Ternyata hingga setahun bersama dengan Tango biru tidak memperbaiki emosi saya. Setelah bisa bersepeda dengan kecepatan normal di dalam kota emosi saya masih bisa naik. Rasa sebal terhadap bis-bis wisata yang mengklakson seenaknya (whose city is this?) menyebabkan padatnya lalu lintas di jalanan kota cukup menggiurkan untuk memacu pedal. Kupaculah pedal, sepanjang jalan UIN-Galleria engan gaya zig-zag kanan-kiri ngelewatin mobil-mobil. (boys and girls never do that, please?)
Huff, buka internet lagi. Baca lagi bikesnobnyc. Emang luar biasa gaya tulisan satir-sinis Amerika. (lagi…)

