Facletfull me


Satu Oktober lalu adalah hari besar. Bukan hanya hari kesaktian Pancasila saja bagi kita melainkan hari lahirnya Republik Rakyat Cina.[1] Ya! Baru saja dunia disuguhkan pemandangan luar biasa dari sebuah Über power baru. Parade sepasukan tentara yang sangat presisi, dihitung jarak hidung ke hidungnya, ratusan tank, pesawat, dan rudal, semuanya buatan dalam negeri. Tapi adakah hubungannya dengan negeri kita ini? Selagi saya menulis saya diiringi oleh irama pukulan lesung Teater Gadjah Mada dan lagu Rayuan Pulau Kelapa oleh karena itu saya sangat ingin berteriak “ADA!!!” Apa yang ada hubungannya? Untuk ilmu-ilmu kemanusiaan apapun bisa saja dihubung-hubungkan, tetapi bukannya buang-buang waktu.

Republik Rakyat Cina adalah negara besar yang amat kuat militernya. Ia memiliki angkatan bersenjata terbesar di dunia. Lebih tepatnya lagi ia memiliki angkatan bersenjata dengan pengaruh terbesar terhadap masyarakat negaranya. Ia adalah negara totalitarian yang dengan gamblang menyatakan dirinya totalitarian. Dan salah satu aspek dari negara totalitarian adalah Parade Militernya.

Yah, sekedar saja kita mungkin bisa membahas tentang bagaimana parade militer di dunia dan hubungannya dengan masyarakat sipil. Siapa tahu dengan membandingkan parade militer di negeri ini kita bisa mengira-ira, bagaimana hubungan sipil-militer di negeri ini. Hitung-hitung peringatan 5 oktober yang dulunya adalah hari ABRI. (lagi…)

Setelah obrolan yang bikin hati gak karu-karuan dilanjutkan tidur menghasilkan mimpi yang agak aneh. Samar-samar mengingatnya:

Entah kenapa, menemukan diri sedang jalan-jalan. Jalannya menurun. Sepertinya sedang berseragam Pramuka, sepertinya juga tidak. Jalannya menurun, tidak diaspal tetapi lumayan lega. Rumput di sana-sini. Rasanya berbarengan dengan teman. “Oh, lagi wide game kah? Kok jalannya jadi aneh ya? Aduh!” Kakiku masuk kubangan comberan berwarna hitam.

dan tiba-tiba…

Sedang latihan pengenalan ular. Ada empat ular yang dibawa. Ular-ularnya tampak berlendir. Agak jijik juga. “Aku belum bisa menangani kobra.” Entah kenapa ular-ular tadi kulempar ke empat tempat di kiri-kanan ku.

lalu setting berpindah lagi…

Ada Pramuka dari Perguruan Tinggi antah berantah sedang melakukan studi banding. Entah kenapa aku merasa sedang di Bandung! Aku berteriak, “Jalan aja di sini banyak Perti, sebentar lagi bertemu dengan UnPas!” Karena yang terlihat adlah wanita rasanya ingin sekali aku menunjukkan badge Pandegaku, yang ternyata ada di pundakku…

dan lanjutannya tidak jelas lagi..

Namanya juga mimpi. Ada bisa menerjemahkan?

Goofy things. Ada yang tidak tau kenapa Goofy namanya Goofy? Cek aja link barusan, entar juga ngerti. Yah, dimana-mana makhluk yang bersifat Goofy berkeliaran. Meski pengamatan saya terbatas di Jogja,  kayaknya di Ibukotapun sama saja. Lebih parah mungkin. Sila dibaca satu-persatu:

1. Kerudung “taplak nyangkut.” Asli banyak ada di Jogja. Meski perilaku kerudung taplak nyangkut (masuk sekolah/kuliah berkerudung begitu kelar langsung dilepas) banyak ditemui di kota-kota lain selain Jogja tapi di Jogja kata Taplak Nyangkut memiliki arti harfiah. Di SLTA-SLTA yang mewajibkan kerudung bagi siswanya banyak ditemui kerudung yang dikenakan asal saja. Jika dilihat baik-baik sepertinya jika ada angin sedikit saja kerudung tersebut akan berpindah tangan. Di mana banyak ditemui kerudung macam ini? Paling banyak di SMA-SMK Muhammadiyah. Rupanya bagi mereka kerudung adalah kewajiban yang menyesakkan. Mereka tidak akan dapat tampil cantik dengannya, buat apa merapikan kerudung jika begitu? OK, lepas saja kerudungmu selepas sekolah, jangan mengganggu pemandangan kota dengan kerudung yang asal pakai.

