Ternyata hingga setahun bersama dengan Tango biru tidak memperbaiki emosi saya. Setelah bisa bersepeda dengan kecepatan normal di dalam kota emosi saya masih bisa naik. Rasa sebal terhadap bis-bis wisata yang mengklakson seenaknya (whose city is this?) menyebabkan padatnya lalu lintas di jalanan kota cukup menggiurkan untuk memacu pedal. Kupaculah pedal, sepanjang jalan UIN-Galleria engan gaya zig-zag kanan-kiri ngelewatin mobil-mobil. (boys and girls never do that, please?)

Huff, buka internet lagi. Baca lagi bikesnobnyc. Emang luar biasa gaya tulisan satir-sinis Amerika. (lagi…)

Menanti impian, merakit sepeda baru. Di rumah sudah berdiam dominate hitam, seatpost hitam, dan XCM V2 putih…

Masih menunggu untuk membeli drivetrain (singlespeed atau 9 speed?), brakeset (mau-gak mau harus cakram), stem, dan dropbar….

Kapan si bastard ini jadi yah?

So long and thanks for all the fish
So sad that it should come to this
we tried to warn you all but oh dear..

You may not share our interest
which might explain your disrespect
for all the natural wonder that grows around you…

The world is about to be destroyed
There’s no point getting all annoyed
Lie back and let the planet dissolve

Entah kenapa ingin menyanyikan lagu ini. Lagu dari The Hitchhiker’s Guide to the Galaxy ini emang nyentil banget. Benarkah kita makhluk-Nya yang paling sempurna? Sebagai makhluk-Nya kita selalu berusaha mengontrol semuanya. Master it all! Ada spesies yang enak dimakan? Ternakkan! Ada spesies yang berbahaya, singkirkan! Ada spesies yang terancam punah? Selamatkan! Padahal peringatan tentang kiamat justru mengisyaratkan bahwa kita terlalu tidak berdaya untuk mencegah kepunahan(=kiamat) spesies lain maupun spesies kita sendiri.

Jadi? Mau bersenang-senang saja menikmati sisa usia bumi? Berusaha menyelamatkan yang ada? Atau mau tenggelam dalam depresi eksistensialis?

Ada tiga hal yang saya temui di 9 April lalu. Pilihan saya untuk memberi suara abstain[i] dalam pemilihan rupanya tidak diterima oleh beberapa orang. Mulai dari sms-sms dari akhwat-akhwat agar saya memilih (hampir saja iman saya runtuh). Kedua adalah dikira pengikut Gus Durr. Dan terakhir adalah pandangan tidak sedap dari orangtua. Mau bahasannya? (lagi…)

Halaman Berikutnya »