nilai yang ada di masyarakat. Kasus pertama amat baik jika dikembalikan ke orang tua dan anak-ank tersebut tidak harus ditahan. Kasus kedua dan ketiga jelas menentang norma masyarakat, “di tanah pertanian jika ada yang mengambil hasil tani untuk dimakan sendiri itu bukan kejahatan.”

So, this is our sad farewell for our decency.

Allahu’alam bisshawab.

Sekian lama tidak membuka dan menulis di Blog ini, saya akhirnya menulis lagi. Yah, Sang Zaman sudah menentukan, inilah saatnya gonjang-ganjing dalam hidup saya. Gak segitunya juga sih…

Rasanya ingin mengucapkan terimakasih yang sangat kepada rekan-rekan di Racana yang telah melepaskan saya (dan Aminah) pergi ke Lampung untuk acara Kembaranas. Di sana pertemuan dengan (penegak dan) Pandega se-Indonesia, semoga observasi saya bisa mengembangkan wacana kepramukaan di Yogyakarta. Meski ngurt dada juga sih kalo melihat pemikiran teman-teman Pramuka Perti.

Di minggu-minggu ini kita disuguhi gonjang-ganjing penegakan hukum di Indonesia, mulai dari KPK vs Polri-Kejaksaan, unneccesary law enforcement, sampai mencuatnya kembali masalah Bu Prita. Yah, bapak kita yang terhormat Susilo Bambang Yudhoyono duduk dengan nyaman di kursi tertinggi pemerintahan negeri ini.

Jadi ingin teriak “Ayo kirim uang koin ke Bu Prita!”

Satu Oktober lalu adalah hari besar. Bukan hanya hari kesaktian Pancasila saja bagi kita melainkan hari lahirnya Republik Rakyat Cina.[1] Ya! Baru saja dunia disuguhkan pemandangan luar biasa dari sebuah Über power baru. Parade sepasukan tentara yang sangat presisi, dihitung jarak hidung ke hidungnya, ratusan tank, pesawat, dan rudal, semuanya buatan dalam negeri. Tapi adakah hubungannya dengan negeri kita ini? Selagi saya menulis saya diiringi oleh irama pukulan lesung Teater Gadjah Mada dan lagu Rayuan Pulau Kelapa oleh karena itu saya sangat ingin berteriak “ADA!!!” Apa yang ada hubungannya? Untuk ilmu-ilmu kemanusiaan apapun bisa saja dihubung-hubungkan, tetapi bukannya buang-buang waktu.

Republik Rakyat Cina adalah negara besar yang amat kuat militernya. Ia memiliki angkatan bersenjata terbesar di dunia. Lebih tepatnya lagi ia memiliki angkatan bersenjata dengan pengaruh terbesar terhadap masyarakat negaranya. Ia adalah negara totalitarian yang dengan gamblang menyatakan dirinya totalitarian. Dan salah satu aspek dari negara totalitarian adalah Parade Militernya.

Yah, sekedar saja kita mungkin bisa membahas tentang bagaimana parade militer di dunia dan hubungannya dengan masyarakat sipil. Siapa tahu dengan membandingkan parade militer di negeri ini kita bisa mengira-ira, bagaimana hubungan sipil-militer di negeri ini. Hitung-hitung peringatan 5 oktober yang dulunya adalah hari ABRI. (lagi…)

Setelah obrolan yang bikin hati gak karu-karuan dilanjutkan tidur menghasilkan mimpi yang agak aneh. Samar-samar mengingatnya:

Entah kenapa, menemukan diri sedang jalan-jalan. Jalannya menurun. Sepertinya sedang berseragam Pramuka, sepertinya juga tidak. Jalannya menurun, tidak diaspal tetapi lumayan lega. Rumput di sana-sini. Rasanya berbarengan dengan teman. “Oh, lagi wide game kah? Kok jalannya jadi aneh ya? Aduh!” Kakiku masuk kubangan comberan berwarna hitam.

dan tiba-tiba…

Sedang latihan pengenalan ular. Ada empat ular yang dibawa. Ular-ularnya tampak berlendir. Agak jijik juga. “Aku belum bisa menangani kobra.” Entah kenapa ular-ular tadi kulempar ke empat tempat di kiri-kanan ku.

lalu setting berpindah lagi…

Ada Pramuka dari Perguruan Tinggi antah berantah sedang melakukan studi banding. Entah kenapa aku merasa sedang di Bandung! Aku berteriak, “Jalan aja di sini banyak Perti, sebentar lagi bertemu dengan UnPas!” Karena yang terlihat adlah wanita rasanya ingin sekali aku menunjukkan badge Pandegaku, yang ternyata ada di pundakku…

dan lanjutannya tidak jelas lagi..

Namanya juga mimpi. Ada bisa menerjemahkan?

Halaman Berikutnya »