2. Biker: Sport Tourist Wannabe. Motor Honda Mega-Pro (bukan kampanye!), Tiger, atau Yamaha Scorpio, saddlebag (kami pesepeda menyebutnya pannier)  di kanan-kiri-belakang jok, jaket kulit warna hitam, kaca mata hitam, badge/wing macam-macam mak trembel di jaket. Untuk ketemuan tiap rabu malam. Atau kadang untuk perjalanan tak lebih dari 30 km. What’s the point? Tuh saddlebag gak di copot untuk ngantor/kuliah sehari-hari apa gak nyusahin?

3. Demam Sepeda. Nyah-nyah-nyah. Global warming. Hemat BBM. Peduli lingkungan. Who really cares?!? Beli sepeda downhill seharga US$ 2.300 untuk downhill (berangkat dengan naik truk). Sepeda balap crabon freibe untuk muter kompleks. Jangan mimpi untuk nyanyi gini. Dan selebriti pun dilibatkan untuk promosi ini. Silahkan dihitung, berapa wanita yang muncul di halaman belakang Kompas dengan sepeda polygon yang masih benar-benar baru (belum dilepas plastik covernya). Atau acara Neozep Forte yang menampilkan model full lycra tapi tidak tahu cara mengenakan helm? Bahkan species sejenis terakhir dapat ditemui di FEB UGM!

4. Lowrider. Diawali dengan kebangkitan kembali cruiser di Amerika, muncullah sepeda gunung pertama. Tapi kemudian muncul lagi retro style yang menggunakan cruiser dengan aksesori lama seautentik mungkin. Tapi kemudian berkembang terus lagi. Rangka yang digunakan tidak lagi rangka asli yang ditemukan di junkyard tapi sepeda utuh baru dengan gaya cruiser. Bahannya besi hi-ten murahan yang tidak sekuat chromoly aslinya. Dan yang mengerikan muncullah lowrider yang dibuat serendah-rendahnya, ground clearance 100mm terlalu tinggi, wheelbase sepanjang-panjangnya, setang ape hanger lebih tinggi daripada mata… dst. Ok, Fashion hurts! (Catatan, lowrider udah jarang kelihatan. Tapi ada yang baru aja muncul lagi di Jogja : Fixie)

Masih banyak hal goofy lainnya di dunia ini. Yah, menyaksikan mereka kadang menjengkelkan dan menusuk mata. Tapi biarlah, toh kebodohan mereka satu saat dapat kita tertawakan.

Selagi cerita mengenai sepeda saya yang hilang (lagi) beredar, saya nyatakan saya menerima sumbangan parts apapun dari anda.

Well, sudah sebulan sejak peledakan di Kuningan. Sudah sebulan pula rakyat Indonesia menunjukkan kejengahannya pada aksi SARIYAH JABIR. Yah, dalam sebulan yang lalu terungkap pula ketidakakuran aparat negara.

Sebagai seorang politisi SBY menyebut secara samar tentang terorisme dan pemilu. Mantan komandan Den 88 mengomentari di TV1 bahwa itu pernyataan yang menyesatkan, sepertinya berasal dari intelejen, dan memang itu tugas mereka.

AM Hendropriyono meminta wewenang lebih besar menangani terorisme. Jika wewenangnya disalahgunakan iapun siap mati. Tak lama sejak itu TNI-AD mengumumkan dibentuknya desk antiteror. Ternyata, katanya,  UU tentang TNI mengamanatkan  masalah terorisme kepada TNI.  Dan berlangsunglah drama pengepungan Temanggung.

Hmm, Ternyata bangsa ini masih bingung, tentara mau apa, intel mau apa, polisi mau apa. Mungkin saja kita lebih baik memilih BIN, terbukti Munir bisa terbunuh tanpa terungkap arti telepon yang dilakukan pembunuhnya ke kantor BIN. Mugkin saja kita lebih baik mendukung tentara, tapi ketika mereka berbicara penanganan terorisme mereka hanya pamer “simulasi pembajakan.”

Yah, lihatlah Den 88 yang susah payah menangkap teroris kelas teri di Cilacap dan  malah kecolongan di Jakarta dalam seminggu. Tak perlu lagi bingung, percaya saja ke kepolisian.

Teroris menyebalkan, mereka memberi alasan bagi mliter utuk memperoeh kekuasaan lebih bagi hidup kita.

Halaman Berikutnya »